Dosen ITS Rancang Aplikasi dan Model Penaksiran Jaminan Halal

15
Prof Iwan Vanany ST MT PhD menunjukkan model penaksiran jaminan halal rancangannya.

 

Surabaya – Indonesia merupakan negara Muslim terbesar di dunia, tetapi masih belum banyak kajian makanan halal yang menguatkan kapabilitas organisasi, perusahaan, dan halal research centre. Melihat hal tersebut, Prof Iwan Vanany ST MT PhD, salah satu dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), melakukan penelitian mengenai kajian produk makanan halal dengan harapan dapat memberikan kontribusi baik dari sisi praktis maupun dari sisi keilmuan.

Iwan menjelaskan, yang dilakukan dalam kajiannya ini adalah membuat model penaksiran jaminan mutu untuk membantu para pelaku usaha industri makanan halal. “Model yang sudah ada sebelumnya belum komprehensif, karena tidak sampai menunjukkan keterkaitan antara kriteria Halal Assurance System (HAS) dengan proses, faktor, hingga menentukan action plan-nya,” ungkap dosen Teknik Industri ini.

Ia mengatakan bahwa masih ada ruang kosong penelitian yang belum dilakukan dari sisi keilmuan, serta masih ada model dan perangkat lunak yang dibutuhkan oleh para praktisi. Penelitian yang dimulai tahun 2018 ini memiliki dua luaran utama yang telah berhasil dilakukan. Pertama, yaitu model penaksiran jaminan halal yang diimplementasikan di sebuah perusahaan industri pengolahan produk ayam di Jawa Timur, dan hasilnya sudah berhasil dipublikasikan di Journal of Islamic Marketing.

Kedua adalah membuat perangkat lunak untuk sistem informasi berbasis traceability untuk lembaga auditor dan penyedia makanan halal. “Jadi total terdapat dua hak cipta, yaitu software Halal Assurance Information System (HAIS) dan kustomisasi rules dan modules di ERP Odoo system yang telah berhasil dibuat, di samping itu juga telah berhasil dipublikasi di empat seminar internasional bereputasi,” kata Iwan dalam rilis yang diterima Independent Observer.

Tampilan model penaksiran jaminan halal pada layar komputer.

Dalam membuat model penaksiran jaminan mutu digunakan model manajemen kualitas dengan metode Quality Function Deployment (QFD). Di mana pedoman utamanya adalah panduan HAS dan proses bisnis di industri pengolahan makanan halal. Selain itu, untuk memudahkan programmer dalam membuat perangkat lunak diterapkan ilmu pemetaan proses bisnis dengan metode Unified Modeling Language (UML).

“Model penaksiran jaminan halal yang telah diimplementasikan di industri pengolahan produk ayam membutuhkan tiga tahapan,” kata Iwan. Tahap pertama, mengidentifikasi kriteria dari HAS yang terkait proses studi kasus. Tahap kedua, menentukan faktor-faktor halal yang kritis dan keterkaitannya dengan proses. Terakhir adalah menentukan action plan berdasarkan nilai yang berdampak besar mengurangi kemungkinan ketidakhalalan, yang terjadi dari proses awal sampai proses akhir produk makanan halal.

Lelaki yang pernah menempuh pendidikan di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) ini mengatakan, penelitian tersebut berhasil karena adanya kolaborasi dengan rekan dosen lain dari departemen Teknik Industri, Informatika, dan Elektro, serta mahasiswa Teknik Industri ITS, dan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal BPJPH. Ia pun berharap apa yang dihasilkan dalam penelitiannya tersebut dapat digunakan oleh para praktisi terkait makanan halal.

“Sejauh ini, model perangkat lunak mereka telah menjadi salah satu referensi bagi rekan-rekan BPJPH yang hendak membuat sistem informasi manajemen halal di Indonesia,” ujarnya. (*/est)