Anak DM Tipe-1 Juga Bisa Jadi Pilot!

210

 

Dunia serasa kiamat bagi orangtua Fulki Baharuddin Prihandoko ketika bungsu dari tiga bersaudara itu divonis menderita diabetes tipe-1, tiga tahun lalu. Sang ibu yang curiga karena Fulki sering lesu dan lemah membawanya untuk periksa darah. Sebelumnya Fulki berulang kali mengompol meski sudah kelas 6 SD, dan sering merasa haus. Lantai kamar mandinya pun banyak semut meski berulang kali dibersihkan.

Dalam perjalanan pulang ke rumah dari periksa darah, telepon genggam sang ibu berdering nyaring. Pihak rumah sakit memberi tahu agar Fulki harus segera kembali ke rumah sakit untuk dirawat inap karena karena gula darahnya 750 mg/dL, sedangkan kadar HbA1c-nya 17,6%! Sangat tinggi karena untuk ukuran normal. Kadar gula darah sebaiknya di bawah 140 mg/dL, HbA1C di bawah 6%. “Padahal, tidak ada riwayat diabetes dalam keluarga kami, makanya kami betul-betul syok melihat keadaan Fulki. Namun, kini kami mencoba berdamai dengan penyakitnya,” kata sang ibu kepada media di Jakarta.

dr. Aman Bhakti Pulungan, SpA(K). Foto: Est

Seperti dikatakan dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K), Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), penyakit diabetes pada anak seperti fenomena gunung es. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan sensus tahun 2010 adalah 237.556.363 jiwa, 83 juta adalah anak-anak.

“Data kami, angka kejadian DM pada anak usia 0-18 tahun mengalami peningkatan sebesar 700% selama jangka waktu 10 tahun. Masih banyak orangtua yang denial. Dalam kasus Fulki, dia adalah anak yang terpilih karena dibutuhkan penatalaksanaan total, yakni rutin periksa darah, suntik insulin, menjaga asupan dan aktivitas fisik, agar bisa terus mengontrol penyakitnya,” katanya.

Anak Juga Bisa DM

Diabetes melitus (DM) atau penyakit kencing manis adalah gangguan metabolisme yang timbul akibat peningkatan kadar gula darah di atas nilai normal yang berlangsung secara kronis disebabkan gangguan pada hormon insulin yang dihasilkan kelenjar pankreas. Insulin berfungsi mengatur penggunaan glukosa oleh otot, lemak, atau sel-sel lain di tubuh. Bila produksinya berkurang, akan menyebabkan tingginya kadar gula dalam darah serta gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein.

DM dibedakan menjadi DM tipe-1 dan DM tipe-2. DM tipe-1 disebabkan pankreas tidak memproduksi cukup insulin, sedangkan DM tipe-2 disebabkan oleh gangguan kerja insulin yang juga dapat disertai kerusakan pada sel pankreas. DM tipe-1 tidak dapat dicegah dan siapapun dapat mengalaminya. Di Indonesia, DM tipe-1 paling banyak pada kelompok usia 10-14 tahun dengan 403 kasus, kelompok usia 5-9 tahun dengan 275 kasus, kelompok usia kurang dari 5 tahun dengan 146 kasus, dan paling sedikit adalah usia di atas 15 tahun dengan 25 kasus.

Meskipun kasus DM tipe-1 paling banyak pada anak, terdapat kecenderungan peningkatan kasus DM tipe-2 pada anak dengan faktor risiko obesitas, genetik dan etnik, serta riwayat DM tipe-2 di keluarga. Berbeda halnya dengan DM tipe-1, DM tipe-2 pada anak biasanya terdiagnosis pada usia pubertas atau lebih tua. Pada DM tipe-2, tanda berupa kulit di belakang leher menjadi lebih gelap. Resistensi insulin atau gangguan pada kerja insulin dapat menyebabkan beberapa area kulit anak berubah menjadi lebih gelap, seperti ketiak dan leher.

“Dalam kasus Fulki, karena tidak ada riwayat diabetes dalam keluarganya, kemungkinan besar diabetes Fulki karena infeksi virus,” tuturnya.

Ditambahkan, jumlah kasus baru DM tipe-1 dan tipe-2 berbeda antarpopulasi dengan distribusi usia dan etnik yang bervariasi. Sejak September 2009 hingga September 2018 terdapat 1.213 kasus DM tipe-1 di kota-kota besar di Indonesia.

Meski menyandang diabetes, lingkungan di sekitar anak punya kewajiban memastikan tumbuh kembangnya normal. Anak dengan DM-1 tetap bisa jadi pilot. “Siapa tidak kenal Halle Berry? Dia bisa tetap produktif meski DM. Sekarang kewajiban orangtua adalah menentukan target realistis agar glukosa darah dan HBA1c mendekati normal, sekitar 100-200 mg/dL agar anak tidak masuk ke kondisi komplikasi yang bisa menyebabkan koma diabetic,” tuturnya. (Est)