Rutin CERDIK Agar Menua Berkualitas

123
dr. Rensa, Sp.PD-K.Ger, Indonesia memiliki struktur penduduk tua (Aging Society)

 

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2004, lanjut usia alias lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Data Statistik Penduduk Lanjut Usia, yang dikutip Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2017 menyebutkan bahwa dalam waktu hampir lima dekade, yakni 1971 hingga 2017, persentase lansia di Indonesia meningkat hingga dua kali lipat, yakni menjadi 8,97% dari jumlah penduduk, atau berkisar 23,4 juta jiwa. Dari angka tersebut, lansia perempuan sekitar 1% lebih banyak dibandingkan dengan lansia laki-laki (9,47% banding 8,48%).

“Proses menua secara alamiah akan dialami oleh setiap manusia. Proses menua akan terus berjalan, tidak dapat dihentikan atau dicegah, hanya dapat diperlambat. Dengan bertambahnya usia, fungsi fisiologis mengalami penurunan akibat proses penuaan. Proses degeneratif di berbagai organ menurunkan daya tahan tubuh sehingga lansia rentan terkena infeksi penyakit menular,” kata dr. Rensa, Sp.PD-K.Ger, spesialis geriatri dari RS Atma Jaya, Pluit, Jakarta Utara, kepada media, Selasa (9/7/2017).

Data Kementerian Kesehatan, lansia Indonesia didominasi kelompok umur 60-69 tahun (lansia muda) yang persentasenya mencapai 5,65% dari penduduk. Kondisi ini yang menguatkan bahwa Indonesia memiliki struktur penduduk tua (Aging Society). Persentase lansia di Indonesia dikategorikan sebagai lansia muda (kelompok umur 60-69 tahun) sebanyak 63,39 persen, lansia madya (kelompok umur 70-79 tahun) 27,92 persen, lansia tua (kelompok umur 80+) 8,69 persen.

Dari aspek kesehatan, hampir separuh lansia mengalami keluhan kesehatan sebulan terakhir. Angka kesakitan lansia cenderung menurun setiap tahun. Pada 2017, angka kesakitan lansia dinyatakan sebesar 26,72%. Artinya, dari 100 lansia, ada 27 lansia yang sakit. “Dibandingkan tahun 2015, angka kesakitan lansia hanya turun sekitar 2%. Sebesar 7,68% lansia pernah rawat inap dalam setahun terakhir. Persentase lansia yang sakit lebih dari 3 minggu cukup besar, yakni sekitar 14%,” tutur dr. Rensa.

Terkait dengan rumitnya permasalahan kesehatan yang dialami serta karakter khusus yang dimiliki oleh pasien lansia, diperlukan cara dan pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan pasien yang usianya lebih muda (<60 tahun). Dikatakan dr. Rensa, tidak seluruh lansia merupakan pasien geriatri.

“Menurut Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) RI Nomor 79 Tahun 2014, pasien geriatri adalah pasien lansia yang memiliki satu atau lebih penyakit dan mengalami gangguan akibat penuruan fungsi organ, psikologi, sosial, ekonomi, dan lingkungan yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Geriatri diartikan sebagai cabang ilmu kedokteran yang mempelajari penyakit dan masalah kesehatan pada usia lanjut menyangkut aspek preventif, diagnosis, dan tata laksana,” katanya.

Cegah Sejak Muda

Proses menua mengakibatkan penurunan fungsi sistem organ seperti sistem sensorik, saraf pusat, pencernaan, kardiovaskular, dan sistem respirasi. Selain itu terjadi pula perubahan komposisi tubuh, yaitu penurunan masa otot, peningkatan masa dan sentralisasi lemak, serta peningkatan lemak intramuskular. Masalah yang sering dijumpai pada pasien geriatri adalah sindrom geriatri yang meliputi: imobilisasi, inkontinensia urine, insomnia, gangguan depresi, infeksi, serta gangguan pendengaran dan penglihatan.

“Karena itu, paling baik adalah memperlambat proses penurunan fungsi tubuh agar kita bisa menua dengan tetap berkualitas. Salah satu cara dengan melakukan CERDIK seperti yang dianjurkan Kemenkes, yakni cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet sehat dengan kalori seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres sejak muda,” tambah dr. Rensa. (Est)