Lagi, Paling Baik Cegah Virus Korona dengan Memperkuat Sistem Kekebalan Tubuh

101
Gunakan masker agar tidak menularkan penyakit. Foto: Rayi Gigih/IO

 

Penyebaran virus korona tipe baru atau Covid-19 terus bertambah. Korban tewas akibat epidemi virus korona terus meningkat. Hingga Jumat (18/2/2020) jumlah total kematian di Cina menjadi setidaknya 1.873 orang dan jumlah total kasus yang dikonfirmasi naik menjadi 73.332. Sebagian besar kematian yang dilaporkan, 94 orang, terjadi di Provinsi Hubei, lokasi wabah pertama kali ditemukan. Tercatat 454 kasus virus korona di 24 negara selain Cina.

Saat ini memang belum ada korban virus korona di Indonesia. Meski demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, Indonesia harus berbuat lebih banyak untuk mempersiapkan kemungkinan wabah virus korona. WHO berharap Indonesia bisa meningkatkan pengawasan, deteksi kasus, dan persiapan di fasilitas kesehatan yang ditunjuk.

Kepada media di Jakarta, dalam acara bertajuk “Cegah Virus Korona dengan Memperkuat Sistem Pertahanan Tubuh” yang diselenggarakan oleh Soho, Rabu (19/2/2020), dr. Erlina Burhan, Sp.P(K), M.Sc, Konsultan Paru Sub Infeksi di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta Timur, mengatakan bahwa masyarakat tidak perlu panik karena virus korona hanya menular bila terjadi kontak langsung dengan orang yang sudah lebih dulu mengidap. Virus korona menyebar dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin, atau kontak dekat. Namun, bila seseorang memiliki antibodi yang kuat, virus korona tidak bisa melumpuhkan tubuh.

dr. Erlina Burhan, Sp.P(K), M.Sc. Foto: Esti/IO

“Tidak perlu panik karena virus korona menular melalui kontak langsung dengan pengidap, biasanya lewat droplet alias percikan ludah. Sejauh ini di Indonesia belum ada korban virus korona, jadi lingkungan hidup kita relatif masih aman. Namun, tindakan pencegahan tetap perlu dilakukan. Pencegahan yang paling efektif adalah dengan memperkuat antibodi sehingga tubuh kebal terhadap serangan virus, termasuk korona,” ujar dr. Erlina.

Ia menganjurkan semua pihak menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Menjaga kebersihan seperti rutin mencuci tangan dapat mengurangi risiko penyebaran virus hingga 37%. Dianjurkan pula untuk rutin mencuci tangan selama 20 detik dengan sabun setelah memegang instalasi publik; menutup mulut dan hidung dengan masker atau tisu ketika bersin atau batuk; dan rutin membersihkan diri setiap habis bepergian. Buang kebiasaan memegang mulut, hidung, dan mata untuk menghindari tertular virus.

Imunitas Dipengaruhi Usia

Kajian terkini mengenai wabah Covid-19 dikutip Journal of the American Medical Association yang merujuk pada analisis pasien di RS Jinyintan di Wuhan, menemukan bahwa setengah dari pasien yang tertular Covid-19 berusia 40 hingga 59 tahun. Hanya 10% di antaranya di bawah 39 tahun, tetapi bukan berarti virus korona tidak bisa menyerang anak-anak.

“Bayi dan anak-anak justru objek yang rentan terserang virus. Alasannya, sistem imunitasnya masih belajar mengenali dan melindungi tubuh dari kuman yang masuk. Berbeda dengan pada remaja dan orang dewasa, sistem imunitas tubuhnya sudah langsung mengenali dan segera menyerang begitu kuman masuk ke dalam tubuh,” kata Prof. dr. Bambang Supriyatno, Sp.A(K), Konsultan Respi Anak di RSCM, Jakarta, dalam kesempatan yang sama.

