Waspadai Penyakit Jantung pada Perempuan

34
Jantung penyebab kematian 1 dari 3 perempuan di Indonesia. Foto: Rayi Gigih

 

Penyakit jantung merupakan salah satu penyakit yang memberikan beban finansial paling besar bila dibandingkan dengan penyakit tidak menular lainnya. Pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) 2018 menunjukkan sebanyak 1,3 juta orang atau 0,8% peserta JKN mendapat layanan untuk katastropik sebesar Rp 20,4 triliun, hampir 52% alias Rp 10,5 triliun untuk penyakit jantung. Demikian diungkapkan dr. Asik Surya, MPPM, Kasubdit Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Kementerian Kesehatan, kepada media di Jakarta, Rabu (11/12/2019).

Ditambahkan, penyakit jantung yang umum diderita adalah penyakit jantung koroner, disebabkan adanya hambatan aliran darah ke jantung. Faktor risiko penyakit jantung dibagi dua, yaitu dapat dan tidak dapat dimodifikasi. Faktor yang tidak dapat dimodifikasi adalah faktor risiko yang tidak dapat diubah, seperti umur, jenis kelamin, dan riwayat keluarga, atau faktor genetik. Sementara itu, faktor risiko yang dapat dimodifikasi seperti obesitas, kebiasaan merokok, kurangnya aktivitas fisik, diet tinggi lemak, konsumsi garam berlebih, dislipidemia, konsumsi alkohol berlebih, dan faktor psikososial.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menemukan bahwa prevalensi penyakit jantung pada wanita mencapai 1,6%. Angka ini lebih besar dibandingkan prevalensi pada laki-laki yang menempati angka 1,3%. Penyakit jantung pada perempuan juga memiliki gejala yang berbeda dibandingkan laki-laki, menjadikannya lebih sulit didiagnosis dan diobati.

Dr. dr. Sally Aman Nasution, Sp.PD, KKV

Dalam kesempatan yang sama, Dr. dr. Sally Aman Nasution, Sp.PD, KKV, dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan kardiovaskular di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM). menyatakan bahwa penyakit jantung pada perempuan dapat dikenali lewat beberapa gejala, seperti rasa nyeri atau tidak nyaman pada dada, pegal di tubuh bagian atas seperti leher dan punggung, sesak napas, sering berkeringat dingin, nyeri kepala ringan mendadak, serta mual atau nyeri pada ulu hati. Namun, gejala ini seringkali disalahartikan sebagai maag menyebabkan banyak dari penyakit jantung pada perempuan tidak terdeteksi.

“Penyakit jantung pada perempuan seringkali tidak terdeteksi karena gejalanya yang tidak disadari. Karenanya, sangat penting mengetahui kondisi tubuh sendiri. Salah satunya dengan menjaga gaya hidup dan pola makan serta melakukan screening jantung teratur. Padahal, jantung penyebab kematian 1 dari 3 perempuan di Indonesia,” ujar dr. Sally, panggilan akrabnya.

Penyakit jantung pada perempuan seringkali muncul pada perempuan yang sudah memasuki masa menopause disebabkan menurunnya hormon estrogen, yang dapat melindungi jantung dan membuatnya lebih kuat. Kondisi fisik saat wanita menginjak menopause dan berkurangnya kadar estrogen ini dapat menjadikan perempuan rentan terhadap penyakit jantung.

Selain faktor kadar estrogen, terdapat beberapa faktor risiko nontradisional (tidak umum) yang hanya dapat terjadi pada perempuan, yaitu kehamilan. Saat seorang perempuan hamil, tubuhnya akan menyediakan darah dua kali lipat. Namun, jika sang ibu memiliki kelainan jantung bawaan ataupun menderita faktor risiko penyakit jantung seperti hipertensi, atau diabetes, kemungkinan sang ibu mengalami gangguan jantung di saat hamil akan meningkat.

“Kehamilan menyebabkan stres secara fisik pada tubuh ibu, akibatnya jantung akan dipaksa untuk bekerja lebih keras,” katanya lagi. (est)