More

    Jokowi “Orbitkan” 7 Anak Milenial Sebagai Stafsus Agar Tak Alergi Politik 

    BACA JUGA

     

    Sironline.id, Jakarta – Presiden Joko Widodo mengenalkan 7 staf khusus (Stafsus) Presiden dari generasi milenial pada publik di halaman belakang Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (21/11). Selain ketujuh stafsus yang datang dari generasi milenial, Jokowi juga telah memiliki 7 stafsus yang diisi muka lama dan beberapa orang baru. Dengan demikian total stafsus yang akan membantu Jokowi pada periode kedua menjadi 14 orang. “Stafsus sebelumnya masih. Ini yang saya sampaikan, ini stafsus saya yang baru. Untuk bidang-bidangnya, ini kerja barengan gitu,” kata Jokowi saat memperkenalkan tujuh stafsus dari kalangan milenial. “Waduh nggak ngitung saya, (ada) 14, saya nggak pernah ngitung,” tambahnya.

    Jokowi mengatakan ketujuh stafsus anak-anak muda berusia antara 23-36 tahun dan tak perlu setiap hari datang ke Istana. Menurutnya 7 stafsus milenial ini menjadi teman diskusi, harian, mingguan, atau bulanan dalam memberikan gagasan segar dan inovatif. Akan tetapi setiap masukan dari para stafsus tersebut bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun mengingat kecanggihan teknologi sudah memungkinkan untuk itu. Penunjukan stafsus dari kalangan milenial memang menarik untuk diperhatikan. “Tidak fulltime, beliau sudah memiliki kegiatan dan pekerjaan yang bisa mingguan, tidak harus ketemu. Tapi minimal seminggu, dua minggu pasti ketemu,” tuturnya.

    Pengangkatan stafsus ini Jokowi seperti sedang melakukan kebijakan “mengorbitkan” anak-anak muda. Maklum, Stafsus milenial yang dipilih Jokowi secara umum memiliki latar belakang yang jauh dari politik. Tanpa disadari Presiden juga tengah mengajak anak-anak muda itu untuk ikut terjun dalam dunia politik Indonesia agar tak alergi politik. Jokowi berharap generasi milenial ini mampu memberikan pandangan yang lebih segar dalam pengelolaan bangsa ini kedepan. Selain itu Jokowi berharap para stafsus akan menjadi sumber informan Presiden Jokowi dalam membuat suatu kebijakan. Tak heran mereka terpilih adalah orang-orang spesial yang memiliki rekam jejak membanggakan.

    Mengikuti langkah Presiden Jokowi, Wakil Presiden Ma’ruf Amin juga ikut mengangkat 8 stafsus wapres yang setengahnya berasal dari Nahdlatul Ulama (NU). “Pertimbangan pertama, saya kira karena ini semacam wilayah kewenangan wakil presiden. Tentu saja ini adalah bagaimana wakil presiden nyaman dengan orang-orang yang bersangkutan,” kata Jubir Wapres Masduki Baidlowi di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (25/11/2019).

    Dengan demikian, total stafsus Presiden Jokowi dan Wapres Maruf Amin berjumlah 22 orang dengan posisi setara dengan pejabat eselon I. Namun berbeda dengan Jokowi yang mengangkat sebagian stafsus dari genearsi muda Ma’ruf Amin mengangakat sfatsus diisi dari angkatan tua.”Karena Bapak Presiden sudah merekrut milenial, maka itu kan juga penting dari komponen kemasyarakatan lengkap. Dari berbagai lapisan sosial, milenial, atau kolonial sama ya. Kalau kiai, generasi kolonial ya sama. Itu tidak mengurangi kompetensi,” kata Masduki, yang juga termasuk satu dari delapan nama stafsus Ma’ruf.

    Out of the box

    Tenaga ahli utama Kantor Staf Presiden (KSP) Rawanda W Tuturoong menilai upaya Presiden Joko Widodo merekrut sejumlah anak muda ke dalam pemerintahan demi kebutuhan mencari terobosan baru untuk menyelesaikan berbagai persoalan. “Saya sangat berharap dengan generasi muda yang dilibatkan dalam pemerintahan. Tentu saja banyak pesimisme dan sebagainya, tapi semua orang yang berhasil dalam perubahan di awal pun mengalami hal yang sama. Oleh karena itu ide-ide penting bisa dilahirkan dari generasi muda yang masuk ke pemerintahan untuk melakukan perubahan-perubahan,” kata Rawanda dalam diskusi bertajuk Pembangunan Indonesia pada Periode Kedua Jokowi di Mata Milenial, di Gado-gado Boplo, Jakarta, Selasa (26/11/2019).

    Rawanda optimistis masuknya sosok muda seperti mantan CEO Gojek Indonesia Nadiem Makarim sebagai menteri dan ditunjuknya 7 anak muda sebagai staf khusus Presiden Jokowi bisa membawa perubahan. “Yang harus dilakukan adalah terobosan-terobosan, inovasi-inovasi yang out of the box, non-linear. Itu yang sekarang perlu dilakukan, supaya kita melompat,” kata dia. Menurut Rawanda, pemerintah tak lagi bisa berjalan perlahan dalam mengejar ketertinggalan dengan negara-negara lain yang lebih maju. Sehingga dibutuhkan terobosan-terobosan untuk mendorong lompatan baru. “Kita enggak bisa lagi berjalan pelan dari nol, kita harus masuk ke titik tertentu dan melompat. Saya sangat berharap ini bisa dilakukan. Sekarang tantangannya cenderung mudah berubah apalagi di era digital seperti ini bermunculan macam-macam,” kata dia.

