Dosen ITS Gagas Metode Pengolahan Sampah Hasilkan Listrik

10
Dr Ridho Hantoro ST MT saat melakukan risetnya di PLTSa Putri Cempo

 

Surabaya – Berbagai metode telah dikembangkan oleh para peneliti untuk mengimplementasikan pengolahan sampah menjadi energi alternatif penghasil listrik. Salah satunya yang dikembangkan oleh dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Ridho Hantoro ST MT, melalui penelitian berbasis hydrothermal carbonization yang mempunyai kelebihan dapat mengurangi massa sampah secara signifikan pada prosesnya.

Penelitian yang dilakukan tersebut berangkat dari permasalahan penumpukan sampah di Indonesia yang semakin menjadi, terutama di kota-kota besar. Pemerintah daerah pun sudah ada yang memanfaatkan sampah menjadi listrik, tetapi dari beberapa jenis metode masih memberikan permasalahan pengurangan massa yang tidak signifikan.

Dr Ridho Hantoro ST MT (kanan) bersama Plant Manager PLTSa Putri Cempo (kiri) saat meriset pengolahan sampah menjadi energi listrik.

Dosen dari Departemen Teknik Fisika ITS ini terinspirasi dari konversi nilai energi dan banyaknya sampah yang menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Salah satu TPA yang mengaplikasikan metode ini adalah TPA Putri Cempo di bawah Pemerintah Kota Surakarta. “Hasil proses hydrothermal carbonization akan digunakan sebagai bahan baku gasifikasi dan gas engine untuk memproduksi listrik,” paparnya.

Melalui penelitiannya yang berjudul Studi Pembangkitan Energi melalui Pengolahan Sampah Kota (MSW) dengan Proses Hydrothermal Carbonization (HTC) dan Gasifikasi, Ridho fokus menggunakan metode HTC dan Gasifikasi. “Metode ini keunggulannya mampu meningkatkan nilai kalori material sampah dalam bentuk padatan, sekaligus mengurangi massa sampah secara signifikan pada prosesnya,” tutur dosen yang menggeluti bidang efisiensi energi ini.

Pada prosesnya, lulusan S3 Teknik Kelautan ITS ini mengungkapkan, limbah dipisahkan dari logam dan material toksik yang ada, lalu dimasukkan ke dalam reaktor HTC. Pada kondisi saturasi biasanya 23 bar harus tetap dikontrol, hal itu juga tergantung kondisi dan komposisi karakteristik sampah. “Bisa sampah plastik atau sampah organik seperti sayur-sayuran, limbah rumah tangga, plastik, kertas, dan lainnya.”

Hydrocarbon (kiri) yang dikeringkan akan menjadi briket (kanan)

Menurut kelahiran 1976 ini, selama kurang lebih empat sampai 10 jam akan terbentuk bubur karbon (char). Setelah itu bubur tadi dihilangkan kadar airnya, lalu dikeringkan dan menjadi briket. Briket yang sudah dikeringkan dimasukkan ke dalam gasifier, dan didapatkan metana murni yang di-treatment.

Selanjutnya, dimasukkan ke dalam gas engine atau motor bakar yang akan menghasilkan listrik seperti halnya genset. “Bila dalam pemanfaatan limbah menjadi biogas akan dihasilkan gas organik, tetapi hasil yang dikeluarkan dari gasifier akan berupa gas sintetik (syngas).”

Menurut dosen yang juga menggeluti bidang energi terbarukan tersebut, penelitian yang sudah dilakukan ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam menyelesaikan permasalahan sampah kota, “Selanjutnya saya akan meneruskan penelitian ini dengan membuat prototipenya, lalu mencoba mengaplikasikannya.” (*/est)