Asing Mendominasi Kepemilikan SBN, Rupiah Terancam Melemah

37

sironline.id, Jakarta – Surat Berharga Negara (SBN) diterbitkan pemerintah untuk menutup defisit anggaran setiap tahun. Hingga Semester I/2019 pemerintah sudah mendapatkan pemasukan dari penerbitan Surat Utang Negara (SUN) sebanyak Rp528,45 triliun. Pemerintah tahun ini menargetkan pemasukan dari penerbitan SBN Rp825,7 triliun. Masih ada sejumlah SUN yang akan diterbitkan pemerintah untuk mengejar target itu.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan dan IMF yang diolah Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, porsi kepemilikan asing atas SBN Indonesia mencapai sekitar 39 persen per Juni 2019. Porsi ini lebih tinggi dibanding kepemilikan asing pada Surat Utang Negara (SUN) Malaysia yang berada pada kisaran 23 persen.

Hingga 5 Juli 2019 jumlah kepemilikan investor asing dalam SBN menyentuh Rp1.000,39 triliun atau 39,27 persen. Adapun total outstanding SBN yang diperdagangkan mencapai Rp2.547,69 triliun.

Tingginya porsi kepemilikan asing dalam Surat Berharga Negara dinilai dapat berdampak negatif terhadap perekonomian Indonesia. “Ini berpengaruh terhadap kerentanan perekonomian sebuah negara. Hal ini bisa berdampak salah satunya pada potensi pelemahan nilai tukar jika terjadi sudden capital outflow,” jelas Peneliti CORE Indonesia Yusuf Rendy saat diskusi Konsolidasi Domestik Pasca Pemilu di Tengah Tekanan Global, Jakarta, Selasa (30/7/2019).

Menurutnya, ada 2 faktor yang membuat rendahnya porsi kepemilikan investor lokal terhadap SBN. Faktor pertama yakni rendahnya pengenalan masyarakat terhadap produk investasi seperti SUN. “Sosialisasi terhadap produk-produk investasi dan pasar modal relatif harus digenjot kembali agar masyarakat umum bisa tahu bahwa ada produk lain yang bisa dimanfaatkan untuk mengatur keuangan, di luar tabungan dan asuransi,” katanya.

Faktor kedua adalah masalah likuiditas. Ia menilai saat ini ada perebutan likuiditas di pasar sehingga banyak investor yang akhirnya mengalokasikan uangnya untuk membeli SBN atau ke obligasi lain.

Ia menilai tingginya porsi kepemilikan asing di SBN dapat berpengaruh terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. Hal ini terjadi lantaran investor asing bisa saja menarik dan mengalihkan investasinya di SBN sewaktu-waktu saat ada SUN dari negara lain yang menawarkan yield lebih bagus.

“Yang jadi masalah ketika skenario kalau terjadi capital outflow dan di sisi lain misal pemerintah butuh penerbitan surat utang untuk tutup defisit anggaran. Kan mau enggak mau pemerintah harus tawarkan yield lebih menarik,” ujarnya. (eka)