Bertemu Presiden Jokowi dan Ketum Partai, Prabowo Utamakan Keutuhan Bangsa dan Negara

3

Sironline.id, Jakarta – Pasca Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto bertemu Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan presiden terpilih Joko Widodo di Stasiun MRT beberapa waktu lalu seolah mengubah arah angin peta perpolitikan tanah air. Maklum sudah lumrah jika pemenang pemilu menjadi koalisi pemerintah sementara yang kalah menjadi oposisi. Tak heran saat Ketum Gerindra Prabowo Subianto kembali bertemu Presiden Jokowi di Istana Negara, Jumat (11/10/2019) berhembus Gerindra masuk koalisi pemerintahan. Terlebih Jokowi mengakui pertemuannya dengan Prabowo membahas peluang Partai Gerindra masuk ke dalam kabinet Jokowi-Amin. “Ini belum final, tapi kami sudah bicara banyak mengenai kemungkinan Partai Gerindra koalisi kita,” kata Jokowi.

Sejatinya, pertemuan kedua tokoh bangsa itu lebih mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa demi menyelamatkan Indonesia. Seperti yang disampaikan Prabowo usai bertemu Jokowi, pertemuan yang berlangsung cair dan penuh canda tawa, bahwa Gerindra siap membantu pemerintahan bila diperlukan. Bahkan untuk mendorong ekonomi bisa tumbuh tinggi, karenanya Prabowo memberikan gagasan yang optimis Indonesia akan bangkit. Seperti diketahui ekonomi di era Jokowi hanya tumbuh di kisaran 5%, stuck. “Kami akan memberikan gagasan yang optimis dan yakin Indonesia bisa tumbuh doubel digit, kami yakin Indonesia bisa bangkit, kami siap membantu kalau diperlukan,” ujar Prabowo.

Jika tidak diperlukan, Prabowo mengatakan pihaknya akan tetap di luar pemerintahan sebagai penyeimbang. “Kalau umpamanya kita tidak masuk kabinet, kami akan tetap loyal di luar sebagai, apa istilahnya check and balances sebagai penyeimbang, karena kita di Indonesia tidak ada oposisi,” ujarnya. “Tetap kita Merah Putih di atas segala hal,” tuturnya.

Pasca bertemu Jokowi, malam harinya Prabowo pun menerima kunjungan para pimpinan MPR yang akan mengundangnya untuk hadir dalam pelantikan Presiden dan wakil Presiden terpilih Minggu 20 Oktober. “Kalau diundang, saya harus datang,” tegas Prabowo disamping Jokowi.

Bertemunya Prabowo dengan Megawati dan Jokowi beberapa waktu lalu rupanya menarik sejumlah ketua partai untuk bertemu dengan mantan Danjen Kopasus itu, salah satunya Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (NasDem) Surya Paloh. Begitu juga dengan Ketum PKB Muhaimin Iskandar dan Ketum Golkar Airlangga Hartarto. Namun sebagai mantan prajurit yang sangat menghormati para pejabat tinggi negeri ini, Prabowo memilih untuk mendatangi Ketum partai di kantornya masing-masing. Maka terjadilah pertemuan Prabowo dengan Surya Paloh, Muhaimin Iskandar dan Airlangga Hartarto secara marathon, dari Minggu hingga Selasa,13-15 Oktober 2019.

Meski belum memastikan Gerindra bergabung dengan koalisi pemerintahan Jokowi-Amin, namun Ketum PKB yang akrab disapa Cak Imin sudah memberi restu supaya Gerindra diterima sebagai anggota koalisi pendukung Jokowi. “Yang namanya kerja sama demi rakyat di mana saja siap di mana saja,” kata Cak Imin di Kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, Senin malam (14/10/2019). Bahkan, Cak Imin memberikan sebuah istilah dalam ibadah salat bagi Gerindra sebagai makmum masbuk, yakni jemaah yang datang telat saat salat berjamaah sudah berlangsung. “Istilah kalau salat itu ada imam ada makmum, nah makmum yang datangnya belakang namanya makmum masbuk,” tambahnya.

Cak Imin mengatakan jika pertemuannya dengan Prabowo, bukan hanya silaturahmi tapi juga berdiskusi banyak hal menyangkut masa depan pembangunan nasional, ekonomi, dan politik. PKB dan Gerindra berkomitmen untuk bekerja agar parpol bermanfaat untuk kepentingan rakyat, bangsa, dan negara. “Pak Prabowo menyampaikan tadi bahwa beliau siap menopang, mendukung, menyukseskan pemerintahan, baik di dalam kabinet maupun di luar kabinet. Tapi intinya juga yang penting sekarang persatuan kebersamaan sinergi untuk suksesnya pembangunan,” terangnya.

