BPS: Defisit Perdagangan Indonesia dengan China Melesat hingga US$11,05 Miliar

18

sironline.id, Jakarta – Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat dari Januari hingga Juli 2019, defisit perdagangan nonmigas Indonesia dengan China mencapai US$11,05 miliar. Angka ini meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar US$10,33 miliar. Impor nonmigas dari China Rp24,73 miliar atau 29,08 persen dari total impor Indonesia, namun ekspor Indonesia ke China hanya US$13,68 miliar atau 15,53 persen dari total ekspor.

Menurut Kepala BPS Suhariyanto pemerintah dan pihak terkait perlu mewaspadai perlambatan ekonomi di negara tujuan dan membenahi masalah internal karena defisit perdagangan Indonesia dengan China lebih dalam pada Januari-Juli 2019.  “Ini membuktikan bahwa ekspor kita tetap ada, tapi pertumbuhan impornya lebih tinggi dengan komoditas-komoditas (China),” ujar Suhariyanto, Kamis (15/8).

Selain dengan China, Indonesia juga mengalami defisit perdagangan dengan Thailand US$2,2 miliar. Angka itu lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu US$2,9 miliar.  Tak hanya itu, defisit juga terjadi pada perdagangan Indonesia dan Australia sebesar US$1,4 miliar, dari periode yang sama 2018 US$1,6 miliar.

Per Juli 2019 neraca perdagangan Indonesia terhadap China defisit US$1,8 miliar. Angka itu lebih rendah dari defisit bulan yang sama tahun sebelumnya, yakni mencapai US$2,07 miliar.  Meski defisit menurun pada Juli, namun akumulasi defisit sampai saat ini tetap membengkak karena aktivitas perdagangan di awal tahun. Tercatat, defisit kuartal I 2019 mencapai US$5,18 miliar atau jauh lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu US$3,82 miliar.

Suhariyanto menilai hasil perundingan antara AS dan China akan mengganggu volume dan nilai perdagangan internasional, meskipun ia tak dapat menjelaskan lebih rinci tantangan yang dimaksud.  “Kami perlu identifikasi komoditas antara AS-China, tapi kalau dilihat ekspor kita ke AS dan China masih bagus, meskipun impor dari China bulan ini agak naik tinggi,”tambahnya. (eka)