Aprindo: Pemerintah Harus Dorong Produktivitas Masyarakat

7

sironline.id, Jakarta – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey berharap pemerintah melakukan antisipasi terhadap penurunan konsumsi rumah tangga agar tidak berkelanjutan.  Ia menjelaskan melambatnya konsumsi sudah tercermin dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS). Data BPS pada kuartal III-2019 menunjukkan konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 5,01%, turun dari kuartal sebelumnya 5,17%. Padahal konsumsi rumah tangga memiliki kontribusi yang besar pada pertumbuhan ekonomi Indonesia, yaitu sebesar 56,5%.

Beberapa komponen dalam konsumsi rumah tangga yang mengalami penurunan dari kuartal sebelumnya adalah komponen perumahan dan perlengkapan rumah tangga sebesar 1,07% dari kuartal sebelumnya menjadi 4,55%. Selain itu ada juga pencatatan penurunan lain untuk komponen transportasi dan komunikasi sebesar 0,34% dari kuartal sebelumnya sehingga menjadi 4,35%.

Di sisi lain, ada peningkatan konsumsi dalam komponen kesehatan dan pendidikan sebesar 0,75%. Hal ini terlihat dari konsumsi pada kuartal III-2019 ini yang berada di 7,34% dengan sebelumnya 6,59%.

“Memang pertumbuhan ekonomi kita melambat, ya pasti karena konsumsinya turun, karena sumbangsihnya 56% terhadap pertumbuhan. Konsumsi turun 0,16% itu signifikan,” jelasnya di acara Kongkow Bisnis Pas FM di Hotel Milenium, Jakarta, Rabu (20/11/2019).

Ia menilai konsumsi menurun disebabkan beberapa hal, seperti inflasi. Hal itu akan membuat masyarakat mengurangi pembelian. “Karena situasi kondisi harga cenderung naik tapi nilai tukar kita turun. Kemudian yang dijaga harga dalam negeri seperti BBM, listrik dan gas. Kita apresiasi pemerintah sudah berusaha menjaga,” ujarnya.

Namun ia berharap pemerintah bisa mendorong produktivitas masyarakat. Jika produktivitas menurun maka akan menekan konsumsi rumah tangga. Untuk itu harus dilakukan upaya meningkatkan pendapatan masyarakat, salah satunya dengan mendorong produktivitas.

Sebelumnya  Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan Indeks Tendensi Ekonomi (ITK) juga mengalami penurunan, dari 125,68 pada Kuartal II 2019 turun menuju 101,3. Tidak hanya konsumsi rumah tangga yang turun, investasi pun mengalami penurunan sebanyak 8,61℅. Penurunan paling terasa pada investasi sektor kendaraan sebesar 6,34 persen.

Menurutnya, penurunan investasi kendaraan terjadi karena adanya pengurangan produksi kendaraan. Disertai juga adanya turunnya ekspor dan ekonomi global. “Pada kuartal III 2019, kalau dilihat ekonomi global masih sangat diliputi ketidakpastian perang dagang yang masih berlangsung. Hal itu berdampak pada negara maju atau negara berkembang, salah satunya Indonesia,” jelasnya di Jakarta, Selasa (5/11).