Parosmia, Pesan Salah dari Otak Soal Bau

162
dr. Deasi Anggraini, Sp.THT-KL(K)

 

Hilangnya kemampuan mencium aroma atau anosmia merupakan salah satu gejala awal yang ditemui pada pasien Covid-19, selain demam atau batuk. Namun, belakangan ini ramai diberitakan gejala baru berupa parosmia, yakni kondisi yang membuat pasien mencium aroma tidak sedap sehingga merasa terganggu. Pasien seperti menghidu belerang atau benda terbakar meski tidak ada barang berbau tersebut di sekitarnya.

Parosmia dikatakan sebagai gejala panjang Covid-19, kondisi ini dapat berlanjut selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan meski pasien sudah sembuh. Virus SARS-CoV-2 yang masuk ke tubuh kemungkinan “mengganggu” saraf yang mengontrol indra penciuman atau neurotransmiter yang kemudian mengirim pesan yang salah ke otak. Benarkah?

“Sepanjang pengalaman kami, selama ini pasien-pasien lebih ke anosmia dan hiposmia (berkurangnya kemampuan menghidu-Red). Untuk parosmia jarang sekali,” kata dr. Deasi Anggraini, Sp.THT-KL(K), spesialis telinga, hidung, tengorok dari RSUP Persahabatan, Jakarta, kepada Independent Observer, Selasa (5/1/2020).

Berkurangnya atau hilangnya kemampuan untuk mencium bau terkait Covid-19 bersifat mendadak atau sudden, berbeda dengan sinusitis atau polip yang bisa hilang timbul atau terus-menerus. “Jadi kalau sebelumnya tidak ada riwayat sinusitis atau polip dan kemudian kehilangan daya penciuman secara mendadak, harus dicurigai terinfeksi Covid-19. Sebaiknya lakukan pemeriksaan swab PCR untuk memastikan. Namun, bila karena sesuatu alasan tidak bisa menjalani swab PCR, segera isolasi mandiri untuk mencegah penularan atau transmisi virus ke orang lain,” ungkapnya.

Dalam kasus SARS-CoV-2, mekanismenya adalah virus masuk dan menempel pada reseptor ACE2 yang ada di selaput lendir hidung. “Kemudian virus menyebabkan peradangan (inflamasi) di selaput lendir hidung olfactory yang berlokasi di atap hidung. Karena SARS-CoV-2 memiliki sifat neuroinvasi akhirnya menyebabkan peradangan dan kerusakan pada saraf penciuman nervus olfactory,” ujar dokter cantik ini.

Indra penciuman bersifat proteksi, dan kondisi anosmia potensial menurunkan kualitas hidup karena membuat penderitanya tidak bisa mengidentifikasi bau, baik yang membahayakan jiwa, seperti bau gas bocor, ataupun wangi yang menenangkan dan membuat rileks. Dari data, perempuan yang mengalami anosmia, 25 persen mengalami depresi. Lalu, apakah indra penciuman akan kembali normal?

“Tergantung pada derajat kerusakan, apakah virus penyebab Covid-19 merusak sistem saraf atau tidak. Bila hanya meradang, bisa kembali normal setelah beberapa waktu. Dokter biasanya akan memberikan obat cuci hidung dan steroid intranasal. Selain itu, pasien disarankan untuk menjalani olfactory training therapy,” jawabnya.

Meski demikian, dirinya menekankan paling baik adalah berusaha tidak terpapar virus SARS-CoV-2 karena pandemi belum berakhir. “Masih banyak anggota masyarakat yang menganggap Covid-19 hoax sehingga enggan memakai menerapkan protocol kesehatan 3M, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak aman. Dibutuhkan edukasi yang lebih intens untuk meningkatkan pemahaman masyarakat bahwa Covid-19 belum berakhir dan masih berbahaya agar angka kasus dapat ditekan secara optimal.” (est)