Tantangan Transformasi Ekonomi

2
Acara seminar Pertanian Masa Depan: Transformasi vs Beban Sejarah, di Jakarta, Selasa, 18 Februari 2020.

sironline.id, Jakarta – Transformasi ekonomi bagi Indonesia adalah sebuah keniscayaan dalam rangka menghindarkan Indonesia dalam jebakan kelas menengah. Agar proses transformasi menghasilkan struktur ekonomi nasional yang kokoh diperlukan fondasi kuat dari sektor pertanian. Perwujudan fondasi yang kuat tersebut salah satunya dengan transformasi sektor pertanian yang fokus pada keberlanjutan dan integrasi dengan sektor lain. Selain dukungan transformasi secara sektoral, transformasi ekonomi memerlukan dukungan SDM dan infrastruktur yang memadai. Dua sokongan ini menjadi prioritas pemerintahan Presiden Jokowi baik di periode pertama (fokus infrastruktur) dan di periode kedua yang sedang berlangsung (fokus SDM).

Transformasi ekonomi Indonesia sudah berlangsung, namun belum tuntas dan menyisakan permasalahan yang harus segera diselesaikan. Hal ini terlihat dari porsi sektor pertanian terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) yang semakin menurun dan digantikan dengan sektor sekunder dan tersier lainnya. Pada tahun 2000, sektor pertanian menyumbang PDB sebesar 15,6 persen. Per tahun 2019, kontribusi sektor pertanian turun menjadi 12,72 persen. Penurunan kontribusi PDB ini digantikan dengan peningkatan share sektor lain, terutama sektor jasa, bukan industri. Sektor jasa yang meningkat share- nya dari 17,6 persen di 2000 menjadi 18,9 persen di 2019.

Di sisi lain, share sektor industri turun dari 27,74 persen di tahun 2000 menjadi 19,7 persen di tahun 2019. Penurunan share sektor industri ini tidak sejalan dengan proses transformasi ekonomi yang diharapkan. Akibatnya, fondasi perekonomian bisa dikatakan belum kuat. Salah satu jalan keluar untuk menguatkan transformasi tersebut adalah industrialisasi sektor pertanian, seperti negara-negara yang telah berhasil melakukan transformasi ekonominya seperti Jepang, negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Hermanto Siregar mengatakan beberapa tantangan yang dihadapi sektor pertanian di antaranya infrastruktur pertanian dan sistem logistik pertanian yang belum memadai. Penerapan berbagai jenis teknologi juga tidak optimal serta terbatasnya ketersediaan SDM pertanian berkualitas yang bisa berperan sebagai transformator. “Kondisi ini menghambat minat investor untuk mengembangkan industri pengolahan hasil pertanian,” jelasnya di acara seminar Pertanian Masa Depan: Transformasi vs Beban Sejarah, di Jakarta, Selasa, 18 Februari 2020.

Menurutnya salah satu jalan keluar untuk menguatkan transformasi tersebut adalah industrialisasi sektor pertanian, seperti yang dilakukan negara-negara yang telah berhasil melakukan transformasi ekonomi seperti Jepang, negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Selain itu kualitas SDM pertanian juga perlu ditingkatkan. Lulusan SMA atau SMK mau jadi petani sehingga bisa meningkatkan PDB. Akibat kendala peningkatan SDM ini, dalam satu dekade terakhir share Produk Domestik Bruto (PDB) Pertanian menurun dari sekitar 15 persen menjadi sekitar 12 persen. Jumlah penyuluh juga perlu ditingkatkan. Di tahun 2013 jumlah penyuluh pertanian Indonesia mencapai 28.494 orang, namun menurun hingga berjumlah 25.738 orang pada 2018.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Mirah Midadan menambahkan di sektor pertanian generasi milenial (tahun kelahiran 1980-2000) share-nya menurun. Kebanyakan genereasi milenial berkecimpung di sektor jasa keuangan, jasa kesehatan dan sebagainya. Banyak juga milenial yang bekerja di sektor industry tapi tidak sebanyak di sektor jasa. Generasi milenial perkotaan sangat sedikit yang bekerja di sektor pertanian, dan kebanyakan bekerja di sektor perdagangan dan industry. Milenial di perdesaan hampir 45%-nya  bekerja di sektor pertanian tapi ternyata dalam tiga tahun terakhir trennya menurun, dan meningkat di sektor industri dan perdagangan.

“Sejak 2000-2014 ada migrasi pekerja dari sektor pertanian ke non pertanian karena ada perubahan pendapatan riil yang luar biasa, yakni meningkat sampai 164 persen. Kebutuhan hidup yang kian meningkat membuat kalangan milenial mencari pekerjaan dengan pendapatan lebih besar. Ini menjadi tantangan tersendiri kalau kita ingin bertransformasi seharusnya dari sektor pertanian lalu ke sektor industri kemudian ke sektor jasa,” tambahnya.

Alasan lainnya banyak milenial yang memiliki usaha sampingan di luar non pertanian. Usia yang terbilang muda, punya keterampilan dan peluang di usaha sampingan, membuat para petani muda lebih memilih pekerjaan di sektor non pertanian.

Ia menambahkan saat ini akses untuk mendapat Kredit Usaha Rakyat juga masih rendah, di tahun 2018 realisasi KUR untuk pertanian hanya 20%, kebanyakan untuk sektor perdagangan dan ini juga menjadi penghambat. Petani tidak bankable sehingga sulit mengakses KUR. “Dalam hal ini Kementerian bisa mengambil satu tokoh pemuda milenial untuk menjadi role model generasi milenial yang berkecimpung di sektor pertanian,” ujarnya.

Pendiri INDEF Didik J. Rachbini mengatakan dukungan konstitusi atau UU sudah lebih dari cukup untuk petani, tetapi hingga saat ini kita belum bisa swasembada pangan. Impor beras contohnya sangat berkaitan erat dengan politik. Perburuan rente masih terus terjadi.  Begitu juga komoditas gula, Indonesia menjadi importir gula terbesar di dunia. Melansir data Statista, Indonesia menjadi pengimpor gula terbesar di dunia sepanjang 2017-2018. Indonesia mengimpor 4,45 juta metrik ton, sementara China 4,2 juta.

“Gula tak berhasil, kita jadi importir paling besar. Harga gula di dalam sama di luar negeri (lebih murah di luar). Perbandingan harga gula di tingkat retail tiga sampai kali lipat lebih besar dari luar negeri. Itulah mengapa, ‘perebutan kue gula’ ini masif sekali,” tambahnya.