Angkie Yudistia : Memberdayakan Penyandang Disabilitas untuk Mandiri Secara Ekonomi

152

sironline.id, Jakarta – Dari pengalaman pribadinya sebagai perempuan berkebutuhan khusus, Angkie Yudistia  terinspirasi mendirikan Thisable Enterpise untuk memberikan akses bagi para difabel dalam mendapatkan pekerjaan serta memberikan kegiatan pemberdayaan. “Saya sebagai perempuan berkebutuhan khusus harus memakai alat bantu dengar. Untuk hidup mandiri itu hal yang mustahil zaman dulu. Setelah lulus S2 untuk masuk ke level perusahaan susah,” jelas perempuan cantik yang hobi menulis.

Lulusan S1 komunikasi advertising di London School of Public Relation dan S2 Marketing Komunikasi melihat jumlah disabilitas pengangguran di Indonesia semakin tahun semakin meningkat. Perempuan kelahiran 5 Juni 1087 yang pernah bekerja di perusahaan multinasional ini tergerak berbuat sesuatu untuk membantu para penyandang disabilitas memperoleh pekerjaan. Di awal tahun 2011, Angkie membuka learning center di Thisabel Enterprise untuk meng-up grade pengetahuan para penyandang disabilitas. Ia juga menanamkan awareness ke publik bahwa disabilitas ada di lingkungan sekitar kita.

Dari tahun 2011 hingga saat ini di learning center Thisabel Enterprise sudah lebih dari 5 ribu orang penyandang disabilitas yang bergabung untuk ditingkatkan pengetahuannya. Angkie pun menghadapi tantangan ketika menempatkan para difabel di perusahaan-perusahaan lebih sulit, baik itu dari awareness  masyarakat maupun pengetahuan dari para disabilitasnya. Akhirnya di tahun ke- 5 tepatnya pada 2016 Angkie melakukan ekspansi untuk menempatkan difabel bekerja di ranah profesional di bawah PT Berkarya Menembus Batas. Saat melakukan assessment para difabel di Jabodetabek, ternyata 60 persen usia produktif berbakat di informal dan 40% di dunia profesional terutama bagi difabel lulusan S1.

“Kemampuan dari penyandang disabilitas sebenarnya bisa dikembangkan jika berada di posisi yang tepat. Dari database kita para difabel yang sudah di-assessment sebanyak 1.500 assessment awal, dan dari 1.500 orang itu 60% usia produktif di informal dan 40% di profesional sesuai industri yang menerima penyandang disabilitas. Dari 1.500 difabel yang sudah bekerja hampir 400 orang,” terang Angkie.

Menurut Angkie, teman-teman disabilitas juga diikutsertakan dalam uji kompetensi. Para difabel sudah menempuh pendidikan di sekolah dan mendapat pengetahuan dari berbagai seminar. Di Thisabel Enterprise, mereka diberikan up grade atau pengembangan sesuai kebutuhan industri. “Contohnya untuk pekerjaan informal kita melakukan bisnis partner dengan Gojek, untuk memberdayakan disabilitas tuna rungu, tuna daksa dan tuna netra. Seperti tunanetra ditempatkan di go massage, tuna rungu di go clean  atau go glam,” tambah penulis buku Setinggi langit.

Penyandang disabilitas bergabung dengan proses rekrutmen sesuai standarisasi yaitu bisa membaca, usia produktif, bisa memakai HP android dan memiliki skill. Mereka diberikan up grade skill dengan training berdasarkan Standard Operating Procedur (SOP). Seiring berkembangnya industri juga harus diikuti. Para penyandang disabilitas yang disalurkan ke dunia profesional antara lain telemarketing, sosial media admin perbankan dan akan dikembangkan ke industri-industri lain. Saat ini penyandang disabilitas yang bergabung di Thisabel Enterprise  paling banyak bekerja di informal, dan di bidang profesional belum banyak.

Aktivitas Thisabel Enterprise saat ini meliputi rekrutment, training, placement. Training dan rekrutmen para difabel rutin tiap bulan bahkan banyak difabel yang antri. Para trainer dari associate dan siapapun bisa menjadi trainer, tetapi kuncinya harus sabar sekali. “Trainer harus menurunkan standar tata bahasa supaya teman-teman penyandang disabilitas bisa mengerti. Untuk teman-teman tuna rungu kita siapkan penterjemah bahasa isyarat. Training bisa berlangsung sehari, dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore supaya teman- teman disabilitas benar-benar paham,” tegas Angkie.

Saat ini banyak para difabel berasal dari segmen menengah dan paling banyak yang mendaftar untuk pekerjaan informal atau skill dengan tangan seperti cuci mobil atau massage dengan Pendidikan lulusan SD, SMP dan SMA. Lain halnya dengan pekerjaan profesional dibutuhkan lulusan minimal D3 dan S1.

Angkie merasakan tantangan awal mendirikan Thisabel Enterprise adalah persepsi masyarakat dan persepsi perusahaan. “Kita bisa bertahan 7 tahun lebih karena memang banyak difabel yang membutuhkan. Namun tantangannya adalah bagaimana membuat korporat percaya untuk menerima disabilitas di ranah tenaga kerja,” tambahnya.

Kesuksesan Angkie mengembangkan Thisabel Enterpise tak lepas dari pengalaman saat bekerja di perusahaan multinasional. Terbentuk mindset-nya secara manajerial dan dari pengalaman bekerja itu membuatnya bisa mengembangkan perusahaan sendiri dengan benar-benar mengikuti sistem.

Saat ini para difabel yang bergabung banyak berasal dari Jabodetabek, dan saat ini Angkie sedang melakukan ekspansi ke daerah-daerah melihat kebutuhan dan keinginan disabilitas untuk bekerja di daerah-daerah, seperti di Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya dan Bali. “Syarat penyandang disabilitas yang bergabung adalah siap bekerja, bisa membaca, usia produktif, dan mampu menerima tekanan,” ujar Angkie.

Kepuasan dirasakan Angkie melihat para penyandang disabilitas bisa mandiri secara ekonomi. Dengan begitu derajat hidup dan derajat ekonominya naik dan tidak bergantung pada siapapun.  Setelah derajat ekonomi naik akan membuat mereka lebih percaya diri. “Sangat mengharukan ketika teman-teman difabel di Thisable saat datang dalam keadaan menganggur dan bingung mau apa, lalu kita kembangkan skill-nya, kemudian mereka bekerja secara konsisten. Beberapa waktu kemudian mereka mengirim undangan pernikahan. Itu membuat saya terharu, bahwa mereka bisa bertanggung jawab dengan diri sendiri untuk membangun keluarga, yang artinya derajat ekonominya sudah mulai naik,” papar Angkie tersenyum.

Target ke depan Angkie ingin terus mengembangkan ekspansi ke daeah, supaya semua berjalan sesuai system. Setiap daerah memiliki karakter masing-masing sehingga sistem disesuaikan dengan karakter tersebut. Ia pun ingin masyarakat bisa lebih memberikan kesempatan yang sama untuk para penyandang disabilitas. “Dan untuk penyandang disabilitas ini saatnya untuk menunjukkan karya dan kita bisa membentuk lingkungan yang inklusi dan equal,” tutupnya. (eka)