Maya Miranda : Saya Berhak Melakukan Kebaikan

126

sironline.id, Jakarta – Memiliki bisnis yang menggurita, tidak membuat Maya Miranda Ambarsari abai pada sesamanya. Baginya di dalam hidup harus peduli pada kepentingan kaum papa. Lewat Rumah Belajar Miranda yang didirikannya, Maya rindu makin banyak anak-anak Indonesia yang bisa mengecap bangku pendidikan.

Sore itu kami menyambangi rumah Maya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Ia menyambut hangat kedatangan kami. “Silakan duduk, apa nih yang mau ditanya,“ ucapnya membuka pembicaraan.

Tahun 2015 Rumah Belajar Miranda didirikan. Semuanya berawal dari kegiatan ibunya yang mendirikan sebuah majelis taklim di rumah mewahnya. Terletak di bilangan Sawo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, majelis taklim yang bernama Ummul Choir tersebut didirikan untuk meningkatkan sumber daya ibu-ibu yang hidup pada kelas menengah ke bawah.

Namun, sejak pindah ke Pondok Indah, ia ingin rumah yang pernah ditinggalinya digunakan untuk lebih banyak kegiatan sosial.

“Saya pikir jangan hanya untuk pengajian. Apalagi melihat banyak anak-anak kecil hilir mudik. Saya takut mereka ditabrak mobil, atau terjadi kekerasan seksual. Mereka bisa jadi kriminal karena gak tau apa yang mereka lakukan. Saya sampaikan ke suami, bagaimana kalau kita bangun sekolah untuk anak-anak. Suami pun setuju,” ucap wanita yang hobi olahraga berenang, yoga dan zumba ini.

Selanjutnya rumah 3 lantai dirombak, mulai dari menutup kolam renang, hingga pagar rumah dihancurkan. Harapannya dengan tidak memiliki pagar, semua orang dengan mudah datang belajar.

Sejak saat itu, Rumah Belajar Miranda menjadi tempat dimana masyarakat dapat mengenyam ragam Pendidikan. Sebut saja Majelis Ta’lim Ummul Choir, Taman Pendidikan Al qur’an Ummul Choir, kursus mata pelajaran matematika, bahasa inggris, baca tulis  serta taman bacaan, media library dan TK Ar Radhia.

“Saya waktu awal berpikir kalau bisa anak-anak belajar sampai 50 orang sudah bagus. Kini 3 tahun, yang belajar mencapai 800 orang.  Guru yang ngajar ada 27 orang,” kata wanita yang lahir di Jakarta, 9 Juli 1973.

Ragam kegiatan di Rumah Belajar Miranda dibiayai sendiri oleh Maya dan sang suami, Reza. “Para guru dibayar profesional, mereka ada lulusan S1 dan S2. Saya ajarkan ke guru-guru untuk mengajar dengan rasa cinta,” ucap Maya yang menyelesaikan studi S1 di Fakultas Hukum, Universitas Pancasila, Jakarta.

“Saya carikan guru-guru yang mempunyai kualifikasi yang baik. Sebuah asrama pun sediakan untuk guru-gurunya yang belum menikah,” lanjutnya yang rutin sebulan sekali mengunjungi Rumah Belajar Miranda.

Kepedulian pada sesama merupakan nilai yang diajarkan orangtuanya. “Jadi saya diajarkan keluarga dengan berbagi. Karena dengan orangtua sejak kecil diajarkan hidup bersama orang lain. Jadi di rumah kami itu gak hanya kami keluarga inti tapi pasti ada keponakan, sepupu dan orang lain. Kamar juga kita share. Kalau saya seperti  ini sekarang, karena saya gak terbiasa menikmati ini sendiri. Kita merasa, feel bad. Misalnya di rumah ini, apa yang saya makan, sama di makan pekerja di rumah,” ucap wanita yang menyelesaikan studi S2, jurusan International Business dari Swinburne University of Technology, Melbourne, Australia.

“Kepada anak, saya ajarkan berbagi, tidak sombong. Kita harus baik sama orang, juga mahkluk Tuhan yang lain,” sambungnya.

Maya Miranda sendiri ditengah kesibukkan sebagai pengusaha, selalu mempunyai waktu untuk berkunjung ke Rumah Belajar Miranda ini, baik untuk menghadiri pengajian bulanan yang rutin di adakan di Rumah Belajar Miranda ini atau pun menyapa anak-anak dan ibu-ibu yang ada di Rumah Belajar Miranda ini.

Maya menggatakan berada di Rumah Belajar Miranda memberikan kepuasan bathin yang sangat dalam untuknya dan membuat ia selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan padanya

Di usia 45 tahun, Maya merasakan Tuhan telah memberikan segalanya. Ia merasa bahagia dengan hidupnya. Menurutnya bahagia itu diciptakan. Lalu kebahagiaan itu dibagi dengan orang lain. “Hidup saya sudah komplit. Kalau saya diberikan rejeki, bukan kewajiban, tapi saya berhak melakukan kebaikan,” ujarnya.

Baginya, perempuan hebat bukanlah dilihat dari karirnya, namun tahu bagaimana berperan dalam menjalani kehidupannya. Sebagai istri dan ibu ia pun tetap menjalankan tugasnya, sehingga selain sukses dalam karir, kegiatan sosial dan mengurus keluarganya dijalani Maya dengan senang hati.

Saat ini Maya memiliki mimpi yang ingin diwujudkannya.  ”Ingin membangun masjid yang di masjid itu dikitari anak-anak yang bisa belajar agama,” harapnya tersenyum. (dsy)