Orangtua Harus Peka dengan Perubahan Perilaku Anaknya

10
Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ, orangtua sebaiknya sensitif dengan perubahan perilaku anak.

 

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), yang disebut remaja adalah penduduk berusia 10 sampai 19 tahun. WHO juga memasukkan remaja ke dalam golongan usia muda yang batasannya adalah antara 10 sampai 24 tahun. Pada masa remaja terjadi perubahan maturitas fisik menuju dewasa, terutama organ reproduksi, disertai perubahan mental dan sosial.

Data WHO Global Estimates 2017 menunjukkan, kematian global akibat bunuh diri tertinggi di usia 20 tahun, terutama di negara yang berpenghasilan rendah dan menengah. Pada 2016 WHO mencatat kematian pada remaja laki-laki usia 15-19 tahun disebabkan kecelakaan lalu lintas, kekerasan interpersonal, dan menyakiti diri sendiri, sementara pada perempuan disebabkan oleh kondisi maternal dan menyakiti diri sendiri.

WHO menyoroti bahwa banyak negara gagal melakukan perhitungan akurat tentang jumlah kasus bunuh diri karena tidak mempunyai sistem pencatatan data bunuh diri secara nasional. Padahal, pada 2012 diperkirakan terdapat 804.000 kematian akibat bunuh diri di seluruh dunia. Angka tersebut didapat dari Suicide Mortality Rate atau angka kematian akibat bunuh diri per 100.000 penduduk.

Di Indonesia, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menuliskan sampel populasi usia 15 tahun ke atas sebanyak 722.329, prevalensi keinginan bunuh diri sebesar 0,8% pada laki-laki dan 0,6% pada perempuan. Keinginan bunuh diri lebih banyak terjadi di daerah perkotaan daripada di desa. Masih kuatnya stigma negatif membuat hingga kini Indonesia tidak memiliki angka pasti kejadian bunuh diri, terutama di kalangan remaja.

“Dalam penelitian saya pada 2015-2016 bersama Direktorat P2MKJN Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dari 1.014 sampel ditemukan 19% memiliki ide bunuh diri tetapi tidak melakukan, dan 1% yang serius ingin melakukan bunuh diri. Data 2015 berdasar penelitian Global School-Based Student Health Survey (GSHS) dengan jumlah responden 10.837 pelajar SMP dan SMA, hasilnya 5,2% memiliki ide bunuh diri, 5,5% sudah memiliki rencana bunuh diri, dan 3,9% sudah melakukan percobaan bunuh diri,” kata Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ, di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), Depok, kepada media, Kamis (11/7/2019).

Ditambahkan perempuan cantik ini, ide, ancaman dan percobaan bunuh diri merupakan kondisi serius yang harus segera ditangani sehingga dibutuhkan langkah preventif untuk menurunkan angka kejadiannya. Pada remaja, salah satu upaya penting adalah deteksi dini, yang bertujuan untuk menemukan faktor risiko penyebab bunuh diri.

Beberapa faktor risiko alasan remaja memiliki ide bunuh diri adalah pola pikir abstrak yang menimbulkan perilaku risk-taker, transmisi genetik yang dapat menimbulkan sifat agresif dan impulsif, memiliki riwayat gangguan jiwa lain, lingkungan sosial yang tidak mendukung, dan penyalahgunaan akses internet.

Perhatikan 3P

Hasil penelitian yang dituangkan dalam disertasinya yang berjudul “Deteksi Dini Faktor Risiko Ide Bunuh Dini Rmaja di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas/Sederajat di DKI Jakarta”, pelajar yang terdeteksi berisiko bunuh diri memiliki risiko 5,39 kali lebih besar untuk mempunyai ide bunuh diri dibandingkan pelajar yang tidak terdeteksi berisiko bunuh diri setelah dilakukan kontrol terhadap kovariat: umur, sekolah, gender, pendidikan ayah, pekerjaan ayah, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, status cerai orangtua, etnis, keberadaan ayah, keberadaan ibu, kepercayaan agama, depresi, dan stresor.

“Bunuh diri itu merupakan output. Sebelum itu terjadi, ada proses yang seharusnya bisa dihentikan, terutama di lingkungan terdekatnya, dalam hal ini keluarga atau sekolah. Karena itu, orangtua diharapkan bisa proaktif apa yang terjadi dengan kondisi kejiwaan anak remajanya. Perhatikan perubahan 3P: pikiran, perasaan, dan perilaku anak. Perhatikan kebiasaan anak, misalnya biasa mandi tiga kali sehari jadi malas mandi, dan lain-lain. Kalau misalnya sudah curiga ada perubahan, segera konsultasi ke psikolog,” tuturnya. (Est)