Indonesia Juga Waspada Demam Berdarah Dengue

29

 

Triwulan awal tahun ini Indonesia mengalami lonjakan kasus demam berdarah dengue dibandingkan dengan 2019. Bila tahun lalu di angka 14 ribu, hingga 11 Maret sudah terjadi 17.820 kasus, sebanyak 104 meninggal. Kasus paling tinggi di Provinsi Lampung sebanyak 3.423, diikuti Nusa Tenggara Timur (NTT) 2.711 kasus. Di tengah pandemi global penyakit Covid-19 akibat virus korona, Indonesia juga harus mewaspadai demam berdarah dengue (DBD) karena hingga kini belum ada obatnya.

“Karena kita tinggal di negara tropis, selama masih ada nyamuk Aedes aegypti, pasti ada kasus DBD. Di Papua, penderita DBD lebih sedikit karena di sana lebih banyak nyamuk Anopheles,” ujar dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P) Kementerian Kesehatan, kepada media di kantornya di Jakarta, Rabu (11/3/2020).

Kanan: dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P) Kementerian Kesehatan. Foto: Esti

Ditambahkan, bila DBD karena nyamuk, Covid-19 karena transmisi antarmanusia. “Penderita Covid-19 punya riwayat perjalanan dan kontak dengan orang yang pernah menjalani perjalanan di lokasi terwabah. Atau minimal, ada kontak dengan orang yang pernah positif Covid-19. Sama-sama demam, tetapi pada DBD umumnya setelah demam tiga hari, pada hari keempat dan seterusnya, pasien keluar keringat dingin. Saat itu biasanya pasien merasa sudah enak, padahal kondisinya justru berbahaya karena ada potensi syok perdarahan, dan bisa berakibat kematian bila tidak segera dibawa ke rumah sakit,” ujarnya.

Empat Serotipe

Kenaikan kasus DBD di Indonesia tahun ini paling besar terjadi pada anak-anak usia di bawah 1 tahun. Pada 2019 sebanyak 1,55 persen, tahun ini 2,13 persen. Kemenkes mencatat 10 provinsi yang paling banyak ditemukan kasus selain Lampung dan NTT, yakni Jawa Timur (1.761 kasus), Jawa Barat (1.420), Jambi (703), Jawa Tengah (648), Riau (602), Sumatera Selatan (593), dan NTB (558). DKI Jakarta menduduki peringkat ke-8 dengan 583 kasus.

Sementara itu, tiga kabupaten di NTT sudah menetapkan kasus luar biasa (KLB) DBD, yakni Kabupaten Lembata, Sikka, Kabupaten Alor. “Sebanyak 32 dari 104 kematian ada di Provinsi NTT. Dari jumlah itu, 14 kematian terjadi di Kabupaten Sikka. Pasien biasanya terlambat datang ke rumah sakit karena jarak tempuh ke Maumere kurang lebih dua jam,” ungkapnya.

Yang harus disadari, ada beberapa gejala spesifik DBD yang bisa segera dikenali, di antaranya pusing, mual, atau nyeri otot. Kadang timbul bintik merah di bawah kulit yang tidak hilang bila kita pencet dengan dua jari. Waspada pula bila timbul mimisan atau gusi berdarah.

“Banyak pasien mengabaikan penyakitnya karena biasanya dokter hanya akan menyuruh mereka datang lagi dua hari kemudian untuk kembali cek trombosit. Saat itu pasien merasa sudah baikan, tetapi sebetulnya potensi trombosit untuk turun masih sangat tinggi. Penurunan trombosit yang terus menerus bisa berakibat fatal,” katanya.

Hingga kini belum ada vaksin yang ampuh menanggulangi DBD karena terdapat empat serotype. Karena itu, orang yang sudah pernah sakit DBD ada kemungkinan mengalami sakit yang sama di kemudian hari. “Pasien sudah punya antibody dengan serotype yang pertama, tetapi kena karena serotype yang lain. Itu sebabnya DBD bisa berulang,” katanya lagi. (est)