Kolaborasi Dua Guru Besar UI Mengabdi Negeri

13

Prof. Dr. dr. Imam Subekti, SpPD-KEMD dan Prof. Dr. dra. Valina Singka Subekti, MSi pada tanggal 12 Oktober 2019 dikukuhkan sebagai Guru Besar tetap Universitas Indonesia. Prof. Imam dikukuhkan menjadi profesor di bidang Ilmu Kedokteran dengan pidato pengukuhan yang berjudul “Kolaborasi dalam upaya pencegahan oftalmopati pada penyakit graves”, sedangkan Prof. Valina di bidang Ilmu Politik dengan pidato pengukuhan berjudul “Sistem Pemilu dan Penguatan Presidensialisme Pasca Pemilu Serentak 2019”.

Pasangan suami istri Guru Besar dari dua bidang yang berbeda tersebut telah menjadi kolaborasi unik untuk mengabdi negeri Indonesia. Keduanya diharapkan dapat memberikan masukan untuk pembangunan bangsa, mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai disiplin ilmu masing-masing, serta menjaga dan mengembangkan wawasan kebangsaan dan integritas moral dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tingginya tuntutan riset di bidang akademik, kebutuhan lahirnya Guru Besar baru semakin meningkat. Guru Besar merupakan suatu gelar kehormatan. Perjalanan menjadi Guru Besar tidaklah mudah, di UI terdapat dua aspek utama sebagai penilaian menjadi Guru Besar, yaitu aspek kuantitatif dan aspek kualitatif.

Prof. Imam merupakan staf pengajar Divisi Metabolik Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran (FK) UI, sedangkan Prof. Valina staf pengajar di Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UI. Uniknya, keduanya merupakan pasangan suami istri yang telah dikukuhkan menjadi Guru Besar di saat yang bersamaan. Sampai saat ini UI belum pernah ada pasangan suami istri yang dikukuhkan bersamaan menjadi Guru Besar.

Prof. Imam dan Prof. Valina dapat dijadikan teladan bagi masyarakat, walau dengan perbedaan profesi keduanya namun menjadi mitra untuk memajukan bangsa dalam bidang pendidikan. Dengan visi yang sama, “hidup harus mempunyai manfaat bagi lingkungan dan masyarakat”, Prof. Imam dan Prof. Valina menyampaikan pesan bahwa setiap individu yang bekerja keras, tekun, jujur, dan amanah, apa pun profesinya dapat mencapai hasil maksimal.

Prof. Imam mengatakan, “Saat masih menjadi mahasiswa, kami sama-sama aktivis di bidang kemahasiswaan dan oleh karena itu kami dipertemukan dan menjalin pertemanan hingga menjadi pasangan suami istri sampai saat ini. Walaupun profesi kami berbeda tetapi kami dapat menjadi mitra.” Prof. Imam menggambarkan Prof. Valina seorang wanita yang selalu memiliki usaha kuat untuk mencapai keinginannya serta memiliki minat tinggi di bidang sosial kemasyarakatan.

Sementara itu, bagi Prof. Valina, sang suami adalah dokter plus. “Bagi saya, Imam seorang ‘dokter plus’ yang artinya meskipun berprofesi menjadi dokter, tetapi memiliki wawasan yang luas mengenai perkembangan sosial kemasyarakatan, serta sangat kritis dalam mencermati isu-isu sosial politik,” ujarnya. (est)