Menikmati Ragam Batik di Museum Batik Danar Hadi

173
sironline/dessy aipipidely

Solo – Museum Batik Danar Hadi terletak di jalan Brigjen Slamet Riyadi, Surakarta. Tepatnya di dalam kompleks nDalem Wuryaningratan, kompleks yang dulu merupakan tempat kediaman keluarga K.R.M.H. Wuryaningrat, menantu dan juga sekaligus Pepatih dalem dari raja Kasunanan Surakarta saat itu yakni Pakoe Boewono ke X.

nDalem Wuryaningratan yang berarsitektur Jawa kuno ini dibangun kurang lebih pada tahun 1890 oleh arsitek dari negeri Belanda. Hal itu terlihat pada tampak depan bangunan yang bernuansa Eropa, namun tata ruangnya tetap mengikuti konsep rumah adat Jawa.

Sebagaimana rumah-rumah bangsawan pada masa itu, maka ndalem Wuryaningratan pun memiliki halaman yang sangat luas. Ditempat inilah H. Santosa Doellah, Direktur Utama PT. Batik Danar Hadi yang juga seorang kolektor batik kuno mendirikan museum batik sebagai obsesi, komitmen dan dedikasi beliau pada seni kerajinan batik, yang telah digelutinya sejak usia remaja.

Museum Batik Danar Hadi diresmikan pada tahun 2000. Ruangan di dalam museum terbagi menjadi sebelas ruangan, yang dipergunakan untuk memajang koleksi batik kuno H. Santosa Doellah yang terbagi menjadi sembilan jenis batik, sesuai dengan tema dari museum yaitu Batik Pengaruh Zaman dan Lingkungan.

Ke sembilan jenis batik tersebut adalah Batik Belanda, Batik Cina, Batik Djawa Hokokai, Batik Pengaruh India, Batik Kraton, Batik Pengaruh Kraton, Batik Sudagaran dan Batik Petani, Batik Indonesia, dan Batik Danar Hadi.

Pemilihan tema seperti tersebut di atas tak lepas dari pengalaman dan pengamatan H. Santosa yang sejak usia 15 tahun sudah menekuni, menggeluti dan meneliti seni kerajinan batik.

Menurut H. Santosa, sehelai kain batik pada warna dan polanya akan dipengaruhi oleh zamannya dan atau lingkungannya. Sebagai contoh misal pada “Batik Belanda”, batik ini disebut demikian bukan karena berasal dari Belanda, akan tetapi pola pada batik tersebut dipengaruhi oleh budaya Belanda. Karena batik – batik ini dibuat sekitar tahun 1840 – 1910 saat Indonesia berada di bawah penjajahan Belanda, sehingga akan dijumpai pola dengan tema cerita “Snow Hhite”, “Little Red Riding Hood”, Hanzel and Gretel”. Demikian pula jenis batik yang diberi nama Batik Cina, bukanlah karena dibuat di Cina, melainkan mendapat pengaruh dari budaya Cina, misalnya pola – pola dengan ragam hias burung Hong (Phoenix Bird), Kelelawar, Kura – kura, dan ragam hias Banji (seperti Swastika).

Museum ini didirikan berawal dari keprihatinan dan obsesi H. Santosa terhadap pelestarian dan pengembangan seni kerajinan batik serta minimnya apresiasi masyarakat terutama generasi mudanya terhadap seni kerajinan batik yang merupakan warisan budaya bangsa .

Dari berbagai koleksi yang dimiliki H. Santosa dan telah dikumpulkan sejak tahun 1967, baik yang berasal dari leluhur maupun pemberian dari para kolektor, kini jumlahnya hampir mencapai 10.000 potong.

Dengan penataan ruangan yang mempunyai konsep dan tema berbeda, nyaman dan tidak terkesan kuno dengan memadukan perangkat etnik Jawa maupun perangkat lain yang disesuaikan dengan kain batik yang dipajang menjadikan museum ini berbeda dengan museum-museum lainnya.

Di kompleks nDalem Wuryaningratan ini juga terdapat showroom yang menjual berbagai macam produk dari PT. Batik Danar Hadi, juga terdapat Soga Resto and Lounge. Dengan demikian di kompleks ini dapat diciptakan tujuan wisata dengan konsep “One Stop Shopping dan One Stop Batik Adventure”. (dsy)