Teknologi PRP Sembuhkan Nyeri Lutut Tanpa Operasi

50
Nyeri sendi ganggu aktivitas sehari-hari.

 

Nyeri lutut dapat dialami siapa saja tanpa memandang usia. Menurut data, nyeri lutut merupakan penyebab kedua pasien mengunjungi dokter karena dapat mengganggu aktivitas harian. Sendi lutut termasuk organ yang rentan mengalami kerusakan dan nyeri karena fungsinya dalam menopang berat tubuh, terutama saat beraktivitas seperti berjalan, melompat, atau berlari.

Meski dapat sembuh dengan sendirinya, banyak kasus nyeri lutut yang menetap dan jika tidak diobati dengan segera dapat menghambat aktivitas penderitanya. Selain nyeri yang mengganggu, penderita umumnya mengalami sejumlah gejala seperti bengkak, kemerahan, dan kaku atau sulit digerakkan.

dr. Ibrahim Agung, Sp.KFR: “Nyeri sendi bisa diobati tanpa operasi.”

“Penyebab nyeri lutut antara lain pengapuran, biasa disebut osteoarthritis biasanya akibat proses penuaan, umumnya dialami mereka yang berusia di atas 50 tahun, selain karena cedera dan radang sendi. Cedera bisa pada ligamen atau komponen penyangga lutut seperti tendon, tulang rawan, dan kantong cairan sendi (bursa). Bisa juga akibat gangguan mekanis, misalnya iliotibal band syndrome (ITBS) yang sering dialami oleh pelari,” kata dr. Ibrahim Agung, Sp.KFR, physical medicine and rehabilitation (musculoskeletal) specialist dari Klinik Patella, kepada media di Jakarta, Sabtu (14/12/2019).

Penanganan nyeri lutut ini dapat dilakukan dengan beberapa metode, salah satunya injeksi dengan Platelet-Rich Plasma, biasa disingkat PRP, yang memiliki prinsip kerja regenerasi, yakni memudakan kembali sendi yang sudah menua. Terapi PRP dilakukan dengan cara mengambil darah pasien kira-kira 8-10 cc yang kemudian diproses dengan sentrifugasi menjadi dua lapisan, lapisan bawah berisi darah merah dan lapisan atas yang berisi plasma. Komponen plasma (platelet) yang kemudian disuntikkan ke sendi lutut.

“PRP mengandung faktor pertumbuhan (growth factor) dan protein lain yang dapat merangsang terjadinya proses perbaikan jaringan sehingga efektif untuk membantu penyembuhan dan perbaikan jaringan yang rusak secara alamiah. PRP diberikan sebanyak tiga kali (satu kali per bulan), dengan evaluasi setelah enam hingga 12 bulan,” tuturnya.

Ditambahkan, tujuan pemberian PRP sebagai salah satu penatalaksanaan nyeri lutur adalah untuk mengurangi nyeri dengan cara memperbaiki fungsi sendi, serta memperlambat atau menghentikan kerusakan pada jaringan tulang rawan (kartilago), proses peradangan, serta perburukan osteoarthritis. Paling penting adalah menstimulasi terbentuknya jaringan tulang rawan baru dan meningkatkan produksi cairan lubrikasi alami di sendi sehingga dapat mengurangi nyeri akibat gesekan.

Sebelum diterapi dengan PRP, pasien sebaiknya menjalani rontgen, dan dalam posisi berdiri. Dengan rontgen, dokter mendapat gambaran jelas kondisi tulang dan sendi pasien. “Minta difoto dari bagian depan dan samping. Foto depan bisa melihat tulang paha, kering, dengkul, begitu juga sebaliknya. Dari sini dokter akan memberitahukan terapi yang efektif,” ujarnya.

Tidak untuk Wanita Hamil

Diungkapkan, American Academy of Orthopedic Surgeons and International Cellular Medicine Society sudah menyetujui pemberian PRP untuk pasien dengan gangguan nyeri lutut yang tidak berhasil sembuh dengan terapi fisik, konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), aspirasi sendi, ataupun injeksi steroid. Sementara itu, menurut National Institute for Clinical Excellence (NICE), injeksi PRP untuk mengatasi nyeri lutut akibat osteoarthritis dapat dikatakan minim risiko.

Namun, ada kontraindikasi yang juga perlu diwaspadai dokter sebelum memberikan terapi PRP. Di antaranya pasien sedang dalam kondisi medis yang dapat memburuk dengan injeksi, mengalami perdarahan, menjalani terapi dengan antikoagulan, serta menderita anemia atau alergi.

“Juga bila pasien diketahui tengah hamil, pemberian PRP tidak disarankan. Pada mereka yang sudah menjalani PRP, disarankan untuk menggunakan brace, memberi kompres dingin untuk meredakan bengkak dan nyeri, serta melatih otot untuk membangun dan mempertahankan kekuatan otot di sekitar sendi selain memperlambat proses degenerasi di sendi lebih lanjut,” katanya lagi.

Bila ingin mendapatkan terapi ini, pasien sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Sebagai informasi, Klinik Patella menyediakan layanan ini, dengan estimasi biaya Rp 5 juta. (est)