Kuatkan Imunitas Tubuh, Upaya Cegah Penyakit Menular dan Tidak Menular

34

 

Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day) yang jatuh setiap tanggal 12 Maret diperingati di Indonesia dengan tema “Ginjal Sehat untuk Semua di Mana Saja”. Sebuah pesan penting yang ingin disampaikan adalah melakukan pencegahan dan deteksi dini penyakit ginjal serta mengupayakan pemerataan akses layanan kepada seluruh masyarakat.

Penyakit ginjal kronis (PGK) ditandai kerusakan atau gangguan fungsi ginjal yang berjalan lebih dari tiga bulan. Data global tahun 2019 menunjukkan, 1 dari 3 orang di populasi umum berisiko untuk mengalami PGK. Saat ini diperkirakan 10% dari penduduk dunia terkena PGK, tetapi 9 dari 10 penderita tidak menyadari kondisinya karena gangguan fungsi ginjal awalnya tidak menimbulkan gejala. Keluhan biasanya baru timbul bila fungsinya sudah sangat menurun.

dr. Aida Lydia, Sp.PD-KGH, PhD. Foto: Esti

“PGK merupakan penyakit yang bersifat progresif, bila tidak ditatalaksana secara optimal akan berujung pada penyakit ginjal tahap akhir (gagal ginjal). Bila terjadi gagal ginjal, diperlukan terapi pengganti ginjal dengan tiga modalitas pilihan terapi, yaitu hemodialisis (cuci darah), peritoneal dialisis (CAPD), dan transplantasi ginjal,” kata dr. Aida Lydia, Sp.PD-KGH, PhD, Ketua Umum PB Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri), kepada media, Rabu (11/3/2020).

Ditambahkan, data kejadian PGK di dunia diperkirakan sekitar 11-13 persen dengan mayoritas pasien berada pada stadium tiga. Penyakit ginjal tahap akhir (gagal ginjal) diderita 5-10 juta orang di seluruh dunia. Namun, angka ini hanya puncak dari fenomena gunung es karena insiden PGK diperkirakan jauh lebih tinggi dari angka gagal ginjal.

Di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi PGK pada penduduk usia di atas 15 tahun sebanyak 0,38 persen atau 739.208 jiwa dengan prevalensi tertinggi di Kalimantan Utara 0,64 persen dan terendah di Sulawesi Barat 0,18 persen. Jumlah ini meningkat hampir 2 kali lipat bila dibandingkan dengan tahun 2013, yaitu 0,2 persen.

Diperkirakan angka yang sebenarnya lebih tinggi karena penelitian Pernefri pada 2006 di beberapa titik di Jawa mendapatkan kejadian PGK sekitar 12,5 persen. Sementara itu, data Indonesian Renal Registry (IRR, 2018) memperkirakan angka kejadian gagal ginjal yang memerlukan dialisis sekitar 499 per satu juta penduduk.

“Dari ketiga jenis terapi, transplantasi ginjal paling baik karena bisa mengembalikan fungsi ginjal seperti normal kembali, meski terkendala soal donor. Saat ini Indonesia tengah mengembangkan donor dari jenazah,” ujarnya.

Beban Besar

Beban penyakit ginjal amatlah besar, baik secara ekonomi maupun dampak terhadap kesehatan itu sendiri. Dialisis menghabiskan dana BPJS Kesehatan keempat tertinggi setelah penyakit jantung, kanker, dan stroke. Data Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) 2019, jumlah total pembiayaan untuk penyakit katastropik mencapai Rp 20,27 triliun atau 21,99 persen dari total biaya pelayanan kesehatan tingkat lanjut yang mencapai Rp 92,187 triliun.

Satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk menekan angka kesakitan dan kematian sekaligus mengurangi beban ekonomi negara adalah dengan melakukan pencegahan penyakit ginjal sedini mungkin. Deteksi dini sangat penting karena penyebab utama terjadinya gagal ginjal adalah hipertensi (36%) dan diabetes (28%). PGK dan gagal ginjal bisa dicegah, dan progresivitas penyakitnya menuju gagal ginjal dapat diperlambat.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) Kementerian Kesehatan, dr. Cut Putri Arianie, MHKes, menyebut paling baik adalah mencegah faktor risiko terjadinya penyakit gagal ginjal, yakni obesitas, hipertensi, dan diabetes, dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Delapan langkah mudah bisa dilakukan siapa saja.

Langkah pertama adalah beraktivitas fisik secara teratur selama 150 menit dalam seminggu atau 30 menit setiap hari. Kedua, konsumsi makanan sehat dengan menghindari gula, garam, dan lemak secara berlebihan. Ketiga, kontrol tekanan darah. Keempat, rutin cek kadar gula. Kelima, monitor berat badan secara berkala. Keenam, minum air putih minimal dua liter per hari. Ketujuh, tidak mengonsumsi obat-obatan yang dapat memengaruhi fungsi ginjal. Kedelapan, berhenti merokok.

Bersamaan dengan merebaknya virus korona penyebab penyakit Covid-19, dr. Cut menilai PHBS berperan besar dalam menjaga imunitas tubuh. “Intinya adalah kalau kita mau mencegah penyakit tidak menular dan penyakit menular, paling penting adalah menjaga imunitas tubuh. Kuncinya, adopsi PHBS,” katanya lagi. (est)