Empat Perempuan Peneliti Raih FWIS 2019

10
Widiastuti Karim, Swasmi Puwajanti, Osi Arutanti, Ayu Savitri Nurinsiyah

 

Jakarta – Empat perempuan peneliti Indonesia menerima penghargaan L’Oréal-UNESCO For Women in Science (FWIS) National fellowships ke-16 atas dukungan atas usaha mengembangkan inovasi ilmiah guna mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan di Jakarta, Selasa (26/11/2019). Dilangsungkan sejak 2004, tujuan penghargaan adalah untuk meningkatkan minat dan semangat perempuan peneliti di bidang sains. Progam ini telah memberikan fellowship kepada 57 perempuan peneliti di Indonesia, lima di antaranya berhasil menerima penghargaan di kancah internasional.

Prof. Dr. Arief Rachman, Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyatakan, “Berdasarkan data UNESCO Institute for Statistics, meskipun angka ilmuwan perempuan tergolong rendah, terdapat peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Melalui program ini, kami berharap dapat mendukung para ilmuwan perempuan untuk memberikan kontribusi nyata dalam mengembangkan masa depan yang lebih baik bagi Indonesia.”

Dewan juri terdiri atas Herawati Sudoyo, Pratiwi Sudarmono, Indrawati Gandjar, Fenny M. Dwivany, Ariadne L. Juwono, Neni Sintawardani, Agus Purwanto, diketuai Endang Sukara, menetapkan empat pemenang setelah menyeleksi 54 proposal penelitian. Keempat pemenang memenuhi lima kriteria yang ditetapkan, di antaranya orisinalitas, dan dianggap bisa memberikan dampak bagi masyarakat. “Paling penting, mereka menawarkan solusi dalam jangka pendek dan jangka panjang bagi kemaslahatan umat,” kata Prof. Endang.

Keempat penerima penghargaan, pertama Widiastuti Karim dari Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana dengan proposal penelitian berjudul “Studi fungsi biologi Green Fluorescent Proteins (GFP) guna mengatasi pemutihan pada karang”. Kedua, Ayu Savitri Nurinsiyah dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), “Eksplorasi penemuan keong darat yang tepat dalam mengungkap potensi biodiversitas sebagai solusi masalah kesehatan”. Ketiga, Swasmi Puwajanti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), “Eksplorasi pengembangan super nanoadsorben multifungsi berbasis magnesium oxide dari bittern untuk dekontaminasi air yang lebih efisien”. Keempat, Osi Arutanti dari LIPI, “Eksplorasi alternatif fotokotalis material yang efisien dan dapat diaktivasi dengan tenaga surya sebagai solusi permasalahan lingkungan”.

Keempat pemenang berhak menerima fellowships masing-masing sebesar 95 juta rupiah untuk mewujudkan penelitiannya. (est)