Penuhi Gizi Agar Anak Lahir dan Tumbuh Sehat

139
Ibu hamil perlu asupan mitronutrien agar bayi lahir sehat.

 

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi gizi anak di bawah lima tahun (balita) mencapai 30,8% untuk stunting dan 17,7% gizi buruk dan gizi kurang. Ironisnya, Indonesia menduduki peringkat ke-108 dari 132 negara dengan prevalensi stunting, yakni kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis terutama dalam seribu hari pertama kehidupannya.

Kekurangan gizi pada anak bisa akut dan kronis. Anak yang mengalami gizi akut akan terlihat lemak secara fisik. Anak yang mengalami kekurangan gizi dalam jangka waktu lama atau kronis, terutama yang terjadi sebelum usia dua tahun, akan terhambat pertumbuhan fisiknya. Anak stunting cenderung lebih kerdil dibandingkan dengan anak seusianya.

Lalu, kapan anak disebut stunting? Disebut stunting bila anak gagal mengikuti kurva pertumbuhan berdasarkan usia. Orangtua harus mulai curiga bila kurvanya terus mendatar selama dua hingga tiga bulan. Bayi usia di bawah satu tahun umumnya tumbuh minimal 1 cm, sedangkan berat badan naik 0,5 sampai 1 kg per bulan.

dr. Juwalita Surapsari, Sp.GK, M.Gizi

“Anak yang mengalami gagal tumbuh biasanya otaknya juga kerdil yang bisa diukur dari lingkar kepala. Dalam jangka pendek mengalami impaired brain development and lower IQ. Dalam jangka panjang bisa berakibat lost productivity healthcare cost serta greater risk of diabetes and cancer,” kata dr. Juwalita Surapsari, Sp.GK, M.Gizi, dalam seminar kesehatan yang diselenggarakan Gridhealth yang digelar di Jakarta, Jumat (14/2/2020).

Selain kondisi defisiensi kalori dan protein yang menyebabkan stunting dan gizi buruk/kurang, dua masalah gizi lain yang dihadapi Indonesia adalah defisiensi zat gizi makro dan kelebihan kalori. Defisiensi zat gizi makro mengakibatkan 48,9% ibu hamil mengalami anemia, sedangkan kelebihan kalori menyebabkan obesitas pada 8% balita dan 28,9% pada penduduk usia di atas 18 tahun.

Kembali ke persoalan stunting, “Anak stunting bisa dimulai dari masa dalam kandungan karena ibunya kekurangan energi dan anemia. Padahal, seratus hari pertama merupakan masa penting bagi tumbuh kembang anak. Yang harus dipahami, defisiensi zat gizi mikro merupakan kondisi intragenerasi yang bisa menyebabkan perdarahan parah saat ibu melahirkan dan anak stunting,” kata dr. Juwalita.

Ditambahkan, pemenuhan gizi yang baik sangat penting dimulai menjelang masa kehamilan sebagai investasi jangka panjang kesehatan anak. Stunting sesungguhnya dapat dicegah jika ibu memiliki asupan gizi yang baik. Selama hamil, ibu membutuhkan zat gizi makro dan protein untuk mendukung tinggi badan calon buah hati dan asupan kalori untuk berat badan, selain pertumbuhan otaknya.

Butuh Salmon dan Kuning Telur

Ibu hamil perlu energi dan protein lebih banyak daripada kondisi sebelum hamil. “Pada trimester pertama dibutuhkan tambahan 180 kalori, sedangkan trimester berikutnya hingga 300 kalori. Mikronutrien penting selama kehamilan adalah besi, asam folat, iodium, dan zinc. Ibu hamil harus mendapat asupan protein dari ikan, ayam, telur, daging. Jika diperlukan, bisa juga minum tablet tambah darah,” ujarnya.

Agar tumbuh sehat, setelah mendapat ASI eksklusif selama enam bulan, bayi perlu mendapat makanan pendamping ASI (MP-ASI). ASI bisa terus diberikan ditambah asupan protein yang kaya akan sumber zat besi, seng, dan vitamin D. “Paparan sinar matahari saja tidak cukup, berikan salmon atau kuning telur yang kaya akan vitamin D segera setelah usia bayi enam bulan,” katanya.

Hasil studi bertajuk Nutriplanet, Vera Galuh Sugijanto, Vice President General Secretary Danone Indonesia, menyatakan bahwa permasalahan gizi ibu dan anak di Indonesia seperti dalam lingkaran yang terus berputar, mulai dari masa kehamilan, anak di bawah usia dua tahun, di bawah lima tahun, hingga kelak mereka dewasa dan bersiap menjadi orangtua. Kondisi ini harus segera dipatahkan agar tidak terus berulang karena pemerintah menargetkan penurunan angka stunting, menjadi hanya 22% pada 2025. (est)