Saraf Penciuman Prediktor Kondisi Prademensia

18
Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S, deteksi menghidu bisa jadi metode deteksi dini penyakit demensia.

 

Menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), persentase orang lanjut usia, alias lansia di Indonesia mencapai 9,27 persen atau sekitar 24,49 juta orang. Kementerian Kesehatan RI mengkategorikan lansia dalam 3 golongan, yakni lansia muda alias kelompok berumur 60-69 tahun sebanyak 63,39 persen, lansia madya (kelompok umur 70-79 tahun) sebanyak 27,92 persen, dan lansia tua (kelompok umur 80+) sebanyak 8,69 persen.

Tingginya angka harapan hidup perlu diiringi dengan konsep bagaimana menua dengan tetap sehat dan produktif. “Investasi otak adalah tentang bagaimana tetap menjaga otak individu tetap sehat, tidak mengalami kemunduran. Cek apakah kita sering lupa akhir-akhir ini. Pola hidup sejak masa muda menentukan kesehatan otak pada masa tua,” kata Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S, Dekan Fakultas Kedokteran Atma Jaya, saat grand opening Paviliun Bonaventura di Pluit, Jakarta Utara, kepada media di Jakarta, Selasa (9/7/2019).

Saat usia lanjut, umumnya lansia memeriksakan fungsi ginjal, hati, paru, atau jantung, tetapi sedikit sekali yang memeriksakan fungsi otak. Padahal, otak juga merupakan organ tubuh yang akan mengalami kerusakan. Guna memastikan kesehatan otak perlu dilakukan pemeriksaan, terutama untuk individu yang memiliki faktor risiko.

“Dalam konteks proses penuaan otak, saat berusia 40 tahun, sebaiknya kita sudah pernah memeriksakan medical check up apakah ada faktor risiko demensia karena hingga kini belum ada obatnya. Deteksi dini bisa meningkatkan kualitas hidup seseorang di masa tua,” tuturnya.

Berdasarkan penelitian Enhaching Diagnostic Accurary of aMCI in the Elderly: Combination of Olfactory Test, Pupillary Response Test, BNDF Plasma Level and APOE Genotype yang dilakukan di FK Universitas Atma Jaya dan telah dimuat di International Journal of Alzheimer Disease menunjukkan skor yang rendah pada pemeriksaan saraf penciuman menjadi prediktor prademensia. “Dari penelitian ini diketahui bahwa gangguan saraf penciuman yang tidak disadari dapat menjadi tanda awal proses penuaan di otak dan menjadi faktor risiko demensia.”

Dengan kata lain, mendeteksi tanda awal kerusakan otak bisa dilakukan melalui saraf penciuman. Pemeriksaan menggunakan aroma yang familiar, misalnya aroma kopi atau jeruk, bisa menjadi petunjuk seseorang mengalami prediktor prademensia. (Est)