Edhy Prabowo : “Saya ingin perjuangkan nasib nelayan agar mereka dapat tersenyum,”

7

Jakarta – Edhy Prabowo terpilih sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan kabinet Indonesia Maju. 7 hari pasca pelantikannya, kami diterima dengan hangat diruang kerjanya di lantai 16 gedung Mina Bahari 4, jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat. Pagi itu, pria yang disapa Edhy tampil rapi dengan kemeja putih lengan panjang, celana panjang hitam dan sepatu hitam. Tak lupa pin Menteri tersemat di dada kirinya.

Saat  mengucapkan selamat atas pelantikannya, dengan kerendahan hati, Edhy mengucapkan terima kasih. “Jangan diselamati dulu, ini tanggungjawab, selamatnya nanti saja kalau ada keberhasilan,” ucapnya tersenyum. “Karena ini tugas besar, kehormatan bagi saya,  membuat saya harus bekerja keras,” sambung pria yang menjadi Wakil Ketua Umum Partai Gerindra bidang Keuangan dan Pembangunan Nasional ini.

Edhy cerita, tak pernah terpikir akan menjadi Menteri. “Saya gak pernah mimpi jadi Menteri,” tukasnya. Bagi pria kelahiran Muara Enim, Sumatera Selatan, 24 Desember 1972, tentara adalah cita-cita dulu. Sayangnya ia hanya bertahan 2 tahun di Akademi Milter di Magelang, Jawa Tengah. Edhy dikeluarkan karena terkena sanksi dari kesatuan. Karena ia adalah orang yang tidak mudah putus asa dan memiliki semangat juang tinggi, setelah keluar dari Akademi Militer, ia memutuskan pindah ke Jakarta. Di kota megapolitan inilah ia mengenal Prabowo Subianto. “Alhamdullilah saya mengenal sosok pak Prabowo, beliau memberikan kesempatan, bangkit dari kejatuhan. Pada saat itu saya mulai sadar ada peluang lagi untuk membuat bangga orangtua,” terangnya.

Edhy dibiayai Prabowo mengenyam dunia pendidikan. Selain itu, Edhy juga diminta untuk belajar silat setiap akhir pekan di Batujajar, Bandung. Seiring waktu berjalan, Edhy akhirnya menjadi orang kepercayaan Prabowo. Dia menjadi orang yang mendampingi jenderal bintang tiga tersebut saat berdomisili di Jerman dan Yordania. Kala itu, Prabowo tengah merintis usaha di negeri tersebut. “Saya ikut beliau sudah 26 tahun, sekarang saya jadi Menteri. Tentu ini semua karena didikan pak Prabowo. Lalu saya dinilai pak Jokowi, juga tokoh-tokoh politik lain seperti Bu Mega, pak Surya Paloh, dan ketua umum partai lain menilai saya cukup baik untuk dipromosikan. Jadi ini semua karena pak probowo, lalu pak presiden mempercayakan saya,” jelas suami dari Iis Rosita Dewi ini.

Edhy akui bahwa tugas yang diembannya kini merupakan kepercayaan dari Presiden Joko Widodo. Ada dua hal yang menjadi perintah presiden, perbaiki komunikasi dengan masyarakat nelayan dan  bangun serta tingkatkan industri perikanan dan budidaya. “Ini jadi PR utama yang harus dilaksanakan,” ucapnya

Saat ini ada 2,7 juta nelayan di seluruh Indonesia, ditambah dengan keluarga mereka, kurang lebih ada 7 juta orang yang menggantung hidup dari laut. “Belum lagi (nelayan) budidaya, masyarakat pesisir, juga di pulau terluar, ini semua menunggu gebrakan saya. Mereka berharap ada sesuatu yang lebih maju di sektor ini, katanya

Terpilih Edhy menjadi orang nomor satu di Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) dipuji banyak kalangan, karena dinilai mumpuni dan sebagai harapan baru. Namun, Edhy tidak mau geer dengan pujian itu. “Saya juga mendengar itu, tapi masalah mumpuni harus saya buktikan juga. Terima kasih atas penilaian positif, tapi menurut saya yang paling penting adalah implementasi dari kemumpunian kepada fakta memperbaiki nasib nelayan,” jelasnya.

Mengelola KKP ini bukan menggunakan rumus fisika yang njlimet, cukup dengan memahami, mendengarkan dan menerima masukan dari nelayan. Karena kebutuhan nelayan itu sederhana. Mereka hanya butuh diberi kesempatan, kemudahan perijinan kapalnya untuk menangkap ke laut, lalu kalau mau melaut itu ada bahan bakar, bahan makanan tersedia saat sedang melaut, setelah tangkapan ada, mereka bisa menjual ikan dengan harga yang pantas. “Kalau ada apa-apa dengan keluarganya, ada jalan keluarnya. Punya uang untuk nyekolahin anaknya, anaknya sakit punya biaya bawa ke RS, dan kalau mereka mau liburan, dia punya sedikit uang untuk bawa keluarganya jalan-jalan,” terangnya.

