Kisah Para Bangsawan di Bukit Siguntang

604

Palembang – Bukit Siguntang di Palembang mungkin tidak sepopuler Jembatan Ampera yang membelah Sungai Musi. Namun, jika Anda sedang berkunjung ke Palembang, salah satu destinasi wisata yang wajib disambangi adalah Bukit Siguntang.

Bukit Siguntang berlokasi di Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I Palembang, Sumatera Selatan. Bagi yang ingin melihat pesona Bukit Siguntang, tarif masuk Rp 3.000 per orang. Kendaraan roda dua dikenakan biaya masuk Rp 1.500 dan kendaraan roda empat sebesar Rp 3.000.

Saat tiba di Bukit Siguntang, sejauh mata memandang hanya terlihat aneka pohon rindang dengan aroma kayu yang khas menyapa para pengunjung. Untuk menikmati pemandangan di bukit tersebut, harus menapaki satu demi satu jalan setapak, yang dikelilingi oleh ratusan pohon dan batu besar.

Bukit ini menyimpan cerita dan kisah dari Kerajaan Sriwijaya. Di sana, ada makam  anggota Kerajaan Sriwijaya yang masih terawat hingga sekarang. Sebut saja makam Radja Segentar Alam, Putri Rambut Selako, Pangeran Radja Batu Api, Panglima Tuan Djunjungan, Putri Kembang Dadar, Panglima Bagus Karang, dan Panglima Bagus Kuning.

Berdasarkan sejarah, Radja Segentar Alam, nama aslinya adalah Iskandar Zulkarnain Alamsyah, ia berasal dari dari Kerajaan Mataram. Berdasarkan cerita Radja Segentar Alam pertama kali ke Palembang membawak 3 kapal yang berbendera Lancar Kuning namun saat dalam perjalanan kapal-kapal tersebut karam.  Dari semua kapal yang karam tersebut ada satu kapal yang membawa Radja Segentar Alam terdampar di Bukit Siguntang sedangkan kapal yang lain hancur di lautan dan ada pula yang hancur kemudian terseret di Karang Anyar.  Ada cerita unik dari kisah Radja Segentar Alam yang dahulu saat masa jayanya dapat menaklukan hampir seluruh Sumatera hingga ke negeri tetangga Johor dan Malaka di Malaysia yaitu tentang lagu Layar Di Malam Hari yang sering didendangkan di atas kapal ketika berserta pasukannya sedang berlayar yang hingga saat ini masih sering dinyanyikan di daerah Medan, Johor dan Malaka. Radja Segentar Alam merupakan kakak kandung Datuk Sultan Iskandar atau lebih dikenal dengan nama Raja Parameswara dari Selat Malaka. Raja Parameswara merupakan raja terakhir Singapura tahun 1389-1398.

Lalu Putri Kembang Dadar, bernama asli Putri Bunga Melur. Ia dipercaya sebagai putri tercantik kala itu. Karena kecantikannya Ia bahkan dianggap berasal dari khayangan.

Ada juga Putri Rambut Selako, yang bernama asli Putri Damar Kencana Wungsu. Menurut cerita Ia berasal dari Keraton Yogyakarta anak dari Prabu Prawijaya.

Sedangkan Pangeran Radja Batu Api, ia berkelana ke tanah Melayu untuk menyiarkan syariat agama Islam. Lalu Panglima Bagus Kuning yang berasal Mataram. Ia datang ke Palembang untuk mengawal Radja Segentar Alam. Serta Panglima Bagus Karang, yang mempunyai tugas sama dengan Panglima Bagus Kuning, yakni untuk mengawal Radja Segentar Alam. Makam yang terakhir adalah Panglima Tuan Djunjungan, ia merupakan ulama dari Arab yang datang ke tanah melayu untuk berkelana sambil menyiarkan agama Islam.

Dari makam-makam itu membuktikan bahwa Bukit Siguntang merupakan tempat yang sangat sakral sehingga para bangsawan Palembang zaman dahulu banyak yang dimakamkan di bukit tersebut.

Turis mancanegara yang sering datang dan berziarah ke makam di Bukit Siguntang berasal dari Malaysia, Tiongkok, Singapura, dan Thailand. Mereka percaya bahwa Radja Segentar Alam merupakan nenek moyangnya.

 

Bahkan pada perayaan Waisak setiap tahunnya, turis mancanegara dari Tiongkok sering menggelar ritual sembayang di Bukit Siguntang, dengan menelusuri makam-makam tersebut. Tahun 2019 ini, ada sekitar 500 orang turis Tiongkok datang mengunjungi Bukit Siguntang Palembang.

 

Ada juga beberapa ritual yang dipercaya para pengunjung. Seperti membasuh muka dari air di dalam kendi yang terletak di atas makam Puteri Kembang Dadar. Ritual ini dipercaya dapat membuat wajah lebih cerah dan menawan.

Para pengunjung juga sering berdoa dan mengucap nazar di depan makam. Jika keinginannya terwujud, biasanya mereka akan memberikan hadiah sesuai nazar kepada juru kunci Bukit Siguntang. Nazar yang dimaksud misalnya memberikan ayam, burung, kambing, dan lainnya.

Satu lagi ritual yang sering dilakukan oleh pengunjung, yaitu mandi kembang seusai berdoa di depan makam. Jika pengunjung tidak ingin mandi di Bukit Siguntang, mereka akan membawa kembang dari Bukit Siguntang Palembang untuk mandi di rumahnya masing-masing.

Jika tak berniat berziarah, Anda tetap bisa menikmati pesona keteduhan di Bukit Siguntang. Banyak spot-spot Instagramable di lokasi ini. Bahkan, banyak pasangan yang menjadikan sebagai lokasi pemotretan pre-wedding. Jadi jika Anda ke Palembang, jangan lupa mampir ke di Bukit Siguntang ya. (des)