Semakin Dini Diobati, Kekambuhan Kanker Semakin Kecil

7

 

Data Globocan, 2018, kanker payudara termasuk dalam lima jenis kanker dengan insiden dan kematian tertinggi di dunia. Sebanyak 42,1 per 100.000 kasus dialami perempuan dengan angka kematian berjumlah 17 per 100.000 pasien. Salah satu jenis sel kanker adalah Human Epidermal Growth Factor Receptor-2, lebih dikenal sebagai HER2-positif, yang jumlahnya sekitar 20% dari total kasus kanker payudara.

“Pertumbuhan dan penyebaran sel kanker HER2-positif lebih agresif dibandingkan dengan jenis kanker payudara lainnya, tetapi juga memiliki rangkaian pengobatan yang lengkap sehingga memberikan peluang untuk hidup berkualitas lebih lama, terlebih jika diberikan sejak stadium dini,” kata dr. Denny Handoyo Kirana, Sp.Onk, Rad, dokter radiation oncologist, kepada media di Jakarta, Selasa (29/10/2019).

dr. Denny Handoyo Kirana, Sp.Onk, Rad

Kanker payudara termasuk jenis kanker padat. Berbeda dengan kanker cair yang lini pertamanya adalah kemoterapi, terapi lini pertama pada kanker padat adalah operasi atau bedah dan radiasi. Biasanya dokter bedah akan memimpin tim. Maksudnya, dokter bedahlah yang akan menentukan apakah pasien kanker payudara dapat menjalani operasi atau tidak. Jika tidak, kemoterapi dan radiasi sifatnya membantu agar dapat dilakukan operasi.

Bila kanker melekat di dinding dada atau tulang rusuk dan menyebabkan luka terbuka misalnya, tindakan pertama adalah radiasi untuk memperkecil area yang nantinya akan dioperasi. Sebaliknya, bila sel kanker sudah menyebar ke seluruh tubuh, kemoterapi menjadi langkah yang diambil karena sifatnya sistemik.

Penentuan terapi apa yang harus dijalani pasien dan bagaimana urutannya berbeda-beda, tergantung kondisi pasien, begitu juga hasil terapinya. “Pada kanker payudara HER2-positif stadium awal dengan indicator imunohistokimia (IHK) bagus dan ukuran kanker kecil, tentu akan berbeda hasil terapinya dengan kanker yang sama tetapi dalam stadium lanjut, ukuran kanker besar, IHK dan hormonnya tidak begitu baik,” ujarnya.

Menurut dokter yang berpraktik di MRCCC Siloam Hospital ini, berdasar kondisi secara umum ada dua macam kasus kanker payudara, yakni kasus yang bagus (favourable) dan kasus yang tidak bagus (unfavourable). Kasus kanker yang favourable merujuk pada kondisi kanker yang prognosis terapinya bagus, begitu juga sebaliknya.

Dokter radiologi sangat berkepentingan terhadap kondisi pasien, apakah favourable atau unfavourable. Kanker payudara dengan HER2-positif pun demikian. Menjadi positif bila pasien mendapatkan trastuzumab, IHK-nya baik, dan berobat ke dokter saat stadium awal. “Sayangnya, mayoritas pasien berobat sudah dalam kondisi stadium lanjut,” katanya.

Pasien kanker payudara umumnya menjalani radiasi sebanyak 25-30 kali. Namun, pemberian trastuzumab dapat menurunkan intensitas pemberian radiasi. Cara kerja trastuzumab tergolong unik, yakni mengaktifkan sistem kekebalan tubuh dan menekan sinyal pertumbuhan HER2 dan menghancurkan tumor.

Meski tumornya sudah diangkat, pasien kanker wajib mendapat radiasi bila ukuran tumornya lebih dari 2 cm untuk menghindari kekambuhan. Dalam kasus kanker payudara dengan HER2-positif, pemberian trastuzumab membuat radiasi yang diperlukan pasien lebih sedikit dari seharusnya sehingga pasien merasa lebih nyaman sekaligus menghemat biaya kesehatan.

“Andai tidak mendapatkan pengobatan trastuzumab yang diperlukan, saya menganggapnya pasien unfavourable karena risiko kekambuhan akan lebih tinggi. Pasien kanker payudara HER2-positif stadium awal yang mendapatkan trastuzumab dan IHK-nya bagus, pemberian radiasi hanya 15-16 kali. Padahal, rata-rata biaya satu kali radiasi Rp 1 juta di rumah sakit tipe B. Radiasi bisa menurunkan risiko kekambuhan hampir seperempat daripada pasien yang tidak mendapatkan radiasi,” ujarnya.

Di luar negeri, pemberian radiasi pada pasien kanker cenderung lebih sedikit. Di Kanada sekitar 16 kali radiasi, Inggris 15 kali, bahkan di Korea Selatan biasanya diberikan hanya 13 kali terapi. (est)