Pentingnya Komunikasi Dua Arah dalam Edukasi Seksual

16

 

Teman sebaya dan internet merupakan sumber paling nyaman bagi anak-anak dan remaja Indonesia untuk mendapatkan informasi seputar kesehatan seksual. Padahal, belum tentu informasi tersebut benar dan bisa dipercaya. Demikian hasil survei daring (survei secara online) terhadap 5.000 responden di lima kota besar di Indonesia, terdiri atas remaja serta pasangan yang baru menikah yang dilakukan Reckitt Benckiser Indonesia.

Didasari keprihatinan pada hasil survei, mereka menggelar kampanye edukasi kesehatan seksual Eduka5eks di Jakarta, Kamis (18/7/2019). Kampanye bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Indonesia tentang kesehatan seksual dan organ reproduksi.

Dalam kesempatan tersebut, Inez Kristanti, M.Psi., pakar psikologi klinis dari Klinik Angsamerah, menyatakan bahwa memberikan edukasi kesehatan seksual kepada anak tidak bisa dilakukan sembarangan. Dalam pemberian edukasi kesehatan seksual, orangtua tidak bisa melakukannya dengan komunikasi satu arah seperti melarang, menyuruh, atau memerintah.

Inez Kristanti, MPsi, psikolog dari Klinik Angsamerah.

“Kesalahan orangtua itu komunikasi satu arah, anak dibilang nggak boleh begini, nggak boleh begitu, dilarang-larang, ini nggak efektif. Agar pemberian edukasi bisa diserap dengan baik oleh anak, komunikasi yang dijalin harus dua arah,” ujar Inez, panggilannya.

Inez menjelaskan, komunikasi dua arah membuat anak paham alasan orangtuanya memberikan edukasi tersebut. “Jadi anak bukan cuma dilarang, tetapi diberi informasi secara lengkap. Sebabnya, kesehatan seksual itu luas banget, bukan cuma sebatas hubungan seks, tetapi termasuk juga organ kelamin, penyakit menular seksual, citra tubuh, dan lain-lain,” paparnya.

Pemberian edukasi juga sebaiknya dimulai sejak dini. Misalnya saat anak berusia dua tahun, orangtua mengenalkan nama organ kelamin dan fungsinya. Dengan begitu, obrolan seputar kesehatan seksual tak lagi jadi hal tabu dan canggung untuk dibicarakan.

Jika anak baru diedukasi kesehatan seksual di usia remaja, bisa jadi ia canggung untuk membicarakannya dengan orangtua. “Jadi dibiasakan dari kecil, misalnya dengan menyebut nama organ kelamin sebagai penis dan vagina. Kalau baru diajak ngobrol saat sudah usia remaja, ujuk-ujuk begitu saja, komunikasi dua arah tidak terjalin karena tidak ada rasa percaya dari anak kepada orangtuanya,” tuturnya.

Kondisi demikian membuat remaja merasa canggung, dan akhirnya memilih mencari informasi dari teman sebaya atau internet yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Inez menjabarkan lima langkah meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan seksual dan organ reproduksi. Pertama, ayo pahami, yakni bersikap terbuka untuk memperoleh  lebih banyak informasi tentang kesehatan seksual dan organ reproduksi. Kedua, mari bicara, yakni berani untuk memulai percakapan. Ketiga, saling menghargai, terutama menghargai pendapat dan keputusan orang lain. Keempat, selalu bertanggung jawab, yakni bertanggung jawab atas diri sendiri, pasangan, dan keluarga. Kelima, pemeriksaan kesehatan, rutin melakukan pemeriksaan kesehatan organ reproduksi. (Est)