Tim ITS Lakukan Survei tentang Tanah Berasap di Dipo Sidotopo, Surabaya

2
Dr Ir Amien Widodo M Si (baju merah) bersama tim saat mengunjungi area Dipo Sidotopo, Surabaya untuk meneliti tanah yang berasap.

Surabaya – Fenomena tanah berasap di kawasan Dipo Sidotopo, Surabaya, sempat menggegerkan warga sekitar, Sabtu (4/1/2020) lalu. Oleh karena itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya bersama tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) telah melakukan survei untuk mengetahui penyebab dari fenomena tersebut, sehari kemudian.

Tim dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS yang dipimpin oleh Dr Ir Amien Widodo MSi terdiri atas Dr Ira Anjasmara, Juan Rohman ST MT, dan Wien Lestari ST MT. Tim ini bersama tim DLH Kota Surabaya mengunjungi tempat kejadian perkara (TKP), untuk melihat langsung sekaligus mengambil sampel tanah yang selanjutnya akan diuji di Laboratorium Energi ITS. Amien membenarkan, asap tersebut keluar dari tanah hingga menyebabkan kayu dan koran yang coba dimasukkan langsung terbakar.

Dari hasil kunjungan di lapangan, dosen Departemen Teknik Geofisika ini bersama tim menemukan beberapa fakta menarik. Tanah berasap tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dengan tanah yang ada di sekitarnya. Tanah berasap memiliki ukuran pasir, sedangkan tanah sekitarnya memiliki ukuran lempung dari endapan aluvial. “Dari segi warnanya juga berbeda, tanah berasap memiliki warna yang lebih hitam dan mengilap,” ungkapnya.

Amien menjelaskan, fenomena tersebut tidak hanya sekali terjadi di Jawa Timur. Sebelumnya di kawasan Kutisari, Surabaya dan Sampang, Madura juga pernah mengalami kejadian serupa. “Memang secara alami daerah di Jawa Timur ini adalah cekungan minyak dan gas bumi,” ujar dosen asal Yogyakarta ini.

Sampel tanah berasap dari area Dipo Sidotopo, Surabaya.

Namun, setelah diamati, Amien berpendapat, kemungkinan tanah berasap di daerah Dipo Sidotopo tersebut tidak berasal dari gas alam. Amien meyakini hal tersebut, lantaran asap yang keluar dinilai masih normal. “Asapnya tidak besar, jadi kemungkinan bukan dari gas alam.”

Ditambahkan dosen lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini, ada beberapa kemungkinan faktor penyebab fenomena tersebut. Kemungkinan pertama yaitu keberadaan sisa batubara yang dibuang di area Dipo Sidotopo. “Batu bara ini berasal dari bahan bakar kereta api zaman dahulu yang tersisa dan menumpuk sehingga keluar asap.”

Tak hanya itu, Amien menilai, kemarau yang panjang juga bisa menjadi faktor berikutnya. “Kemarau panjang ini semakin membuat tumpukan batubara membara dan mengeluarkan asap,” tuturnya lagi.

Amien melanjutkan, faktor lain yaitu adanya sampah dari beberapa tahun lalu yang sengaja dibuang ke area tersebut. Sampah-sampah ini kemudian memicu terbentuknya biomassa. “Biomassa inilah yang mungkin menyebabkan tanah tersebut berasap,” ujarnya.

Amien menyampaikan, sampai saat ini sampel tanah dari Dipo Sidotopo masih diteliti bersama dengan melibatkan beberapa dosen Departemen Teknik Geomatika dan juga DLH Kota Surabaya. Dia berharap, survei ini dapat membantu memberi informasi kepada masyarakat sekitar, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir lagi saat fenomena ini terulang kembali. “Jangan terlalu panik, ini adalah fenomena yang sering dan lumrah terjadi,” katanya lagi. (*/est)