Heni Juniarti : Bisnis Hotel tidak Ada Matinya

81

Jakarta – Siang itu, cuaca Kota Jakarta cerah, kami janji bertemu dengan Heni Juniarti, Director of Marketing Communications Horison Hotels Group di Brew and Co Cilandak Town Square, Jakarta Selatan. Kurang lebih 30 menit menunggu, Heni tiba. “Maaf ya, saya terlambat, tadi meeting dulu,” ucapnya membuka pembicaraan siang itu.

Heni tampil chic dengan blus lengan panjang dan skinny jeans dipadu dengan sepatu high heels warna pastel, ia bercerita lebih dari dua dekade berkecimpung di dunia perhotelan. Heni yang menyelesaikan studi dari Sekolah Tinggi Parawisata Bali ini mengakui bahwa saat kuliah dulu, mereka diwajibkan mengikuti training di berbagai hotel di Bali. Pengalaman itulah mendorong untuk membangun karir di dunia perhotelan.

Setelah merampungkan kuliah, ia langsung diterima bekerja sebagai sales di Hotel Kartika Plaza, Jalan MH Thamrin, Jakarta. “Saat itu di Jakarta, hotel bintang lima yang terbaik itu hanya beberapa, salah satunya ya Kartika Plaza, tapi sekarang sudah tutup. Saat itu bersaing dengan Mandarin Oriental, Hotel Indonesia. Saat itu jadi suatu kebanggaan kalau bisa masuk ke sana,” kisahnya.

Hanya satu tahun di Hotel Kartika Plaza, Heni lalu bergabung dengan Travelodge, hotel asal Australia. Sekarang sudah berganti nama menjadi Discovery Hotel Ancol. Di sini, Heni menjabat sebagai Sales Executive. “Saya semakin semangat bekerja, karena hotel ini dari brand internasional. Ini memperkaya pengalaman. Apalagi secara posisi juga meningkat,” terangnya.

Tak berhenti di situ, petualangan karir Heni terus berlanjut. Kali ini berlabuh di Hotel Gran Melia, lalu Alila Hotel dan beberapa hotel lainnya. Heni juga sempat berkarir di salah satu hotel di kota Sapporo Jepang. “Saya sempat 3 tahun kerja di hotel di sana, tapi tinggal di Jepang selama 4 tahun,” tukasnya.  Setelah melanglang ke berbagai hotel, sejak 2 tahun terakhir, Heni bergabung dengan Hotel Horison. “Saya ingin membangun brand local,” ucapnya tersenyum.

Dikatakan Heni, Horison Hotel Group memiliki 50 cabang di seluruh Indonesia, dengan 6000 kamar dan 5000 karyawan. “Jadi bagi saya ini tantangan dan pengabdian ke local brand.  Sedikit banyak pengalaman saya bisa memberi kontribusi untuk kemajuan Horison,” terangnya.

Ditengah kompetitifnya bisnis hotel, Horison bisa tetap bersaing. Horison Hotel Group memiliki 3 brand, yakni Horison Ultima untuk bintang 4, lalu Horison untuk bintang 3 dan Horison Express untuk bintang dua, @hom, Horison inn dan Erbe. “Kamar paling murah untuk bintang 4, Rp 1 jutaan, kalau bintang 2, Rp 350an,” terang Heni.

Horisan bisa bertahan selama 16 tahun ini, karena keunggulannya memiliki puluhan cabang di seluruh Indonesia dengan tingkat okupansi 80%. Cabang terbanyak Horison berada di Papua sebanyak 6 hotel. “2 cabang lagi akan dibuka tahun depan di Papua,“ ucapnya.

Horison tak hanya membuka cabang di tingkat propinsi, bahkan hingga tingkat kabupaten. “Kami punya Horison di Cilacap juga Kudus, “ucapnya. “Kita memang market local lebih besar,” sambungnya.

Salah satu keunggulan Hotel Horison Group adalah mengangkat kearifan lokal. Misalnya di Yogyakarta maka panganan yang diutamakan khas daerah itu. Misalnya Getuk.  Selain itu, mereka mencoba mengkombinasikan ragam menu western dengan bumbu khas Indonesia. “Kami memang menjunjung tinggi kearifan lokal, misalnya kita padu Spaghetti dengan kecombrang, atau Cakwe rumput laut jepang,” terangnya. Selain selalu mengutamakan kearifan lokal, di semua hotel selalu menggunakan gong juga welcome drink yakni jus sawi hijau.

Keunggulan lain yang coba ditawarkan Horison Hotels Group yakni menghadirkan program Horison Destination. “Jadi tiap hotel kami di seluruh Indonesia itu, ada paket destinasi. Misalnya 2 hari 3 malam. Kayak di Gorontalo, selain nginap di hotel kami, juga ada wisata ke Pulau Cinta,“ ucapnya.

Salah satu rencana Horison Hotels Group pada tahun 2020 akan membuka 6 cabang hotel baru di beberapa kota di Indonesia.

Mengakhiri pembicaraan, Heni menyakini bahwa bisnis hotel akan tetap moncer ke depannya. Apalagi saat ini parawisata Indoneisa sedang berkembang pesat. “Selama tempat parawisata masih ada, bisnis hotel tidak akan mati,” ucapnya.

Di dalam bisnis, selalu ada kompetitor. Namun, menurut Heni, dengan adanya kompetitor, maka kita mengetahui kelebihan dan kekurangan produk yang dimiliki. “Harus ada kompetitor, agar kita lakukan inovasi terus,” pungkasnya. (des)