More

    Akses Terapi Wicara bagi Pasien Sumbing di RS Dr. Suyoto

    BACA JUGA

     

    Jakarta, 10 November 2020 – Smile Train Indonesia, organisasi nirlaba internasional, mengumumkan kerja sama dengan Pusat Rehabilitasi Kementerian Pertahanan RI dan Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Indonesia (PERAPI) untuk meluncurkan program terapi wicara bagi pasien celah bibir dan/atau langit-langit yang sudah dioperasi. Terapi wicara merupakan salah satu dari serangkaian perawatan komprehensif yang disediakan oleh Smile Train untuk meningkatkan kualitas hidup pasien pascaoperasi.

    Kolaborasi yang diumumkan pada acara Bakti Sosial Operasi Gratis Sumbing Bibir dan Sumbing Langit-Langit dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2020 di RS Dr. Suyoto Pusat Rehabilitasi Kemhan RI ini dihadiri dan disaksikan langsung oleh Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Pertahanan RI Ny. Ernawati Trenggono, didampingi Ketua DWP Kemhan RI Ny. Yayuk Donny Ermawan. Kehadiran Ibu Penasihat DWP Kemhan dan Ketua DWP Kemhan yang menyambut dengan sangat baik kegiatan sosial kemanusiaan ini juga untuk membuka akses Terapi Wicara bagi pasien celah bibir dan/atau sumbing di Indonesia khususnya bagi masyarakat kurang mampu.

    “Kami sangat antusias dapat berkolaborasi dengan Smile Train Indonesia untuk mendukung program perawatan komprehensif bagi pasien celah bibir dan/atau langit-langit. Apalagi Pusrehab Kemhan memiliki fasilitas Rumah Sakit Dr Suyoto yang memiliki layanan unggulan bidang rehabilitasi medik. Kami sadar bahwa masih banyak anak di seluruh penjuru Indonesia yang belum bisa mendapatkan akses ke perawatan komprehensif pascaoperasi. Oleh sebab itu, melalui kolaborasi dengan Smile Train Indonesia, kami berharap Pusat Rehabilitasi Kementerian Pertahanan ini dapat menjadi akses bagi para pasien dan dapat lebih luas menjangkau pasien yang membutuhkan perawatan komprehensif, tidak hanya di sekitar Jakarta, tetapi di seluruh Indonesia,” jelas Kapusrehab Kemhan RI Brigjen dr. Budiman, SpBP-RE, MARS, yang juga sebagai Ketua Umum Perhimpunan Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Indonesia.

    Di Indonesia, banyak anak terlahir dengan kelainan celah bibir dan/atau langit-langit. Kondisi tersebut dapat membawa berbagai dampak pada kualitas hidup anak serta berbagai masalah kesehatan seperti kesulitan makan, bernapas, dan mengembangkan kemampuan berbicara secara normal.

    “Seperti anak-anak pada umumnya, anak-anak yang lahir dengan celah bibir dan/atau langit-langit belajar berbicara dari hari pertama sejak mereka dilahirkan dan mengeluarkan suara-suara sebagaimana bayi terlahir tanpa kondisi celah bibir dan/atau langit-langit. Namun, ke depannya perkembangan kemampuan berbicara  ini dapat terhambat karena mereka tidak dapat menggunakan bagian-bagian rongga mulut untuk berbicara dengan normal. Hal ini dapat menyebabkan hambatan komunikasi seperti keterbelakangan berbicara, masalah artikulasi, hypernasality, dan berbagai masalah lainnya,” ungkap Kol.Kes dr. Budi Satriyo Utomo, SpKFR,MARS, Kabid Rehab Medik Pusrehab Kemhan RI mewakili tim rehabilitasi medik RS Dr. Suyoto Pusrehab.

    Anak-anak yang lahir dengan celah bibir dan/atau langit-langit kemungkinan mengalami kesulitan mengembangkan kemampuan berbicara secara normal. Prosedur operasi untuk menutup celah bibir dan/atau langit-langit biasanya dapat menyelesaikan masalah kemampuan berbicara secara fisiologis. Namun, untuk sebagian anak, dibutuhkan perawatan lebih lanjut, yakni terapi wicara, untuk dapat mengembangkan kemampuan berbicara secara normal.

    Terapi wicara disarankan diberikan kepada pasien untuk membantu meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan membangun rasa percaya diri pascaoperasi. Terapi wicara dapat dilakukan setidaknya dua minggu setelah operasi apabila pasien dinyatakan sehat, mampu mengikuti rangkaian terapi, dan mendapatkan persetujuan dari dokter terkait. Biasanya terapi wicara dibantu oleh seorang terapis wicara yang bertujuan untuk membantu anak mencapai tingkat kemampuan berbicara dan berkomunikasi yang lazim sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan mereka.

    Smile Train Indonesia telah beroperasi sejak  2002 dan telah membantu lebih dari 90.000 anak di Indonesia. Tidak hanya operasi gratis, Smile Train juga bekerja sama dengan ratusan rumah sakit dan tenaga medis profesional di berbagai daerah di Indonesia untuk menghadirkan perawatan celah komprehensif yang aman, berkualitas dan konsisten, yang salah satunya adalah perawatan terapi wicara.

    Deasy Larasati, Program Director dan Country Manager Smile Train Indonesia menyampaikan, “Smile Train berkomitmen tidak hanya untuk memberikan akses ke operasi gratis celah bibir dan/atau langit- langit, tetapi juga untuk memberdayakan tenaga medis mitra kami, serta memberikan perawat komprehensif sebelum, saat, dan sesudah operasi. Kami ingin lebih banyak masyarakat sadar bahwa operasi celah bibir dan/atau langit-langit pada anak hanyalah awal dari lebih banyak langkah lagi bagi anak untuk mencapai kualitas hidup pascaoperasi yang lebih baik.”

    RS Dr. Suyoto Pusrehab Kemhan siap menjadi salah satu mitra Smile Train dan PERAPI dalam melaksanakan Pelayanan komprehensif terhadap pasien sumbing bibir dan sumbing langit-langit dalam bentuk pelayanan operasi secara gratis serta menjadi pusat rujukan rehabilitasi khususnya untuk program speech therapy gratis untuk pasien pascaoperasi sumbing langit-langit,” kata Kepala Rumah Sakit Dr Suyoto Pusrehab Kemhan, Kolonel Ckm dr. Daniel, Sp.Rad. (est)

     

     

    BERITA TERBARU

    Terinspirasi dari Alam, Seniman US Gelar Pameran Lukisan di Bali

    Jakarta, SirOnline.id - Seniman asal Amerika Serikat, Rom Yaari memukau khalayak melalui pemeran lukisannya yang terinspirasi dari alam. Mengusung tema...

    POPULER

    BERITA PILIHAN