Imunoterapi Berperan Penting dalam Pengobatan Kanker Stadium Lanjut

175

 

Kanker merupakan penyakit kronis yang menjadi salah satu penyebab kematian jutaan penduduk di dunia. Pada 2018 terdapat 18,1 juta kasus baru kanker di dunia dengan angka kematian sebesar 9,6 juta. Di Indonesia, kanker merupakan penyebab kematian ke-2 penyakit tidak menular (PTM). Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi kanker di Indonesia menunjukkan adanya peningkatan dari 1,4 per 1.000 penduduk pada 2013 menjadi 1,8 per 1.000 penduduk pada 2018.

Di sisi lain, pengobatan kanker berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir, termasuk ditemukannya imunoterapi kanker yang telah membantu pasien di seluruh  dunia untuk meningkatkan harapan hidup. Sayangnya, di Indonesia pemahaman dan akses pasien terhadap imunoterapi kanker masih merupakan tantangan yang harus dipecahkan bersama-sama oleh semua pemangku kepentingan.

Lalu, siapkah Indonesia menyediakan akses pasien terhadap imunoterapi kanker untuk hasil pengobatan yang optimal? Karena harganya yang mahal, pengobatan ini belum di-cover oleh Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

DR. dr. Ikhwan Rinaldi, SpPD-KHOM

Kepada media di Jakarta, Kamis (25/7/2019), DR. dr. Ikhwan Rinaldi, Sp.PD-KHOM, M.Epid, FINASIM, FACP, dokter spesialis penyakit dalam dari RSUPN DR. Cipto Mangunkusumo, mengatakan, “Imunoterapi kanker merupakan suatu revolusi yang akan memainkan peran penting dalam pengobatan kanker paru. Atezolizumab adalah pilihan terapi baru membantu pasien hidup lebih lama dibandingkan dengan kemoterapi,” ujarnya.

Ditambahkan, untuk memperoleh terapi ini, pasien tidak perlu melakukan tes tambahan dan biopsi ulang sehingga memberikan kenyamanan lebih. Profil keamanan yang baik memberikan kesempatan bagi pasien untuk menjalani kehidupan yang lebih berkualitas bersama keluarga dan orang-orang terdekat. Selain untuk pasien kanker paru NSCLC dan UC stadium lanjut yang saat ini sudah mendapat persetujuan dari BPOM, semoga obat ini dapat  juga digunakan oleh pasien kanker jenis lainnya.”

Penelitian membuktikan bahwa atezolizumab dapat meningkatkan kualitas dan harapan hidup pasien. Memberikan rata-rata kesintasan (survival) hingga 13,8 bulan dan durasi respons yang panjang hingga 23,9 bulan pada pasien kanker paru NSCLC stadium lanjut yang tidak merespons pengobatan sebelumnya (lini kedua). Untuk pasien kanker kandung kemih stadium lanjut lini kedua, memberikan durasi respons yang panjang hingga 21,7 bulan.

Atezolizumab memiliki profil keamanan yang lebih baik dengan efek samping yang lebih terkontrol dibandingkan dengan pengobatan standar lainnya. Selain itu, mampu memberikan kenyamanan pada pasien NSCLC stadium lanjut lini kedua karena tes PD-L1 tidak diperlukan untuk menjalani terapi ini sehingga  pasien tidak perlu melakukan biopsi ulang. Atezolizumab terbukti  meningkatkan harapan hidup pada semua pasien NSCLC & UC stadium lanjut lini kedua tanpa memandang status PD-L1-nya.

Dalam kesempatan yang sama, DR. dr. Nina Kemala Sari, Sp.PD. K-Ger. MPH, Direktur Medik dan Keperawatan Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD), menyebut setiap tahun 348.809 kasus kanker baru, dengan 207.210 kematian. Besarnya angka kematian karena pasien baru datang berobat ketika dalam stadium lanjut, selain banyak di antara mereka masuk dalam kondisi denial akan penyakitnya sehingga memilih mencari opini kedua atau bahkan berobat herbal.

“Sebagai pusat kanker nasional, RSKD menyediakan layanan imunoterapi kanker berstandar global untuk pasien. Dengan semua manfaat yang ditawarkan atezolizumab, kami berharap obat ini dapat diakses oleh pasien di Indonesia. Untuk itu kami siap bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan kesiapan dokter ahli, pelayanan diagnostik, serta ketersediaan obat imunoterapi kanker agar pasien memperoleh manfaat yang optimal,” katanya. (Est)