SWF Harus Mampu Memberikan Multiplier Effect terhadap Ekonomi

69

sironline. id, Jakarta – Pemerintah membentuk Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Sovereign Wealth Fund (SWF) yang bernama Indonesia Investment Authority (INA) untuk mendukung pemerataan pembangunan.

Pemerintah berharap LPI dapat menarik tiga jenis investor ke Tanah Air. Hal itu dinilai akan memperkuat struktur investasi di Indonesia.Adapun jenis investor pertama ialah Sovereign Wealth Fund (SWF) dari negara lain dan bermitra dengan LPI.  Investor kedua berbentuk dana pensiun dari negara lain. LPI diharapkan mampu menarik investasi tersebut guna mendapatkan dana jangka panjang, dengan imbal hasil yang stabil. Selanjutnya, jenis investor ketiga ialah berasal dari sektor swasta yang memiliki ketertarikan pada sektor strategis, misalnya infrastruktur, kesehatan, teknologi dan pendidikan.  LPI akan berperan sebagai mitra strategis untuk memastikan investasi berjalan dengan efektif.

Peneliti senior INDEF Aviliani menilai saat ini investor  asing cenderung lebih suka menanamkan investasi di pasar modal dibanding foreign development investment (FDI). “Sejak 2008  krisis yang terjadi jangka waktunya pendek, ada yang 2 tahun atau 4 tahun. Melihat kondisi krisis yang semakin pendek jangka waktunya membuat investor cenderung lebih suka menanamkan investasi di pasar modal dibanding FDI,” jelasnya di acara diskusi online INDEF bertema Menakar Untung Rugi Lembaga Pengelola Investasi, Rabu (3/2/2021).

Memang investor asing banyak menanamkan investasi di sektor perbankan  seperti investor dari Korea atau Jepang karena mereka bisa menghitung return secara langsung . Namun berbeda dengan sektor infrastruktur atau pabrik yang lebih kompleks dalam pengurusan birokrasinya.

Ia menambahkan, dengan keterbatasan dana dari APBN, diharapkan LPI dapat menampung dana investasi yang besar dan dijamin oleh pemerintah baik dana dari pemerintah maupun dari berbagai negara. Yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana proyek yang akan ditangani ini mempunyai multiplier effect terhadap ekonomi, karena bisa jadi beban bunga atau beban utangnya besar tapi sebenarnya tidak efektif terhadap ekonomi. Ini karena kita selama ini membangun proyek-proyek dari supply side, bukan demand side padahal kalau bicara multiplier yang harus dibangun terlebih dahulu adalah proyek-proyek yang  ekonominya akan bergerak lebih cepat.

“Jadi harus diukur Good Corporate Governance-nya. Proyek-proyek yang dibangun harus menghasilkan multiplier effect ekonomi. Proyek tersebut juga sebaiknya bisa ikut menggerakkan peran swasta. Pemerintah juag perlu membentuk komite untuk menentukan proyek yang layak dibangun,” tambahnya.

Fakhrul Fulvian, Chief Economist Trimegah Securities menambahkan kalau dilihat dari siklus ekonominya,  Indonesia sebenarnya kembai mengalami siklus investasi yang naik kencang. Tahun 2020, investment share in Gross Domestic Product mencapai 32%.

“LPI yang akan dibentuk oleh Indonesia berbeda dengan negara- negara lain. SWF umumnya dikembangkan oleh negara-negara yang current account-nya surplus seperti Singapura ada Temasek, Malaysia ada Khazanah, Norwegia, Saudi Arabia, dan bersumber dari dana internal  seperti dari pendapatan minyak, ekspor, investor dalam negeri. Namun di Indonesia, current account-nya defisit sehingga  model  LPI yang akan dibentuk sedikit berbeda karena sumber pendanaannya akan lebih banyak dari FDI,” paparnya.