    Pengamat dari Cyrus Network Hasan Nasbi, memandang langkah Jokowi tersebut juga menjadi pesan bagi generasi tua yang ada dalam berbagai lembaga pemerintahan untuk membuka diri dengan gagasan perubahan yang ditawarkan anak muda. “Itu (pesan) kita harus terbuka dengan ide-ide baru, semangat zaman, harus membuka diri dengan anak-anak muda itu punya ide luar biasa sehingga harus dirangkul. Mereka mungkin tidak berada dalam level eksekutor, tapi ide mereka menurut saya akan sangat membantu presiden,” katanya. Apalagi, kata dia, Jokowi memilih tujuh orang tersebut yang memiliki latar belakang dan rekam jejak yang baik.

    Menurut Hasan, Jokowi berupaya mengombinasikan kelebihan generasi muda dan generasi tua. Generasi muda memiliki kreativitas, energi, gagasan yang menarik. Di satu sisi, generasi tua memiliki pengalaman serta kecakapan yang matang dan kebijaksanaan. “Generasi kolonial ini mungkin enggak punya lompatan pikiran, mungkin gagap menghadapi perkembangan zaman oleh karena itu butuh ide, idenya dari mana? Anak-anak muda. Anak-anak muda ini kurangnya pengalaman, sisanya mereka berlebih, energi, kreativitas, gagasannya yang out of the box ini berlebih, sehingga ini memang energi yang luar biasa kalau misalnya negara mampu mendukungnya dengan baik,” lanjut Hasan.

    Pemanis Pemerintah

    Sementara itu, pengamat politik Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin mengatakan hal yang wajar jika publik meragukan Stafsus millenial yang diangkat Jokowi. “Karena mereka kan memang miskin pengalaman di pemerintahan. Dan kerja politik mereka memang belum teruji. Jangan sampai 7 Stafsus tersebut hanya menjadi aksesoris istana. Hanya jadi pajangan pemanis pemerintah,” katanya. Selain itu, Ujang juga menyoroti Stafsus yang berasal dari kalangan elite yang tak pernah bersetuhan dengan masyarakat kelas bawah. Menurutnya, pengangkatan Stafsus millenial hanya untuk memenuhi hasrat Jokowi agar dipandang bagus di mata millenial. Terkait tingginya gaji yang diterima stafsus dengan kerja frelance sebesar Rp 51 juta, Ujang mengatakan jika hal tesebut termasuk pemborosan uang negara. “Dan kerjanya juga tak jelas. Apalagi tidak tiap hari ngantor,” pungkasnya.

    Besaran gaji stafsus diatur di dalam Peraturan Presiden Nomor 144 Tahun 2015 tentang Besaran Hak Keuangan bagi Staf Khusus Presiden, Staf Khusus Wakil Presiden, Wakil Sekretaris Pribadi Presiden, Asisten dan Pembantu Asisten. Di dalam Pasal 5 Perpres itu disebutkan, hak keuangan merupakan pendapatan keseluruhan yang diterima dan sudah termasuk di dalamnya gaji dasar, tunjangan kinerja dan pajak penghasilan. D. Ramdani

     

    Box:

     14 stafsus Presiden Jokowi:
    1. Angkie Yudistia, Pendiri Thisable Enterprise
    2. Aminuddin Ma’ruf, Mantan Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Periode 2014-2017.
    3. Adamas Belva Syah Devara, Pendiri Ruang Guru.
    4. Ayu Kartika Dewi, Perumus Pergerakan Sabang Merauke.
    5. Putri Indahsari Tanjung, CEO dan Founder Creativepreneur.
    6. Andi Taufan Garuda Putra, CEO Amarta.
    7. Gracia Billy Mambrasar, CEO Kitong Bisa

    1. Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, akademisi
      9. Sukardi Rinakit, intelektual, stafsus bidang politik
      10. Arif Budimanta, ekonom Megawati Institute, stafsus bidang ekonomi.
      11. Diaz Hendropriyono, Ketua Umum PKPI, stafsus bidang sosial.
      12. Dini Shanti Purwono, Kader PSI, ahli hukum lulusan Harvard, stafsus bidang hukum.
      13. Fadjroel Rahman, stafsus bidang komunikasi yang juga Komisaris Utama PT Adhi Karya (Persero).
      14. Anggit Nugroho, asisten pribadi presiden.

    8 stafsus Ma’ruf Amin:
    1. Masduki Baidlowi-Stafsus bidang komunikasi dan informasi
    2. Muhammad Imam Aziz-Stafsus bidang penanggulangan kemiskinan dan otonomi daerah
    3. Satya Arinanto-Stafsus bidang hukum
    4. Sukriansyah S Latief-Stafsus bidang infrastruktur dan investasi
    5. Robikin Emhas-Stafsus bidang politik dan hubungan antarlembaga
    6. Mohamad Nasir-Stafsus bidang reformasi birokrasi
    7. Lukmanul Hakim-Stafsus bidang ekonomi dan keuangan
    8. Masykur Abdillah-Stafsus bidang umum

     

     

     

     

    BERITA TERBARU

    Wapres: Pemekaran Papua untuk Mudahkan Pelayanan Masyarakat

    Jakarta, SirOnline.id - Pemerintah dan DPR baru saja mengesahkan tiga Rancangan Undang-undang Daerah Otonomi Baru (RUU DOB) Papua dalam...

    POPULER

    BERITA PILIHAN