Utang Luar Negeri Indonesia Capai Rp 5.660 Triliun

2

sironline.id, Jakarta – Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mencapai USD404,3 miliar atau sekitar Rp5.660 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar AS) hingga akhir Desember 2019. Utang sektor publik oleh pemerintah dan bank sentral menjadi kontributor terbesar senilai USD202,9 miliar setara Rp 2.840 triliun. Adapun utang sektor swasta (termasuk BUMN) senilai USD201,4 miliar. Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), pencapaian utang luar negeri Indonesia itu tumbuh  7,7% year on year (yoy) dibandingkan dengan realisasi kuartal IV-2018 senilai US$ 376,8 miliar.

ULN pemerintah hingga Desember 2019 tercatat US$199,9 miliar atau naik 9,1 persen. Pertumbuhan utang pemerintah itu lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat tumbuh 10,3 persen.

ULN swasta tercatat tumbuh 6,5 persen per Desember 2019 atau lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya dengan pertumbuhan 10,8 persen. ULN lembaga keuangan dan Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan (PBLK) berkontribusi terhadap perlambatan utang.

“Pertumbuhan ULN pemerintah ditopang oleh arus masuk investasi nonresiden pada Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan penerbitan dual currency global bonds dalam mata uang dolar AS dan euro. Ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi domestik yang tinggi,” tulis BI dalam keterangan resmi, Senin (17/2).

Dalam mekanismenya, utang luar negeri pemerintah diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, dengan porsi terbesar pada beberapa sektor produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (19,1% dari total ULN pemerintah), sektor konstruksi (16,6%), sektor jasa pendidikan (16,2%), sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (15,4%), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (13,3%).

Menurut BI struktur ULN Indonesia tetap sehat didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Kondisi ini tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV 2019 sebesar 36,1 persen. “Rasio ULN sebesar 36,1 persen relatif stabil dibandingkan dengan rasio pada kuartal sebelumnya. Selain itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa 88,3 persen,” terang BI.

Namun rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) trennya meningkat. Pada November 2019, rasionya ada di posisi 35,9 persen, sedangkan pada Oktober 2019 sebesar 35,8 persen. (eka)