Keraton Yogyakarta, Kiblat Kebudayaan Jawa

106

sironline.id, Yogyakarta – Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat atau lebih dikenal dengan nama Keraton Yogyakarta. Tidak hanya menjadi tempat tinggal raja dan keluarganya, Keraton juga menjadi kiblat perkembangan budaya Jawa, sekaligus penjaga nyala kebudayaan.

Keraton Yogyakarta dibangun oleh Pangeran Mangkubumi pada tahun 1755. Meski sudah berusia ratusan tahun dan sempat rusak akibat gempa besar pada tahun 1867, bangunan Keraton Yogyakarta tetap berdiri dengan kokoh dan terawat dengan baik.

Mengunjungi Keraton Yogyakarta akan memberikan pengalaman yang berharga sekaligus mengesankan. Ada banyak hal yang bisa disaksikan di Keraton Yogyakarta, mulai dari aktivitas abdi dalem yang sedang melakukan tugasnya atau melihat koleksi barang-barang Keraton.

 Saya cukup beruntung, karena hari itu, tepatnya pukul 11.00, melihat iring-iringan lima orang Abdi Dalem Keparak (Abdi Dalem perempuan) yang bertugas menyiapkan teh. Rutinitas ini merupakan tradisi upacara minum teh harian yang dilakukan sejak sultan-sultan terdahulu, hingga sekarang.

Proses pembuatan minuman berlangsung dua kali dalam sehari, yakni pukul 6.00 pagi dan 11.00 siang. Proses ini diawali dengan menyiapkan perapian dan menimba air dari sumur Nyai Jalatunda. Air tersebut kemudian dimasak dalam ceret khusus yang terbuat dari tembaga. Bahan tembaga dipilih karena dipercaya bisa menjadi penetral air sekaligus penolak bala.

Setelah matang, air tersebut dipakai sebagai penyeduh teh untuk dibuat dekokanDekokan teh adalah seduhan teh sangat kental yang nantinya diencerkan dengan air putih saat dihidangkan. Dekokan didiamkan selama setengah jam tanpa diaduk. Setelah siap, setengah dari dekokan dipindahkan ke sebuah teko khusus untuk raja. Separuh sisanya akan diberikan pada Abdi Dalem Keparak yang bertugas sebagai icip-icip atau pencicip.

Semua ini dibawa oleh para Abdi Dalem Keparak yang bertugas. Jumlahnya lima orang, disesuaikan dengan kebutuhan. Empat orang dari mereka akan membawa perlengkapan yang terdiri dari satu set rampadan (perlengkapan minum) teh, satu set rampadan kopi, sebuah teko untuk air panas, dan sebuah teko khusus air putih yang biasa disebut klemukKlemuk ini berisi air yang didiamkan selama satu malam. Satu orang yang tersisa membawa payung untuk melindungi klemuk.

Penggunaan kelengkapan minuman, seperti teko, cangkir, nampan, dan sendok juga memiliki aturan sendiri. Tidak boleh sekehendak hati. Aturan yang kompleks ini sekilas memang tampak merepotkan. Namun semuanya memberi pembelajaran, bahwa minum teh tidak hanya sebatas melepas dahaga. Keraton Yogyakarta, menyiapkan dan menyajikan minuman merupakan sebuah prosesi. Di dalamnya terdapat seni, olah rasa, sarana legitimasi, juga pelestarian tradisi.

Selain itu, kita juga bisa melihar ragam koleksi di Keraton. Koleksi yang disimpan dalam kotak kaca yang tersebar di berbagai ruangan tersebut mulai dari keramik dan barang pecah belah, senjata, foto, miniatur dan replika, hingga aneka jenis batik beserta deorama proses pembuatannya. Selain itu, wisatawan juga bisa menikmati pertunjukan seni dengan jadwal berbeda-beda setiap harinya. Pertunjukan tersebut mulai dari macapat, wayang golek, wayang kulit, dan tari-tarian. (des)