Menkes: Tiga dari 10 Anak Indonesia Masih Stunting

11
Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek saat membuka ajang Indonesian Health Tech Innovation 2019.

Peningkatan daya saing industri farmasi dan alat kesehatan membutuhkan peran seluruh pemangku kepentingan dan regulasi yang berpihak kepada industri dalam negeri. Program kemandirian Kefarmasian dan Alat Kesehatan harus diperkuat dengan pengembangan industri dalam negeri yang berdaya saing.

Dibutuhkan antara lain regulasi yang berpihak kepada industri farmasi dan alat kesehatan dalam negeri untuk penguatan dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri. Demikian paparan Engko Sosialine Magdalene, Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, dalam ajang Indonesian Health Tech Innovation yang berlangsung dua hari di Jakarta, Selasa-Rabu (10-11/9/2019).

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kesehatan, Nila F. Moeloek, menyoroti urgensi hilirisasi inovasi dalam mendukung pembangunan kesehatan di Indonesia. Karena meski Indonesia sudah mampu memenuhi 72% kebutuhan di dalam negeri, hampir 90% bahan bakunya masih harus diimpor. Menkes pun mengakui masih banyak permasalahan dalam sistem kesehatan di Indonesia, meskipun indeks pembangunan kesehatan terus meningkat.

“Anggaran untuk kesehatan harus fokus dan tepat sasaran agar lebih banyak anggota masyarakat bisa merasakan dampaknya. Selama ini kami fokus pada layanan dasar serta kesehatan ibu dan bayi. Namun, kami tidak mungkin bekerja sendiri. Dalam kasus peningkatan kesehatan ibu dan bayi diperlukan kerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar calon ibu mendapat pendidikan memadai misalnya tentang pentingnya ASI (air susu ibu-Red) dan dengan Kementerian PUPR untuk menurunkan angka kematian ibu akibat tidak adanya akses air bersih dan sanitasi,” ujar Menkes.

Dalam masalah stunting, Menkes menyebut data tiga dari 10 anak Indonesia menderita stunting. Standar Badan Kesehatan Dunia (WHO), hanya dua dari 10 anak stunting. “Presiden Jokowi bahkan menekankan tidak boleh ada satu pun anak stunting di Indonesia. Seperti tikus mati di lumbung padi. Kami akan terus menerapkan program Indonesia Sehat dengan mendatangi warga dan terus menyebarkan edukasi tentang kesehatan. Seharusnya tidak boleh ada anak stunting di Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam,” katanya.

Kembali ke industri farmasi dan alat-alat kesehatan, Menkes menyebut Indonesia boleh berbangga karena sudah mampu mengimpor produk kesehatan hingga ke negara-negara Afrika selain Selandia Baru dan Australia. (est)