Jokowi Perintahkan Kapolri Ungkap Kasus Novel Dalam Hitungan Hari

3

Sironline.id, Jakarta – Memperingati hari anti korupsi sedunia 9 Desember, Presiden Joko Widodo mengingatkan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan yang terjadi 11 April 2017. Namun hingga 9 Desember 2019, Polri belum juga mengungkap kasus penyidik KPK tesebut. Padahal Jokowi telah memberi tenggat waktu kepada Kapolri Jenderal Idham Azis untuk mengungkap kasus Novel sampai awal Desember 2019.

“Saya sudah sampaikan ke Kapolri yang baru, saya beri waktu sampai awal Desember (2019). Saya sampaikan awal Desember,” kata Jokowi ketika berdialog dengan wartawan di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (1/11) lalu.

Lewat tenggat waktu yang diharapkan, Jokowi memanggil Kapolri ke Istana Presiden, Senin (09/12/2019). Dengan tegas Jokowi memerintahkan Kapolri menuntaskan kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan dalam hitungan hari. Jokowi ingin Idham segera mengumumkan siapa penyerang penyidik KPK itu.

“Saya tidak bicara masalah bulan. Kalau saya bilang secepatnya berarti dalam waktu harian. Udah tanyakan langsung ke sana (Polri),” kata Jokowi, di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Selasa (10/12).

Menurut Jokowi, Idham menyampaikan ada temuan baru yang sudah menuju pada kesimpulan. Namun, ia tak menjawab saat dikonfirmasi apakah temuan baru ini soal pelaku penyiraman.

“Sore kemarin kapolri udah saya undang, saya tanyakan langsung ke kapolri, saya juga ingin mendapatkan sebuah ketegasan, ada progres atau tidak. Hasilnya? Dijawab, ada temuan baru yang sudah menuju pada kesimpulan,” kata Jokowi usai acara Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (Rakornas TPAKD) di Hotel Mulia Senayan Jakarta, Selasa (10/12/2019).

Pasca bertemu Jokowi di Istana sekitar 20 menit, di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (9/12) sore, Idham mewakilkan pada Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Muhammad Iqbal, untuk menyampaikan jika masyarakat diminta bersabar dalam penyelidikan kasus penyiraman air keras Novel.

Ia mengklaim dalam waktu yang tidak lama lagi, tim teknis akan mengungkap pelaku penyiraman air keras ke Novel. “Sabar saja, tidak akan berapa lama lagi, tim teknis akan segera mengungkap kasus ini. Kita sudah menemukan alat bukti dan petunjuk yang sangat signifikan,” ujarnya

Iqbal menyatakan dalam pertemuan tadi, Jokowi secara umum menanyakan perkembangan kasus salah satu penyidik senior KPK itu. Ia menyebut Idham melaporkan bahwa penyerang Novel belum terungkap sampai saat ini. Jenderal polisi bintang dua itu mengatakan bahwa Idham sendiri juga sudah menunjuk Kepala Bareskrim Polri baru, yakni Inspektur Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

“(Sampai) detik ini, dan sebelumnya (belum terungkap), dan insya Allah nanti ke depan, tim teknis akan terus bekerja maksimal untuk mengungkap kasus ini,” ujarnya.

Tim Teknis Lapangan

Seperti diketahui, Polri telah melaporkan hasil kerja tim gabungan pencari fakta (TGPF) terdiri 65 orang selama 6 bulan yang berakhir 7 Juli 2019. TGPF menyampaikan laporan setebal 2700 halaman hasil temuan tim akan diserahkan pada Kapolri termasuk rekomendasi tim agar kapolri membentuk tim teknis lapangan guna melanjutkan hasil temuan TGPF.

Menindaklanjuti rekomendasi TGPF, Kadiv Humas Polri Irjen Pol Muhamaad Iqbal mengatakan Polri akan segera membentuk tim teknis lapangan yang dipimpin langsung Kabareskrim Polri  Komjen Pol Idham Azis saat itu. “Pak Kapolri telah menunjuk Kabareskrim untuk pimpin tim lapangan. Kabareskrim berhak menunjuk personil terbaik untuk melakukan tugas scientific investigation yang kami (polri) miliki,” jelasnya Juli lalu.

Juru bicara TGPF, Nur Kholis mengatakan hasil kerja tim selama 6 bulan TGPF belum dapat mengungkap pelaku penyiraman air keras pada Novel Baswedan. Tim merekomendasikan Polri untuk melakukan pendalaman terhadap 2 orang pelaku penyiraman air keras pada wajah Novel yang tertangkap kamera CCTV. Selain kedua pelaku menggunakan helm full face dan kalau saja CCTV terang (tidak gelap) akan mudah terungkap. Selain itu kami juga merekomendasikan Polri melekukan penelusuran jajak digital guna mengungkap kasus ini lebih terang.

Polri sudah menemukan alat bukti dan petunjuk yang signifikan dalam kasus ini termasuk memeriksa sekitar 37 saksi, 114 toko bahan kimia, hingga 38 titik CCTV. Bahkan CCTV itu Polri telah memeriksa secara laboratorium forensik di Mabes Polri maupun di Australia. Itu adalah salah satu bukti Polri sangat serius.

Pada kesempatan ini kadiv Humas membantah jika Polri disebut lambat menuntaskan kasus Novel. Apalagi dikaitkan unsur lain yang menghambat penyelesaiakan kasus ini. Menurutnya setiap kasus memiliki berbeda-beda dan memerlukan waktu yang berbeda dalam mengungkapnya.

“Bukannya kami tak serius, tapi memang tiap kasus memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Kami pun telah melibatkan berbagai unsur hingga kepolisian dari Australia. Jadi kami mohon masyarakat sabar. Kami sedang bekerja dan kami tidak pun tidak mau disetir termasuk oleh pemberi mandat. Kami tidak bekerja karena isu-isu yang berkembang adanya jendral ini itu yang berada di balik kasus ini, melainkan dari hasil temuan fakta dan temuan yang kami temukan,” jelasnya.

Sementara itu, ditempat terpisah, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD tidak memberikan jawaban ketika ditanya soal pengungkapan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.

Mantan ketua MK mengklaim ada banyak pertanyaan yang tidak semuanya bisa dijawab. Mahfud mengutarakan itu saat menghadiri peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin (9/12). “Banyak sekali pertanyaannya ya. Pertanyaannya macam-macam tidak bisa dijawab semua,” imbuhnya. D. Ramdani