Indonesia Tidak Pernah Dijajah, Benarkah?

612
Ki-Ka: Batara R. Hutagalung, Sejarawan Taufik Abduah, Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon, Diplomat Prof Makarim Wibisono dan Guru besar Universitas Hasanuddin Makassar Prof Marthen Napang dalam bedah buku Indonesia Tidak Pernah Dijajah karya di ruang Kura-kura I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (19/08/2019).

Sironline.id, Jakarta – 17 Agustus 1945 jadi tonggak kemerdekaan Indonesia yang berarti lepas dari penjajahan. Seperti tertulis dalam sejarah, Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun yang dilanjutkan Jepang menjajah Indonesia 3,5 tahun. Dengan kisah penjajahan yang ratusan tahun itu pula membuat stigma rakyat Indonesia bermental inlander (mental kaum terjajah).

Namun cerita sejarah Indonesia pernah dijajah itu coba diluruskan sejawan sejati, Batara R. Hutagalung. Dalam buku Indonesia Tidak Pernah Dijajah, Batara mengulas proses dibalik kemerdekaan yang diakui oleh bangsa Indonesia selama 74 tahun ini.

Menurutnya banyak fakta mengatakan bahwa Indonesia tidak pernah dijajah. Salah satu faktanya adalah Belanda masih tidak mengakui secara de jure kemerdekaan Republik Indonesia berdasarkan Proklamasi 17 Agustus 1945. Belanda hanya menyetujui sepenuh hati

“pemindahan kekuasaan” lewat Konferensi Meja Bundar dipenghujung 1949. Walaupun menurut Konvensi Montevideo 1933, tidak diperlukan pengakuan formal terhadap sebuah proklamasi kemerdekaan, namun ada implikasi yang besar dalam masalah ini.

Dengan tidak mengakui Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, maka dua kali agresi militer dilancarkan Kerajaan Belanda tahun 1947 dan 1948, bagi Belanda hanyalah aksi polisionial. Para pejuang kemerdekaan dianggap penjahat dan kelompok kriminal yang penyelesaiannya merupakan masalah dalam negeri Kerajaan Belanda di daerah koloninya Hindia Belanda.

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon mengapresiasi buku karya Batara ini. Menurutnya, buku tersebut layak didiskusikan untuk mengrikitisi peristiwa yang sebenarnya terjadi pada zaman penjajahan. Fadli juga ikut mempertanyakan, benarkah Indonesia dijajah selama 350 tahun?. Menurutnya, beberapa daerah dinilai tidak dijajah dalam kurun waktu selama itu.

“Apakah betul kita dijajah selama 350 tahun? Atau hanya di Batavia saja? Aceh sekitar 40 tahun. Sumatera Barat 80 tahun,” ujarnya pada acara bedah buku Indonesia Tidak Pernah Dijajah, di ruang Kura-kura I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (19/08/2019).

“Kita perlu memikirkan kembali re-writing history Indonesia karena sejarah kita dipengaruhi oleh Belanda. Dan termasuk Indonesia tidak pernah dijajah karena yang dijajah kesultanan-kesultanan itu, belum menjadi Indonesia,” tambah politikus Gerindra  itu.

Batara menjelaskan pengertian formal negara, ada fakta menarik yang harus kita ketahui mengenai sejarah. Ia mengatakan Negara Kesatuan Republik Indonesia belum pernah dijajah. Akan tetapi, yang pernah dijajah demikian lama adalah kerajaan-kerajaan lokal, besar, dan kecil yang telah lama ada sebelumnya. “Sejak tahun 1945 kita tidak pernah dijajah,” jelasnya.

Batara mengatakan bagaimana mungkin Negara sekecil Belanda dengan jumlah penduduk yang  sedikit bisa menguasai Indonesia. Faktanya, Belanda tidak langsung menduduki Indonesia secara bersamaan, melainkan mengalahkan kerajaan demi kerajaan, daerah demi daerah dengan strategi politik pecah belah (devide et impera).

“Bagaimana Indonesia dengan yang berjumlah 67 juta jiwa dijajah Belanda yang berpenduduk 100 ribu jiwa. Karena itu saya sampaikan pelurusan teori lama sejarah yang menyebut Indonesia dijajah 350 tahun, padahal tidak ada data sahihnya. Faktanya dari bukti-bukti otentik Indonesia tidak pernah dijajah.  Kita ini bangsa pemenang, bukan inlander, seperti stigma yang ditanamkan pada generasi penerus bangsa ini,” terangnya.

Lebih lanjut Batara mengatakan, setelah sekian lama daerah demi daerah dikuasai Belanda, yang menyadarkan para pemuda dari seluruh daerah unutk bersatu dalam Sumpah Pemuda.

“Inilah cikal bakal bangsa Indonesia, yakni kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.  Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia,” tambahnya.

Pasca para pemuda bersatu, sekutu Belanda pun tak bisa mengalahkan Tentara Nasional Indonesia hingga ke Konferensi Meja Bundar (KMB). “Maka dari itu, cara satu satunya menguasai Indonesia harus dipecah belah. Hati-hati kita saat ini sedang dipecah belah dan adu domba. Dulu rakyat dipecah belah dengan paham komunis, lalu dipecah belah dengan konflik antar agama,” ujarnya.

“Sekarang diadu domba antar agama. Ini saya peringatkan. Devide  et impera. Satu-satunya menguasai Indoensia. Dipecah dulu dengan berbagai macam cara. Jika kita ingin wariskan indoensia. Maka kita harus bersatu guna menjadi bangsa pemenang,” pungkasnya. (D. Ramdani)