Warga Canggu di Bali Protes Musik Kencang di Bar dan Kelab, Jokowi Sampai Turun Tangan

24
tempat wisata Canggu
Salah satu spot di tempat wisata Canggu, Bali. (Sumber: Instagram @atjenshouse)

Jakarta, SirOnline.id – Akhir-akhir ini daerah Canggu sebuah desa di kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali jadi obrolan di media sosial. Hal ini lantaran muncul sebuah petisi bertajuk ”Basmi Polusi Suara di Canggu” yang dibuat di situs Change.org oleh P. Dian. Ia mengeluhkan musik keras dan kegiatan pesta yang berlangsung hingga dini hari di kawasan Batu Bolong dan Berawa.

Buntut dari petisi ini, dibuat kesepakatan, waktu operasional bar, restoran, dan kelab hanya sampai pukul 01.00 WITA. Kesepakatan lainnya adalah tingkat kebisingan suara atau sound system di bar atau kelab maksimal 70 desibel.

Dilansir dari Detik, Sabtu, (24/9) kesepakatan ini datang dari Menparekraf Sandiaga Uno yang mengatakan Presiden Joko Widodo menaruh perhatian mengenai kondisi Canggu yang berisik itu. Apalagi, Bali menjadi tuan rumah Presidensi G20 dalam waktu dekat serta menjadi tempat penyelenggaraan rangkaian event internasional seperti World Tourism Day, World Conference on Creative Economy, dan lainnya.

Dalam temu wartawan mingguan di kantornya, Senin (19/9) lalu, Sandiaga menjelaskan bahwa masalah itu sudah selesai dengan kearifan lokal. Semua pihak digandeng agar aspirasi dapat ditampung semua.

tempat wisata Canggu
(Sumber: Instagram @atjenshouse)

Lalu bagaimana tanggapan sebagian warga Canggu terkait hal ini? Kepada detik sebagian warga Canggu memang amat terganggu dengan musik kencang dari restoran, bar, dan kelab. Tetapi, budaya baru itu tidak bisa ditolak karena menjadi sumber uang.

“Nggak masalah (bising). Ikut arus saja. Kalau dulu sepi ya kantong juga ikut sepi,” kata seorang pemilik warung yang lokasinya tepat di seberang beach club.

“Musik keras itu iya mengganggu. Tapi, sekarang memang sudah ramai. Lebih baik begini, dibandingkan dulu pandemi sepi,” ujar petugas parkir Pantai Berawa yang juga merupakan anggota Linmas Desa Berawa.

Hal yang sama diungkapkan anggota Linmas di Desa Canggu bernama Nyoman. Ia bahkan secara gamblang mengatakan pembubaran turis sebelum pukul 01.00 WITA sulit dilakukan. Sebabnya, mereka kadung cinta pada Canggu dan merasa nyaman berwisata di sana, termasuk menikmati musik hingga pagi.

“Kita baru mulai ada tamu. Kalau sebelum pandemi di sini bisa sampai jam 4 pagi. Kalau kita ketat begitu (jam 1 tutup) mereka akan pindah dari sini,” kata Nyoman.

Menurutnya sejak dulu bar-bar yang memutar musik kencang itu sudah ada. Warga juga tidak protes seperti sekarang.

Baca: Pertama dalam Sejarah Masyarakat Lebih Banyak Nonton Film Lokal daripada Film Barat

“Kebanyakan yang protes itu pemilik homestay. Itu bapak-bapak berduit dari Jakarta. Kalau masyarakat Canggu sudah biasa, dari dulu tidak ada masalah,” ujarnya.

Canggu mulai terkenal setelah dibukanya Deus ex Machina. Sejak itu Canggu dianggap sebagai Kuta baru di Bali. Pantainya membentang antara Kerobokan dan Pantai Echo Beach yang sejuk penuh dengan bar tepi pantai yang berwarna-warni, ombak selancar, kafe makanan lengkap, hipsters, dan juga fasilitas lainnya. (rr)