Tingkat Kemiskinan di Indonesia Menurun

21

sironline.id, Jakarta – Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2019 mencapai 24,79 juta orang. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk miskin per September 2019 menurun 0,36 juta orang dibandingkan Maret 2019. Jumlah penduduk pada September 2019 menurun   0,88 juta orang dibandingkan September 2018. “Persentase penduduk miskin pada September 2019 sebesar 9,22 persen. Kalau dibandingkan Maret 2019 turun 0,19 poin,” jelas Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers, Rabu (15/1).

Namun disparitas kemiskinan antar desa dan kota masih tinggi, terlihat dari persentase kemiskinan kota sebesar 6,56 persen dan persentase penduduk miskin pedesaan mencapai 12,6 persen. “Masih perlu upaya lebih keras untuk menurunkan kemiskinan di pedesaan yang mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian,” tambahnya.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan persentase tingkat kemiskinan Indonesia pada September 2019. Pertama, perubahan rata-rata upah buruh per hari. Pada September 2019 rata-rata upah buruh tani per hari naik 1,02 persen dibandingkan Maret 2019 menjadi Rp54.424 per hari. Upah nominal buruh bangunan per hari juga naik 0,49 persen menjadi Rp89.072.

Kedua, kenaikan nilai tukar petani (NTP) selama kuartal III 2019 yang selalu berada di atas 100 dengan tren meningkat. NTP Juli 2019 tercatat 102,63, Agustus 2019 sebesar 103,22 dan September 2019 tercatat 103,88.

Ketiga, angka inflasi yang rendah. Selama periode Maret 2019-September 2019 nilai inflasi sebesar 1,84 persen.

Keempat, harga eceran beberapa komoditas pokok merosot. Pada Maret-September 2019, harga komoditas yang turun di antaranya beras (turun 1,75 persen), daging ayam ras (turun 2,07 persen), minyak goreng (turun 1,59 persen), telur ayam ras (turun 0,12 persen), dan ikan kembung (turun 0,03 persen).

Kelima, rata-rata pengeluaran per kapita 10 persen penduduk terbawah pada Maret-September 2019 naik 4,01 persen atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan garis kemiskinan 3,6 persen.

Keenam, pelaksanaan program Bantuan Pangan Nontunai (BPNT) yang semakin gencar. Jumlah kabupaten/kota penerima program BPNT hingga kuartal III 2019 mencapai 509 kabupaten/kota, lebih banyak dibandingkan kuartal I sebesar 289 kabupaten/kota.

Pada September 2019, garis kemiskinan nasional tercatat Rp440.538 per kapita atau Rp2.017.64 per rumah tangga miskin. Peran komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan komoditi non makanan yaitu 73,75 persen. “Untuk itu, pemerintah perlu menjaga harga bahan pangan agar tidak terlalu berfluktuasi, terutama beras, rokok kretek filter, dan telur ayam ras. Sekali ada gejolak harga, misalnya beras, atau barang komoditas yang sering dikonsumsi penduduk miskin maka garis kemiskinan akan semakin tinggi,” jelasnya. (eka)