Bagi Edhy sebagai pejabat publik, pelayanan harus yang utama pada masyarakat. Karena itu, kita harus lihat apa yang nelayan dan pelaku industri mau. “Saya bicara dengan Pak Menhub tentang layanan satu pintu, beliau setuju. Kami sepakat untuk menyederhanakan aturan tapi tidak menghilangkan kontrol kita. Kalau ini sudah, ada guratan senyum yang keluar dari nelayan-nelayan kita. Kalau bisa disederhanakan (aturan), kenapa harus diperumit. Toh mereka ini rakyat kita yang bekerja untuk negara. Kita petugas negara, jadi kita memudahkannya. Produktivitas muncul bukan karena pegawai tapi karena pelaku usahanya,” ucapnya.

Keinginan Edhy untuk memperjuangkan nasib nelayan agar mereka bisa tersenyum, bukan sekadar statement retorika agar publik menyukainya. Ia bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya. Karena berbagai hal yang sedang diupayakan.  “Saya yakin bisa (perbaiki nasib nelayan), karena bagaimana pun masih banyak yang complain tentang perijinan, jenis alat tangkap, ukuran kapal, kemudahan dalam berusaha, apalagi kita menghadapi tantangan laut dimana Indonesia penyuplai sampah terbesar nomor 2 di dunia, belum lagi bicara reklamasi, dan garis pantai kita yang sudah terkena abrasi,” tukasnya.  “Saya percaya tidak butuh waktu lama untuk melakukan itu,” sambungnya.

Dengan berbagai upaya yang sedang dilakukan KKP, Edhy yakin bahwa nelayan kita bisa sejahtera. Beragam bantuan dibuat untuk membantu nelayan. Salah satunya Badan Layanan Umum (BLU), yang memiliki dana sebanyak Rp 1,3 triliun. Dana ini bisa dipinjamkan dengan bunga 3%. “Mereka bilang kalau satu ijin saja sudah mudah, buat kami (nelayan) sudah bisa tersenyum, apalagi kalau semua masalah selesai. Ini menjadi tantangan bagi saya mewujudnya,” ungkapnya optimis.

Terkait penenggelaman kapal, menurut Edhy akan tetap dilakukan. Namun, ia tidak ingin penengelaman kapal hanya pencitraan. “Saya mau penenggelaman ril. Penengelaman itu kita lakukan manakala dia melanggar perairan kita. Begitu mengancam kedaulatan, kita harus berani pasang badan,” ucapnya. “Terkait alat tangkap yang masih menjadi perdebatan, saya mau arahnya mencari solusi. Semua audensi saya terima, ini bagian dari tugas kami. Dimana dan kapan saja kita lakukan komunikasi,” sambungnya.

Hal lain yang menjadi perhatian Edhy adalah pengolahan ikan. Menurutnya Indonesia memiliki banyak unit pengolahan ikan (UPI) yang tak kalah bagus dari yang dimiliki oleh negara lain seperti China, Korea Selatan, maupun Vietnam. Selain itu, ujar dia, teknologi yang dimiliki Indonesia pun dinilai tak kalah canggih pula. Begitu pula dengan kemampuan sumber daya manusia (SDM), lanjutnya yang dinilai tak kalah mumpuni. “Saya yakin, teknologi yang kita butuhkan bukan teknologi yang luar biasa dan yang rakyat kita butuhkan bukan dana yang luar biasa karena potensinya sudah ada di Tanah Air kita. Tinggal bagaimana kita menyelamatkan potensi ini menjadi keuntungan yang bermanfaat bagi semua masyarakat,” ucapnya.

Sebagai Menteri KKP, ingin terus melakukan terobosan untuk kemajuan nelayan. Salah satunya nelayan diajarkan untuk bisa mengoperasikan kapal, alat tangkap, dan mengolah ikan setelah tangkap. Lalu diajarkan cara meminjam uang ke bank, dan bertanggungjawab atas pinjaman tersebut. “Yang penting jangan sampai anak nelayan nggak bisa baca, gak bisa sekolah, itulah tugas utama kita dan perintah presiden untuk meningkatkan SDM kita,” tukasnya.

Mengakhiri pembicaraan, Edhy mengatakan semoga amanah yang diberikan presiden ini bisa dibuktikan dengan bekerja keras untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. (des, dan)