Anemia Dialami 32% Remaja Usia 15-24 Tahun

7

 

Permasalahan gizi pada remaja di Indonesia terbilang kompleks, padahal mereka adalah calon pemimpin di masa depan. Saat ini Indonesia memiliki triple burden masalah gizi, yaitu gizi kurang, gizi lebih, dan kekurangan zat gizi mikro.

Data Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) 2015 mencatat 52,5% remaja mengalami defisiensi energi berat dan 70% kekurangan energi dalam konsumsi makanan harian. Saat kondisi pandemi Covid-19 seperti sekarang diperkirakan angkanya naik, meski belum ada data yang pasti.

“Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, satu dari empat remaja mengalami stunting, sedangkan satu dari tujuh remaja mengalami kelebihan berat badan. Masalah lain adalah tingginya angka kekurangan zat gizi mikro, seperti zat besi, yang memicu anemia pada 32% remaja usia 15-24 tahun,” kata drg. Kartini Rustandi, M.Kes, Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, dalam webinar bertema “Program Generasi Sehat Indonesia (Gesid), Upaya Edukasi Gizi dan Kesehatan Remaja SMP dan SMA” yang digelar Senin (14/12/2020).

Indonesia membutuhkan remaja yang produktif, kreatif, serta inovatif demi kemajuan bangsa di masa depan. bangsa. Semua itu dapat dicapai bila remaja sehat dan berstatus gizi baik.

“Upaya mengedukasi remaja sejalan dengan arah kebijakan dan strategi dalam meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing, melalui percepatan gizi masyarakat. Kami menghargai upaya dari berbagai pihak mengedukasi remaja Indonesia untuk berperilaku hidup sehat sehingga kebutuhan akan gizi seimbang bisa terpenuhi, terutama di masa pandemi,” tuturnya.

Untuk membantu remaja memahami kebutuhan gizinya bagi perkembangan fisik dan mental, FEMA Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Danone Indonesia menyusun buku panduan Gesid yang ditujukan bagi remaja SMP hingga SMA. Buku panduan ini diharapkan bisa meningkatkan kesadaran remaja agar hidup lebih sehat melalui edukasi tentang: gizi seimbang, kesehatan reproduksi, serta pembentukan remaja yang berkarakter.

Prof. Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MSi, ahli gizi dan Ketua Tim Ahli Pengembang Modul Gesid, menegaskan bahwa kondisi kesehatan pada usia remaja memiliki dampak terhadap kualitas hidup di masa mendatang. “Buku panduan ini berisi tiga pilar utama bagi remaja. Ketiga pilar ini tidak hanya mengajarkan komposisi makanan yang dapat memenuhi kecukupan gizi, tetapi juga bagaimana semua itu akan memengaruhi mereka di masa mendatang dan mengajak mereka untuk bertanggung jawab atas diri sendiri.”

Prof. Anna, panggilan akrab Sri Anna Marliyati, menjelaskan tiga pilar yang terdapat dalam buku panduan Gesid.

Pertama, Aku Peduli, membantu remaja mengenali tubuhnya, mulai dari ciri pubertas, kesehatan reproduksi, hingga pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan dan bagaimana kondisi kesehatan saat ini berdampak saat mereka tumbuh dewasa dan menjadi orangtua.

Kedua, Aku Sehat: memberikan pemahaman mengenai peran gizi bagi kesehatan dan kualitas hidup, berbagai permasalahan gizi yang terjadi pada remaja dan bagaimana menghindari atau mengatasinya.

Ketiga, Aku Bertanggung Jawab: mengajak remaja memahami permasalahan sosial seperti pernikahan dini dan dampaknya. Pilar ini juga menjelaskan proses pembentukan karakter pada remaja untuk membantu mereka membangun pribadi yang positif. (est)