Zat Besi Butuh Vitamin C Agar Bisa Maksimal Diserap Tubuh

314
Arif Mujahidin; dr. Juwalita Surapsari, Sp.GK, M.Gizi; dan Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK

 

Hari Gizi Nasional diperingati setiap tanggal 25 Januari. Tahun 2024 diperingati sebagai Hari Gizi ke-64, tetapi sebetulnya Founding Father sudah peduli akan gizi rakyat sejak masa awal kemerdekaan Indonesia. Sedemikian pentingnya gizi, sampai-sampai sudah didirikan lembaga yang mengurusi masalah gizi di masa awal kemerdekaan Indonesia.

“Tahun 1951 berdiri Lembaga Makanan Rakyat (LMR) diketuai oleh Prof. Poorwo Soedarmo, yang kemudian dikenal sebagai Bapak Gizi Indonesia. Tujuan pembentukan LMR adalah untuk meningkatkan status gizi sekaligus derajat kesehatan masyarakat Indonesia, terutama pasca-perang kemerdekaan, yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Sarihusada. Namun, hingga kini Indonesia masih mengalami permasalahan gizi yang harus segera dituntaskan, satu di antaranya adalah mengejar target stunting menjadi 14% tahun ini,” kata Arif Mujahidin, Corporate Communication Director Sarihusada, dalam temu media bertema “Pentingnya Nutrisi yang Tepat untuk Tumbuh Kembang Maksimal Anak” yang digelar Kamis (25/1/2024).

Setiap tahun estimasi net growth penduduk Indonesia mencapai hampir empat juta jiwa. Pemenuhan gizi seimbang pada anak yang akan menentukan terwujudnya Generasi Emas 2045. Dalam kesempatan yang sama, dr. Juwalita Surapsari, Sp.GK, M.Gizi, menyebut bahwa berdasar Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, 1 dari 3 anak usia 0-59 bulan mengalami anemia; 17,7% balita mengalami gizi buruk dan gizi kurang; sedangkan 30,8% balita sangat pendek dan pendek. Indonesia bahkan masuk dalam 5 negara dengan prevalensi anemia tertinggi di Asia Tenggara.

“Padahal, anemia defisiensi besi merupakan faktor risiko stunting. Untuk menurunkan angka stunting anak-anak Indonesia harus bebas dari anemia. Protein hewani seperti susu telur, ayam, daging sapi dan susu pertumbuhan yang diperkaya tinggi zat besi bisa mencegah anemia,” kata ahli gizi dari RS Pondok Indah, Jakarta itu.

Tubuh membutuhkan zat besi untuk membentuk senyawa heme dalam hemoglobin. “Hemoglobin mengangkut oksigen ke seluruh tubuh agar sel tubuh dapat berfungsi optimal dalam memetabolisme energi sehingga anak aktif bereksplorasi dan siap belajar. Zat besi berperan sebagai kofaktor berbagai enzim yang terlibat dalam pembentukan mielin (selubung) saraf dan neurotransmitter sehingga penyampaian informasi di otak menjadi lancar yang bisa memengaruhi perilaku, proses belajar, dan memori. Kebutuhan zat besi harian sesuai usia: 6-11 bulan 11mg; 1-3 tahun 7mg; 4-6 tahun 10mg.”

Dijelaskan, zat besi memiliki mekanisme tertentu agar mudah diserap di usus. “Zat besi dalam makanan terdapat dalam dua bentuk, yakni heme dan non-heme. Besi heme terdapat dalam produk hewani seperti daging sapi, hati, ikan, unggas yang lebih mudah diserap. Sebaliknya, besi non-heme terdapat dalam produk nabati berbentuk Fe3+ dan harus diubah terlebih dahulu menjadi Fe2+ sebelum diserap. Vitamin C (asam askorbat) berperan dalam perubahan bentuk tersebut agar bisa diserap di usus,” ujarnya.

Enhancer dan Inhibitor

Kondisi anemia potensial berpengaruh pada sepanjang daur kehidupan, anak dan remaja yang anemia akan melahirkan anak yang juga anemia. “Pastikan anak mengonsumsi menu gizi seimbang yang mengandung protein hewani yang kaya zat besi dan susu. Minum susu pertumbuhan setiap hari (300 ml) mendukung percegahan stunting. Cermati label makanan karena tidak semua susu itu sama. Susu pertumbuhan diperkaya zat besi, vitamin C, DHA, dan minyak ikan untuk mengoptimalkan asupan nutrisi anak sesuai tahap perkembangan. Susu pertumbuhan yang mengandung zat besi dikombinasi dengan vitamin C mendukung penyerapan zat besi hingga dua kali lipat.”

Sementara itu, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, Medical & Scientific Affairs Director Sarihusada, mengatakan bahwa kesehatan anak Indonesia perlu menjadi perhatian serius semua pihak. “Tahun lalu kami meluncurkan insiatif kampanye edukasi ‘Bersama Cegah Anemia, Optimalkan Kognitif Generasi Maju’ melalui platform digital. Jika tidak ditangani dengan tepat, permasalahan kesehatan gizi berpotensi mengganggu kesehatan fisik dan aspek kognitif anak hingga dewasa,” katanya.

Selain pola makan, pencegahan stunting sebaiknya mengedepankan pola asuh dan sanitasi. Di bagian akhir, dr. Juwalita menambahkan tips memenuhi kebutuhan zat besi dengan KMS: Ketahui angka kebutuhan zat besi harian; Menyediakan bahan makanan sumber zat gizi; Sertai dengan faktor enhancer dan hindari faktor inhibitor. Vitamin C merupakan enhancer yang bisa meningkatkan penyerapan zat besi, faktor inhibitor sebaliknya. “Fitat pada biji sereal dan polong-polongan dan polifenol dalam teh, kopi, dan cokelat merupakan kelompok faktor inhibitor yang bisa menghambat penyerapan zat besi,” katanya menutup perbincangan. (est)