Dirinya menyarankan orangtua untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap virus korona. Beberapa langkah baik yang bisa mencegah anak terserang virus adalah melengkapi imunisasi anak, menerapkan PHBS, dan meningkatkan daya tahan tubuh dengan asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan antibodi.

“Orangtua harus lebih cermat memantau kesehatan anak. Amati gejala penyakit yang mungkin terjadi pada anak agar bisa cepat tertangani. Cek juga apakah anak mengalami lemah, letih, lesu, karena itu bisa jadi pertanda kualitas kesehatannya sedang menurun. Bila ini terjadi, segera berikan nutrisi yang baik kepada anak agar pertahanan tubuhnya prima,” ujar Prof. Bambang.

Bersifat Dinamis

Sistem imun memang menjadi pelindung vital bagi tubuh melawan penyakit. Menurut Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI, tubuh memiliki sistem imun atau sistem pertahanan sebagai mekanisme alami untuk melawan masuknya benda asing dari luar, seperti virus, bakteri, jamur. Sistem imun adalah mekanisme tubuh untuk mempertahankan diri dari bahaya, baik yang berasal dari dalam tubuh maupun luar tubuh. Bila daya tahan tubuh lemah, benda asing akan mudah masuk sehingga menyebabkan infeksi dengan beberapa gejala, misalnya bersin, demam, dan lainnya.

Kekebalan tubuh bersifat dinamis, dapat naik turun. Imunitas dipengaruhi usia, nutrisi, vitamin, mineral, hormon, olahraga, dan emosi. Semakin dewasa, antibodi seseorang akan semakin kuat. Namun, antibodi juga bisa melemah seiring bertambahnya usia.

Imunitas tubuh bisa dijaga dan diperbaiki dengan pola hidup sehat, artinya mengasu makanan bernutrisi dan rutin olahraga. Selain itu, tidur cukup dan minum-cukup air putih juga dianjurkan sehingga bisa mendetoksifikasi racun. Kurang tidur dan stres bisa memicu turunnya imunitas tubuh yang otomatis menurunkan kualitas antibodi.

Menurut Ketua Perhimpunan Alergi dan Imunologi Indonesia itu, sistem imun dapat ditingkatkan dengan memodulasi (mengatur) sistem daya tahan tubuh menggunakan imunostimulan. Imunostimulan berperan mengaktivasi berbagai elemen dan mekanisme berbeda pada sistem imun.

Imunostimulan berfungsi meningkatkan pertahanan alamiah tubuh untuk mengatasi berbagai infeksi virus dan bakteri, dan juga berbagai penyakit yang menurunkan sistem imun. Imunostimulan dapat membantu sistem kerja imun dengan cara merangsang pembentukan berbagai sel imun yang memiliki fungsi penting, salah satunya dengan meningkatkan pembentukan antibodi dan sitokin serta memperbaiki fungsi fagosistosis.

“Jadi makanan bernutrisi itu penting untuk menjaga daya tahan tubuh. Bila seseorang tidak sempat mengonsumsi makanan yang bergizi komplet, dianjurkan untuk mengonsumsi suplemen atau imunostimulan,” ujar Prof Iris.

Ditambahkan, penggunaan imunostimulan dianjurkan pada orang-orang yang merencanakan bepergian, sering berada di pusat keramaian, dan kelompok lanjut usia. Mereka yang berusia di atas 60 tahun umumnya daya tahan tubuhnya rendah sehingga rentan terserang penyakit. Karena itu, menurutnya, meningkatkan daya tahan tubuh dalam kondisi seperti sekarang ini menjadi sangat penting untuk semua orang.

“Pada kondisi risiko paparan infeksi virus sangat tinggi, kita bisa mengasup imunostimulan. Dapat diminum dalam durasi tertentu sampai risiko paparan virus menurun dan sebaiknya dikonsumsi sebelum seseorang terinfeksi karena imunostimulan butuh waktu untuk merangsang sistem imun,” ungkapnya. (est)