Nakes Jadi Prioritas karena Rentan Terpapar Covid-19

13
Freepix

 

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Daeng M Faqih, SH, MH, menyatakan pihaknya mendukung penuh vaksinasi dalam usaha mengendalikan penularan Covid-19. Dalam konferensi pers melalui kanal YouTube PB IDI, Senin (14/12/2020), Daeng meminta masyarakat tidak khawatir karena seluruh pengujian tengah dilakukan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sebelum vaksin diberikan untuk membuktikan aspek mutu, keamanan, dan efikasi atau efektivitasnya.

“IDI senantiasa memberi dukungan pada vaksinasi Covid-19 di Indonesia. Vaksinasi jadi harapan kita di masa pandemi. Masyarakat jangan takut divaksin karena semua proses sudah dilakukan dengan baik,” katanya.

Ditambahkan, pemahaman yang baik terkait vaksin serta kepastian mutu, keamanan, dan khasiat vaksin diperlukan agar masyarakat percaya dan bersedia divaksin. “Jangan sampai informasi salah berdampak pada kepercayaan masyarakat. Jika hasil pengujian vaksin selesai dan BPOM menyatakan vaksin bisa diberikan, kami mau mendapat vaksin,” ujarnya.

Sementara itu, dalam webinar bertema “Kapan Kita Divaksin?” yang juga digelar Senin (14/12/2020), dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P3ML) Kementerian Kesehatan, menyebut 1,2 juta dosis vaksin Sinovac Biotech Ltd dari Cina yang sudah tiba di Indonesia, sudah didistribusikan ke seluruh daerah. Peruntukan vaksin tersebut diprioritaskan bagi 600.000 tenaga kesehatan di Indonesia. Vaksin bekerja meningkatkan kekebalan tubuh sehingga diharapkan bisa mengurangi angka kematian akibat Covid-19 di antara tenaga kesehatan.

“Dari 1,2 juta dosis vaksin Sinovac, setiap orang mendapat 2 dosis. Setelah suntik pertama, selang 14 atau 21 hari harus mendapat suntikan kedua. Baru dianggap lengkap. Kami menunggu persetujuan penggunaannya dari BPOM. Diharapkan segera karena kita sudah kehilangan 200 tenaga kesehatan. Lebih cepat diberikan lebih baik. Pemerintah sudah memberi jaminan bahwa vaksin yang digunakan adalah vaksin yang aman, bermutu, memiliki efektivitas agar kita bisa keluar dari pandemi Covid-19,” kata Juru Bicara untuk Program Vaksinasi Covid-19 itu.

Berdasar Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 9860 Tahun 2020, pemerintah telah menetapkan enam vaksin yang bisa digunakan di Indonesia selain Sinovac, yakni Merah Putih buatan Bio Farma Indonesia, Astra Zeneca dari Inggris, Moderna dari Amerika Serikat, Sinopham dari Cina, serta Pfizer and BioNTech dari Jerman. “Namun, bila dalam pelaksanaannya ada data dan kajian para ahli soal kandidat calon vaksin lain yang bisa ditambahkan, tidak menutup kemungkinan.”

Dipaparkan, keenam vaksin tersebut di atas sudah masuk uji klinis fase ketiga. “Sebetulnya merek bisa apa saja, yang penting keenam jenis vaksin ini berkualitas, seperti tertuang dalam review WHO (Badan Kesehatan Dunia-Red.), yang juga menyebutkan vaksin tersebut bisa digunakan secara luas di banyak negara. Mengapa Indonesia membuka ruang bagi banyak jenis vaksin? Karena target vaksin untuk 181,5 juta orang, berarti kita butuh 400 juta dosis vaksin. Kapasitas produksi satu perusahaan mungkin hanya 100-200 juta, tetapi jumlah itu untuk seluruh dunia,” ujarnya.

Mengenai pendistribusian vaksin, Nadia menyebut Kemenkes sudah punya pengalaman sangat panjang soal imunisasi di Tanah Air. Jalur itulah yang akan dipakai untuk mendukung distribusi vaksin Covid-19 di seluruh daerah. (est)