Rupiah Paling Lemah di Antara Mata Uang Asia

12

sironline.id, Jakarta – Rupiah semakin melemah di awal perdagangan Jumat (2/8/2019). Dilansir dari Bloomberg Dollar Index, Jumat(2/8/2019) pukul 08.57 WIB, Rupiah pada perdagangan spot exchange melemah 81 poin atau 0,58% ke Rp14.197 per USD. Hari ini, Rupiah bergerak di kisaran Rp14.179-Rp14.197 per USD.

YahooFinance mencatat Rupiah melemah 17 poin atau 0,12% ke Rp14.110 per USD. Rupiah bergerak di kisaran Rp14.093 per USD-Rp14.110 per USD.

Sebenarnya, kurs dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap beberapa mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), karena para pelaku pasar memilah serangkaian data ekonomi suram terbaru.

Dilansir dari Bloomberg Dollar Index, Jumat(2/8/2019) pukul 08.57 WIB, Rupiah pada perdagangan spot exchange melemah 81 poin atau 0,58% ke Rp14.197 per USD. Hari ini, Rupiah bergerak di kisaran Rp14.179-Rp14.197 per USD.

Rupiah mengalami penurunan paling dalam se-Asia. Pergerakan mata uang utama Asia terbilang bervariasi terhadap dolar AS. Terdapat mata uang yang menguat seperti dolar Hong Kong sebesar 0,09 persen, dolar Singapura sebesar 0,12 persen, dan yen Jepang sebesar 0,21 persen.

Kemudian, terdapat pula mata uang Asia yang melemah, seperti ringgit Malaysia 0,2 persen, won Korea Selatan sebesar 0,36 persen, dan peso Filipina sebesar 0,24 persen. Di sisi lain, baht Thailand tidak menunjukkan pergerakan terhadap dolar AS.

Sementara itu, mata uang negara maju menguat terhadap dolar AS. Euro menguat 0,04 persen, poundsterling Inggris menguat 0,08 persen, dan dolar Australia menguat 0,14 persen.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan pada Juli 2019 terjadi inflasi sebesar 0,31% (month to month/mtm). Realisasi ini lebih terkendali dibandingkan Juni 2019 yang sebesar 0,55%.

Adapun inflasi tahun kalender Januari-Juli 2019 sebesar 2,36% (year to date/ytd). Sementara, inflasi tahunan Juli 2019 sebesar 3,32% (year on year/yoy). “Jadi dengan inflasi Juli 2019 secara tahunan masih di bawah target pemerintah yang 3,5%, sehingga ini masih cukup terkendali,” ujar Kepala BPS Suhariyanto. (eka)