Sementara itu, Prabowo menegaskan jika kunjungannya ke DPP PKB guna kepentingan bangsa yang lebih besar. “Kita harus menghindari perpecahan apalagi yang mengarah ke fisik, itu tekad saya, saya akan berjuang sekeras mungkin untuk menghindari perpecahan,” ujar Prabowo yang hadir bersama Sekjen Ahmad Muzani, Wakil Ketua Umum Sugiono, Edi Prabowo, dan Sufmi Dasco Ahmad. Terkait arah Gerindra menjadi oposisi atau koalisi Jokowi. “Itu hak prerogatif presiden, udah lah nanti ada waktunya. Kan berkali-kali saya jawab, kalau memang kita dibutuhkan kita siap. Kan begitu. Tapi kita di luar pun kita siap membantu, kita siap mendukung,” tambah Prabowo.

Sehari sebelum ke DPP PKB, Prabowo bertemu dengan Ketua Umum Partai Nasional (PAN) dan Ketum Partai NasDem Surya Paloh di kediamannya di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan. Prabowo menegaskan jika ia akan bertemu semua tokoh. “Saya akan ketemu semua tokoh,” kata Prabowo saat hendak meninggalkan kediaman Surya Paloh.

Senada dengan PKB, NasDem pun terbuka jika Gerindra masuk koalisi pemerintahan Jokowi. “Mana ada masalah buat saya? Ini artinya di dalam semangat konstitusi, kepentingan nasional, kita yakin  pak Prabowo bergabung dalam koalisi pemerintahan ini, kita memiliki keyakinan, apa yang jadi masalah?,” ujarnya. Pertemuan Prabowo dan Surya menghasilkan tiga kesepakatan. Salah satunya sepakat untuk amandemen UUD 1945 secara menyeluruh.

Sementara itu, Ketum Golkar Airlangga Hartarto mengatakan jika Golkar dan Gerindra memiliki banyak kesamaan, sehingga terbuka lebar peluang kerja sama antara Golkar dan Gerindra di parlemen. “Kalau partai Golkar dan partai Gerindra punya banyak kesamaan. Sama-sama PG, lambangnya sama segi lima, namun dalam konteks lain (koalisi), tentu domainnya Pak Jokowi,” ujar Airlangga usai bertemu Ketum Gerindra Prabowo di Kantor DPP Golkar, Jakarta, Selasa (15/10/2019).

Pada kesempatan itu, Prabowo menyambut baik tawaran kerjasama dari Golkar dan partai lainnya termasuk bergabung dalam koalisi pemerintahan. Namun Prabowo menyinggung soal ancaman oligarki di Indonesia. Menurutnya, tokoh politik bangsa jangan terlalu mapan agar tidak menimbulkan oligarki. “Kita juga harus menjaga jangan sampai akhirnya terlalu mapan, sehingga bisa-bisa kita nanti jadi oligarki,” ujar Prabowo.

Namun diatas semua itu Prabowo menegaskan sepakat dengan Airlangga untuk menjaga keutuhan negara dan bangsa. Ia berkata komunikasi yang baik dengan petinggi partai juga diharapkan dapat mewujudkan stabilitas bangsa dan negara. Menurutnya stabilitas bangsa dan negara tidak boleh dianggap remeh oleh pemerintah. Ia tidak ingin Indonesia menjadi pecah seperti banyak negara karena terjadinya ketidakstabilan bangsa dan negara. “Kalau ada perbedaan, gesekan, hal-hal yang tidak cocok di antara banyak pihak, para pimpinan harus selalu berusaha untuk menyelesaikannya dengan sejuk. Kalau ada institusi yang belum baik, mari kita perbaiki bersama,” tegasnya.

Di sisi lain, Prabowo meminta seluruh parpol terus bersaing dalam gagasan untuk membela rakyat. Ia berkata parpol harus memiliki tujuan untuk kemakmuran dan keadilan bagi rakyat. “Saya kira semua partai politik tujuannya itu. Dan sistem politik memang membutuhkan parpol yang kuat dan kompetitif. Kita akan bersaing tapi kita bersaing dalam kekeluargaan dan persahabatan,” ujarnya.

Wakil Ketua DPC Gerindra Kota Bogor, Ryanti Suryawan mengatakan Pertemuan Prabowo – Jokowi dan Petinggi Petinggi Partai janganlah disalah artikan sebagai penghianatan kepada pemilih Prabowo saat pilpres lalu. Kenapa? Karena ini adalah langkah idealis yang dilakukan seorang Prabowo untuk membuktikan bila beliau adalah seorang Patriot Bangsa. Bila ini tidak dilakukan Prabowo justru tidak baik untuk kelangsungan politik dan kelangsungan keharmonisan berbangsa dan bernegara.

Seharusnya ini dapat dipahami publik luas. Memang sulit dan mungkin tidak sedikit yang kecewa dengan langkah yang diambil seorang Prabowo. Akan tetapi pahamilah bila Prabowo memikirkan bangsa ini juga. “Mungkin saja menurut Presiden terpilih Pak Jokowi ada pemikiran dari seorang Prabowo untuk disumbangkan kedalam Pemerintahan ke depan. Karena walau bagaimanapun juga Prabowo dan Jokowi adalah putra putra terbaik saat ini. Dimana pemikiran keduanya sangat dibutuhkan untuk membangun Indonesia kembali menjadi lebih baik,” tegasnya. D. Ramdani