Doktor ITS Kembangkan Sistem Pencitraan 3D untuk Kontur Tulang

24

 

Surabaya – Turut membantu mengembangkan fungsi pencitraan dalam dunia medis menggunakan ultrasound, mahasiswa program doktor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merancang sistem pencitraan ultrasound untuk merekontruksi kontur luar tulang (bone outer counter) secara 3D. Topik ini diangkat dalam disertasi yang dipresentasikan pada Sidang Terbuka Promosi Doktor di Departemen Teknik Elektro ITS, Selasa (25/2/2020).

Tita Karlita menjelaskan, selama ini computerized tomography (CT) diakui sebagai standar terbaik (good standart) dalam pencitraan tulang. Namun, metode yang menggunakan X-ray ini, dijelaskan Tita, memiliki paparan radiasi yang tinggi. “Sehingga frekuensi penggunaannya untuk manusia dibatasi,” tuturnya.

Berdasarkan pemaparan Tita, saat ini ultrasound memang belum disarankan untuk pencitraan tulang. Namun, ia memaparkan bahwa ultrasound memiliki kelebihan tidak memancarkan radiasi, banyak terdapat di medical center, serta harganya lebih murah. Hal ini yang membuatnya membulatkan tekad mengambil topik penelitian untuk meraih gelar doktornya ini.

Lewat disertasi berjudul Reconstruction of long Bones Using 3D Ultrasound Imaging System, Tita memperkenalkan NEURON, sistem pencitraan 3D menggunakan ultrasound. Dosen Informatika di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ini menjelaskan bahwa NEURON merupakan penggabungan dua metode, yaitu Regent Proposal Network (RPN) dan Curve Approximation.

Tita menjelaskan penelitiannya yang dibimbing oleh Prof Dr Ir Mauridhi Hery Purnomo MEng, Dr I Ketut Eddy Purnama ST MT, dan Dr Eko Mulyanto Yuniarno ST MT ini menggunakan RPN yang merupakan salah satu metode deep learning. Metode ini berfungsi untuk memperkecil area deteksi tulang. Kemudian, lanjut Tita, hasil tersebut diekstraksi menggunakan metode Curve Approximation. “Hasil penggabungan keduanya didapatkan pencitraan 3D kontur luar tulang,” ungkapnya.

Terkait perbedaan dengan 3D Ultrasound yang banyak digunakan di rumah sakit, Tita mengatakan bahwa secara kerja di belakang layar hampir sama. Yang membedakan adalah 3D Ultrasound hanya melakukan pemindaian dan rekonstruksi, tanpa segmentasi. Sementara NEURON berusaha menghilangkan gangguan-gangguan seperti otot atau tendon, sehingga tujuan rekonstruksi kontur tulang dapat terlaksana. “Berbeda dengan 3D Ultrasound yang bertujuan memindai organ tubuh,” ujarnya.

Contoh aplikasi dari pencitraan 3D kontur tulang ini adalah pada bidang antropologi forensik. Tita menjelaskan, antropologi menggunakan tulang sebagai salah satu objek untuk mengidentifikasi individu. Bidang tersebut membutuhkan data yang banyak. “CT memiliki keterbatasan dalam mengambil sample yang banyak, sehingga ultrasound dapat menjadi alternatif,” katanya lagi. (*/est)