Cegah Covid-19, Perkuat Daya Tahan dengan Temulawak

33

 

Jumlah pasien positif Covid-19 di Indonesia per Minggu (29/3), bertambah menjadi 1.285 orang, 114 orang di antaranya meninggal dunia, dan 64 orang dinyatakan sembuh. Presiden Jokowi sudah memerintahkan untuk mempercepat deteksi dini pasien yang kemungkinan terpapar Covid-19 dan mendatangkan alat rapid test, memperkuat tracing kontak pasien, serta mendatangkan alat pelindung diri (APD) sebanyak 9 ton yang siap didistribusikan untuk tenaga medis.

Pemerintah juga telah mentransformasi Wisma Atlet Kemayoran menjadi rumah sakit darurat Covid-19 dan juga sebagai rumah isolasi. Presiden Jokowi juga telah meminta masyarakat untuk serius menerapkan social distancing dan hal preventif lainnya seperti menjaga pola hidup bersih sehat, demi menekan penyebaran Covid-19.

Menurut dr. Erlina Burhan, Sp.P(K), M.Sc, Konsultan Paru Sub Infeksi RSUP Persahabatan, orang yang terkena Covid-19 akan mengalami demam, batuk, dan pilek. Bila infeksinya sudah sampai ke paru,  bisa mengalami pneumonia (radang paru) hingga mengalami kesulitan napas atau sesak yang bisa berujung pada kematian. Namun, pada beberapa kasus, pengidap tidak menunjukkan gejala apa pun.

Virus korona baru (SARS-CoV-2), dinyatakan dr. Erlina, sangat pintar. Virus ini mungkin tidak membuat seseorang sakit karena memiliki daya tahan tubuh yang baik, tetapi ia bisa bersembunyi di tubuh seseorang. Kemudian, virus pun akan ditransfer kembali kepada orang dengan daya tahan tubuh lemah. Virus juga bisa menyerang anak-anak.

Merujuk laporan Business Insider, peneliti menyatakan bahwa 90% anak yang mengidap Covid-19 menunjukkan gejala ringan atau sedang, 39% berkembang menjadi pneumonia tanpa menunjukkan gejala yang jelas, 57% mengalami demam, batuk, sesak napas, sakit tenggorokan, kelelahan, sedangkan 4% lainnya tidak menunjukkan gejala apa pun. Dirinya menyarankan agar masyarakat menjaga asupan gizi seimbang, cukup istirahat, minum suplemen, dan vitamin.

“Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan karena virus ini bisa menular bila terjadi kontak langsung dengan orang yang sudah lebih dulu membawa. Namun, bila memiliki antibodi yang kuat, virus tidak bisa melumpuhkan tubuh,” ujar dr. Erlina.

Prof. Dr. Chairul A. Nidom, Ketua Tim Riset Korona dan Formulasi Vaksin dari Professor Nidom Foundation (PNF) adalah salah satu sosok yang terlibat langsung saat penanganan wabah Flu Burung beberapa tahun lalu, menjelaskan bahwa Covid-19 seperti juga Flu Burung merupakan wabah internasional atau global. Flu Burung tidak pandemi karena penularannya tidak secepat Covid-19.

Risiko kematian Flu Burung di Indonesia bisa sampai 83,9 persen, tetapi jumlah yang terinfeksi tidak terlalu banyak. Covid-19 lebih cepat penyebarannya karena bisa menular melalui kontak langsung antarsesama manusia. Karena itu, sangat penting bagi masyarakat untuk selalu menjaga daya tahan tubuh agar terhindar dari ancaman Covid -19.

Salah satu bahan alami yang dapat digunakan untuk memelihara daya tahan tubuh adalah temulawak atau Curcuma xanthorrhiza Roxb yang mengandung curcumin. Temulawak sudah lama digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk pemeliharaan kesehatan, pencegahan dan pengobatan penyakit, serta pada masa pemulihan.

Terkait infeksi Covid-19, Prof. Nidom menjelaskan, curcumin dalam temulawak mampu mengendalikan produksi sitokin akibat dari satu sel yang terinfeksi oleh virus, baik itu virus infuenza maupun Covid-19. Sitokin adalah protein yang dihasilkan sistem kekebalan tubuh, bila terpapar virus terus-menerus bisa terjadi badai sitokin yang membuat paru-paru padat dan kaku sehingga mengalami sesak napas bahkan gagal napas dan bisa berlanjut ke kematian.

Prof. Nidom mengungkapkan, dalam penelitian yang ia lakukan pada 2008, curcumin dalam temulawak mampu mengendalikan sitokin inflamatori sehingga tidak terjadi badai sitokin. Hasil penelitian Prof Nidom ini sejalan dan memperkuat hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) yang mengandung curcumin memiliki efek terhadap daya tahan tubuh yaitu sebagai imunomodulator (Cattanzaro et al, 2018). Varalaksmi, et.al. (2008) melalui penelitian in vivo juga menyatakan bahwa curcumin dapat memodulasi sistem daya tahan tubuh dengan cara meningkatkan kemampuan proliferasi sel T.

Penelitian bioinformatika yang dipublikasikan pada Maret 2020 dan kepustakaan terbaru telah menyebut bahwa curcumin merupakan salah satu kandidat antivirus SARS-CoV-2. Diharapkan curcumin yang terkandung dalam temulawak mampu meningkatkan ekspresi ACE2 bentuk soluble yang dapat menghambat terjadinya ikatan antara protein virus dengan ACE2 bentuk fixed pada permukaan sel inang, ACE 2 merupakan sel inang bagi Covid-19 (Inggrid Tania, 2020).

Dr. Inggrid Tania, M.Si., Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisonal dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), mendukung hasil penelitian tersebut. Dikatakan, secara fungsional ada dua bentuk ACE2, yaitu bentuk fixed (menempel pada permukaan sel) dan soluble (bentuk bebas dalam darah). ACE2 bentuk soluble diproyeksikan menjadi salah satu kandidat antivirus korona baru melalui mekanisme interseptor kompetitif yang mencegah ikatan antara partikel virus dengan ACE2 pada permukaan sel inang.

Temulawak sudah dikonsumsi masyarakat Indonesia selama berabad-abad. Dr Inggrid menjelaskan, berdasarkan empirical experimental evidence, scientific evidence, dan clinical evidence, temulawak terbukti aman dan memberikan manfaat daya tahan tubuh. Berbagai penelitian, terutama penelitian in-vitro dan praklinis di dunia terhadap curcumin menunjukkan bahwa curcumin bersifat antiperadangan, antivirus, antibakteri, antijamur, dan antioksidan.

Sementara itu, Dr. Raphael Aswin Susilowidodo, M.Si, VP Research and Development Soho Global Health, menganjurkan masyarakat untuk menggunakan temulawak yang telah diekstrak. Penggunaan temulawak yang telah diekstrak lebih efektif menjaga kesehatan tubuh karena kadar curcuminnya lebih terukur sehingga sesuai dengan kebutuhan tubuh. (est)